Minggu, 10 Mei 2026

APD Buatan Indonesia Laris Manis, Pesanan Datang Dari Sejumlah Negara Dari 4 Benua

Pan Brothers adalah perusahana go public dengan kode saham di bursa PBRX, perusahaan garmen kualitas internasional, juga memproduksi APD.

Tayang:
Editor: Eko Setiawan
Tribunnews.com
Ilustrasi sejumlah pekerja menyelesaikan pesanan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) di Elly Konveksi, Gunter, Tanjungkarang Barat, Minggu (5/4/2020). 

Pakaian hazmat biasanya digunakan oleh pemadam kebakaran, teknisi medis darurat, paramedis, peneliti, petugas yang bereaksi atas kebocoran material berbahaya, tenaga ahli yang membersihkan daerah terkontaminasi, dan pekerja di lingkungan yang beracun.

Menyangkut kualitas, dibandingkan dengan produk dari negara lain, masker buatan Pan Brothers seperti apa?

Indonesia, saya pikir, sudah sangat maju untuk industri tekstil. Tidak terkecuali untuk Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker.  Hal itu terbukti dari tingginya permintaan dari negara-negara maju ke perusahaan kami Pan Brothers.

Hanya saja tinggal keterbukaan dari pemerintah ke masyarakat. Bagaimana kualitas medical grade buatan anak bangsa dibanding dengan buatan luar? Kalau ditanya soal kapasitas produksi juga saya yakin Indonesia sanggup memproduksi sebanyak mungkin.

Jadi hanya tinggal keterbukaan informasi dari pemerintah saja mengenai kualitas APD anak bangsa. Dalam artian, berapa sebetulnya permintaan riil. Jangan-jangan nanti, kami mengembangkan usaha, tetapi permintaan tidak tepat.

Bagaimana soal ketersediaa bahan baku?

Kalau soal ketersediaan benang dan kain, Indonesia sudah sangat cukup untuk kapasitas produksi dalam negeri. Hanya cairan kimianya, dan Cotton Rolls, kapas, kita masih butuh impor dari negara lain.

Jadi sebenarnya Indonesia tidak perlu impor masker?

Tentu saja untuk soal kuantias dan kualitas kita, Indonesia mampu memproduksi APD sendiri. Kualitas kita juga sudah diakui negara lain dan dapat bersaing dengan masker dari negara-negara maju

Sebagai pengusaha nasional, dan memimpin puluhan perusahaan denagn pekerja 38 ribu, tentu bukan persoalan mudah. Anda belakangan ini pasti sangat sibuk ya mempersiapkan pesanan dari banyak negara? Bagaimana mengatur keseimbangan waktu wanita karier dengan seorang ibu?

Sejak Covid-19, hidup saya sudah tidak bisa lagi seimbang, seperti dulu. Kalau dulu keluarga, olahraga, dan pekerjaan itu dapat porsi yang sama.  Namun sejak wabah ini saya lebih perbanyak fokus di pekerjaan. Karena wabah ini memang hanya dapat dihadapi dengan cara kerjasama dan disiplin. Tanpa itu kita tidak akan bisa menghalau kenaikan kurva penularan Covid-19.

Ada komplain dari keluarga karena sibuk urusi bisnis yang terlibat dalam penanganan Covid-19?

Kalau anak-anak saya kebetulan sudah dewasa semua. Anak saya dua, ada yang umur 20 tahun dan 22 tahun. Keduanya sekolah di Amerika Serikat. Jadi kami lebih sering berkomunikasi dengan menggunkan teknologi.  Sejauh ini anak-anak dan suami saya mengerti dengan kesibukan saya. Karena kesibukan saya bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan banyak orang.

Apa hikmah yang anda dapat dari wabah virus Corona ini?

Sejak terjadi di Wuhan, Hubei, China saya berpikir bahwa ini suatu peringatan dari Tuhan.  Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa hidup ini bukan hanya soal uang dan karir. Namun hidup juga harus memberikan legacy nyata untuk sesama manusia.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved