VIRUS CORONA DI INGGRIS
Sumbang 250 Juta Poundsterling, Inggris Bantu Percepat Penemuan Vaksin Covid-19
Inggris menyumbang 250 juta Poundsterling kepada Centre for Epidemic Preparedness Innovations sebagai salah satu usaha untuk menemukan vaksin Covid-19
TRIBUNBATAM.id, LONDON - Wabah virus Corona atau Covid-19 yang mendunia, memancing sejumlah negara berlomba menciptakan vaksin untuk pengobatan.
Sebut saja Inggris yang menjadikan vaksin Covid-19 sebagai salah satu perhatian utama di tengah wabah ini.
Baru-baru ini, Inggris bahkan menyumbang 250 juta Poundsterling kepada Centre for Epidemic Preparedness Innovations.
Dana ini nantinya dipakai untuk penelitian internasional dalam upaya global menemukan vaksin virus Corona (Covid-19).
Menteri Luar Negeri, (Menlu) Inggris, Dominic Raab, dalam keterangannya Selasa (28/4/2020) mengatakan Inggris telah menjadi salah satu pendonor terbesar untuk respon global terhadap Covid-19.
Inggris akan memastikan masyarakat dunia memiliki akses yang sama untuk vaksin dan perawatan virus Corona serta meningkatkan pasokan vaksin secara global, setelah disetujui penggunaannya, guna membantu mencegah datangnya gelombang kedua wabah Covid-19.
• Kebun Binatang di Inggris Nyaris Bangkrut Akibat Covid-19, Bangkit Usai Banjir Donasi
Inisiatif ini juga salah satu pendukung terbesar badan kesehatan dunia (WHO) dan aliansi Vaksin Global (GAVI) yang mendistribusikan vaksin di negara-negara termiskin.
“Kami bangga untuk mendukung Ajakan Aksi WHO untuk menyatukan para mitra kesehatan global dalam mempercepat kemajuan penemuan vaksin untuk memerangi Covid-19” ujar Raab dalam keterangannya.
Pada hari Jumat, 24 April lalu pemimpin dari negara-negara dunia termasuk Perancis, Afrika Selatan, Italia, Jerman dan Malaysia serta WHO bergabung dengan Inggris dalam menegaskan komitmen untuk “Kesepakatan Akses – COV baru”.
Ini adalah perjanjian global yang belum pernah terjadi sebelumnya antara organisasi kesehatan internasional dan negara-negara dunia.
Ide ini dicetuskan Inggris pada pertemuan G20 bulan lalu, yang menyerukan agar negara-negara bekerja sama dalam memerangi Covid-19.
Hal tersebut menyusul seruan dari Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson tentang pentingnya kerjasama global dalam melawan pandemi.
“Keahlian dan pendanaan Inggris adalah upaya terdepan kami dalam menemukan vaksin dan perawatan virus Corona, yang akan menyelamatkan nyawa di Inggris dan di seluruh dunia,” ujar Menteri Inggris untuk Pembangunan Internasional, Anne-Marie Trevelyan dalam keterangannya.
Ilmuwan Inggris di Universitas Oxford dan Imperial College London juga memimpin upaya untuk mengembangkan vaksin Covid-19.
Uji coba vaksin kepada manusia dimulai minggu ini di Oxford.
Pemerintah Inggris telah memberikan dana 42,5 juta Poundsterling untuk mendukung uji klinis di kedua institusi tersebut.
Inggris dan Jerman Kembangkan Vaksin Covid-19, Peluang Berhasil 80 Persen, Uji Coba ke Manusia
Kabar baik ditengah wabah virus Corona atau Covid-19 datang dari benua Eropa.
Inggri dan Jerman diketahui saling berlomba untuk mengembangkan vaksin Covid-19.
Bahkan mulai pekan ini, keduanya sudah mulai mengujikan vaksin Covid-19 ke manusia.
Sekarang ada sekira 150 proyek pembangunan di seluruh dunia.
Mengutip dari France24, rencana Jerman dan Inggris hanya di antara lima negara yang melakukan uji klinis pada manusia dan telah disetujui di seluruh dunia.
Lebih lanjut, di Inggris, sukarelawan dalam percobaan di Universitas Oxford akan diberikan dosis pertama vaksin potensial berdasarkan virus yang ditemukan pada simpanse, Kamis (23/4/2020).
Sementara itu pada Rabu (22/4/2020), Badan Pengawas Jerman (PEI) memberikan lampu hijau percobaan pertama negara itu pada sukarelawan manusia.
Mereka akan menerima vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Jerman Biontech dan raksasa AS Pfizer.
Uji coba Oxford, yang dijalankan oleh Jenner Institute University, melibatkan 510 sukarelawan berusia antara 18 dan 55 pada fase pertama.
Peluang Berhasil 80 Persen
Lebih jauh, Direktur Penelitian, Profesor Sarah Gilbert memperkirakan, peluangnya untuk berhasil 80 persen.
Lembaga tersebut bertujuan mengembangkan satu juta dosis vaksin pada September 2020.
Mereka berharap dapat mendistribusikannya secepat mungkin setelah persetujuan.
Sementara itu, PEI mengatakan, persetujuannya atas uji coba Biontech menandai "langkah signifikan" dalam membuat vaksin "tersedia sesegera mungkin".
Pada fase pertama, akan terlihat 200 sukarelawan sehat berusia antara 18 dan 55 tahun.
Sukarelawan tersebut divaksinasi dengan varian vaksin.
Sementara fase kedua, untuk melihat masuknya sukarelawan yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi.
Pada Rabu, CEO Biontech Ugur Sahin mengatakan pada konferensi pers, tes akan dimulai pada akhir April 2020.
Dia menambahkan, perusahaan diharapkan mengumpulkan data pertama pada akhir Juni atau awal Juli.
Biontech juga mengatakan, mereka dan Pfizer berharap untuk segera mendapatkan persetujuan regulator lalu menguji kandidat vaksin yang sama di AS.
"Uji klinis lebih lanjut dari kandidat vaksin Covid-19 akan dimulai di Jerman dalam beberapa bulan ke depan," ungkap pihak PEI.
Kata Sekjen PBB
Para ahli memperkirakan, dibutuhkan setidaknya 12 hingga 18 bulan untuk mengembangkan vaksin baru.
Pekan lalu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, vaksin adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan kehidupan menjadi 'normal.
Guterres juga menyerukan agar proyek-proyek pembangunan dipercepat.
Resolusi PBB yang diadopsi pad Senin (20/4/2020), juga menyerukan akses merata, efisien dan tepat waktu terkait vaksin apa pun yang mungkin dikembangkan.
Selain dari Biontech dan Oxford, tiga uji klinis lain pada manusia telah disetujui di seluruh dunia sejak pertengahan Maret 2020.
Pengembang China dan AS di antara yang pertama bergerak untuk kandidat vaksin.
Kandidat Vaksin yang Dikembangkan
Lebih lanjut, Beijing menyetujui uji coba pertama untuk vaksin yang dikembangkan oleh Akademi Ilmu Kedokteran Militer.
Uji coba tersebut didukung militer dan perusahaan bioteknologi yang terdaftar di Hong Kong, CanSino Bio pada 16 Maret.
Pengembang obat AS Moderna mengatakan, telah memulai tes manusia untuk vaksin mereka dengan Institut Kesehatan Nasional AS.
Laboratorium AS lainnya, Inovio Pharmaceuticals yang berbasis di San Diego, memulai uji coba manusia tahap pertama pada 6 April 2020.
Sementara Biontech memuji apa yang disebutnya "program pembangunan global" pada Rabu (22/4/2020), pencarian vaksin juga telah menjadi penyebab gesekan antar negara.
Bulan lalu sebuah laporan surat kabar menuduh, AS telah berusaha membeli hak eksklusif untuk penelitian vaksin yang dilakukan oleh CureVac, perusahaan Jerman lainnya.
Meskipun CureVac dan pejabat AS menolaknya sebagai tidak berdasar.
Laporan surat kabar tersebut menyebabkan kemarahan di Berlin, dan mendorong Menteri Ekonomi Peter Altmaier.
Belum Ada Kandidat Vaksin yang Disetujui
Sebagai catatan, saat ini belum ada vaksin atau obat yang disetujui untuk penyakit Covid-19.
virus Corona telah menewaskan lebih dari 170.000 orang di seluruh dunia dan menginfeksi lebih dari dua juta.
(*)
• Sembuh dari Covid-19, PM Inggris Boris Johnson Kembali Bekerja Mulai Hari ini (27/4)
• Jadi Sosok Inspiratif, Begini Kisah Saudara Kembar Asal Inggris Meninggal Akibat Covid-19
• Dampak Covid-19, Komunitas Muslim Terbesar di Inggris Akan Buka Puasa Bersama Secara Virtual
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bantu Percepat Penemuan Vaksin virus Corona, Inggris Sumbang 250 Juta Poundsterling.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/15-3-2020-vaksin.jpg)