Senin, 8 Juni 2026

Tragedi Terbaru Pengungsi Rohingya, Kabur Pakai Kapal Kayu dan Terombang Ambing di Laut

Pemerintah sipil Myanmar dibawah pemimpim interim, Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian 1991 itu tetap tak bergeming melihat kondisi pengungsi R

Tayang:
Editor: Eko Setiawan
AFP/File
Sebuah kapal penangkap ikan dengan penumpang pengungsi Rohingya terdampar di sebuah pulau Bangladesh, Sabtu 

TRIBUNBATAM.id, DHAKA – Semakin bayak kelompok Rohingya yang melarikan diri untuk mengungsi.

Pemerintah sipil Myanmar dibawah pemimpim interim, Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian 1991 itu  tetap tak bergeming melihat kondisi pengungsi Rohingya.

Bahkan, makin banyak larinya etnis Rohingya dari negara bagian Rakhine, Myanmar  yang kaya migas dan bahan tambang.

Mengenal EVALI, Cedera Paru-paru Akibat Penggunaan Vape, Banyak Pengguna Vape yang Tak Tahu

Mahasiswa Jerman Asal Indramayu Hilang Saat Tiba di Bandara Soeta, Hilang Kontak Sejak 2 Bulan Lalu

Ibu dan Anak Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumah, Padahal Pintu Terkunci Dari Dalam

Dalam tragedi terbaru bagi kelompok Rohingya yang disebut Bengali oleh penduduk Myanmar terjadi pada Sabtu (2/5/2020).

Dilaporkan, sebanyak 29 pengungsi Rohingya dari sebuah kapal penangkap ikan yang mengambang selama berminggu-minggu di Teluk Bengal mendarat di sebuah pulau di Bangladesh selatan, kata para pejabat, Minggu (3/5/202020.

Para pengungsi, termasuk 15 wanita dan enam anak-anak, mendarat di Pulau Bhasan Char pada Sabtu (2/5/2020).

Mereka diyakini berasal dari salah satu dari beberapa kapal yang terjebak di laut, kata Tonmoy Das, Kepala Distrik Noakhali, Bangladesh.

Penjualan Obat dan Kosmetik via Online Kian Marak, Ini Seruan Ketua Balai POM di Batam

Penjualan Obat dan Kosmetik via Online Kian Marak, Ini Seruan Ketua Balai POM di Batam

Das mengatakan bahan makanan, dokter, dan 10 polisi dikirim ke pulau itu untuk membatu para pengungsi.

Seorang pejabat dari kantor Pengungsi Bangladesh di Distrik Bazar Cox mengatakan mengetahui perkembangan itu.

Pejabat itu berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang berbicara kepada media.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan ratusan orang Rohingya terdampar di setidaknya dua pukat ikan antara Bangladesh dan Malaysia.

Para pengungsi dilaporkan berusaha mencapai Malaysia secara ilegal, tetapi gagal karena patroli yang ketat untuk mencegah wabah virus Corona.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pemerintah Inggris dan Human Rights Watch (HRW) baru-baru ini mendesak Bangladesh untuk melindungi semua pengungsi yang mengambang di laut.

Tetapi pemerintah Bangladesh hanya merespon seadanya dengan alasan semua negara lain di kawasan Teluk Bengal juga harus berbagi tanggungjawab melindungi mereka. .

Bhasan Char sebelumnya terendam banjir.

Tetapi pemerintah Bangladesh pada Januari 2020 mengatakan siap menampung hingga 100.000 pengungsi Rohingya dari kamp-kamp yang ramai dan jorok tempat di Cox's Bazar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved