Sabtu, 13 Juni 2026

OPINI

Anomali Millennial Itu Bernama Didi Kempot

Anomali adalah ruang kosong yang disisakan oleh mekanisme alam. Anomali teragung dalam sejarah manusia adalah kelahiran Nabi Isa.

Tayang:
ISTIMEWA
Rossi Kompas TV bersama Didi Kempot 

Didi Kempot di Era 90an

Popularitas Didi Kempot setahun belakangan adalah anomali dunia hiburan. Didi .Kempot yang lahir tahun 1966 adalah seniman lawas. Sedikit di bawah Iwan Fals dan Doel Sumbang. Dia generasi 90 an.

Didi Kempot memiliki kemiripan dengan Doel Sumbang dalam bermusik. Keduanya bergenre etnik. Didi Kempot ber-genre Pop Jawa sedangkan Doel Sumbang bergenre Pop Sunda.

Di era 90 an, Didi Kempot kalah bersaing dengan Doel Sumbang. Lagu Cidro milik Didi Kempot diciptakan bersamaan dengan lagu “Kalau Bulan Bisa Ngomong”-nya Doel Sumbang.

Orang Indonesia yang berusia remaja di tahun 90-an pasti akrab dengan lagu ini. Doel Sumbang berhasil mengadaptasi lagu Pop Sundanya menjadi selera nusantara, dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Orang Makassar seperti saya pun menyenangi unsur Sunda dalam lagu Pop Doel Sumbang. Apalagi di era 90 an, musik tanah air dikuasai oleh genre pop dan rock. Dewa 19, Slank, Gigi dan band berbasis rok adalah raja musik tanah air.

Siapa generasi 90 an yang akrab dengan lagu Cidro-nya Didi Kempot, kala itu? Saya tidak. Lagu ini mungkin saja populer di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di Solo. Tetapi tidak secara nasional, sebagaimana lagu pop Sunda Doel Sumbang. Didi Kempot kala itu seperti Iwan Tompo. Sangat terkenal di Sulawesi Selatan tetapi secara nasional, tidak.

Namun, siapa yang menduga, 30 tahun kemudian lagu Cidro meledak. Viewers video re-make lagu Cidro di You tube sudah mencapai 21 juta.

Lagu Cidro meledak di saat lagu dari era 90 an tenggelam dan hanya sesekali ditampilkan dalam ajang pencarian bakat. Itupun dengan aransemen yang dibuat sesuai dengan citarasa milenial.

Tetapi lagu Cidro ini masih dengan versi asli, dengan penyanyi yang sama. Meledak! Didi Kempot mendapatkan popularitas besar di kalangan generasi milenial, menyusul lagu Ambyar. Segera setelah itu, Didi Kempot didaulat sebagai Lord of Broken Heart.

Terlahir Kembali

Didi Kempot mendapatkan popularitas besar, di masa yang anomali. Di saat musisi segenerasinya sudah tenggelam, Didi Kempot justru seperti terlahir kembali.

Popularitas yang melangit itu datang dari sebuah konser kecil di Solo, medio tahun 2019. Didi menyanyikan lagu Cidro. Penampilannya diresonansi di media sosial. Entah kenapa, Didi Kempot tiba-tiba viral dan menjadi arus baru musik. Penggemarnya mulai banyak. Mereka kemudian mengkonsolidasi diri melalui fans club yang dinamakan “Sobat Ambyar”. Didi adalah Lord. Dia bukan teman, tetapi dewa.

Didi Kempot sejatinya bukanlah sosok yang ‘tepat’ untuk dijadikan idola milenial. Dia sudah berumur, tidak tampan, dan musik yang dibawanya bukan selera anak muda. Lagu Cidro adalah lagu jadul. Tetapi, alam dengan segala otoritasnya menjatuhkan pilihan nasib baik kepada Didi Kempot untuk menjadi idola. Menarik bukan?

Sebelumnya, kita mengenal Mbah Surip. Yang tiba-tiba begitu saja terkenal dan menjadi idola anak-anak muda, hanya dengan satu lagu saja Bangun Tidur. Ada juga Briptu Norman, Duo Keong Racun. Semuanya anomali. Datang dengan cara mengejutkan, tidak terprediksi, tetapi kita menerimanya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved