Masyarakat Cemaskan Dampak Ekonomi akibat Covid-19 Ketimbang Masalah Kesehatan
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, masyarakat kini lebih cemas pandemi Corona berdampak pada ekonomi ketimbang berdampak pada kesehatan.
TRIBUNBATAM.id, JAKARTA- Pandemi virus Corona terjadi hampir di seluruh negara.
Tak hanya berpengaruh pada kesehatan, virus Corona memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Termasuk dampak ekonomi yang kini dirasakan.
Saat ini, masyarakat ternyata lebih cemas pandemi Corona berdampak pada ekonomi ketimbang berdampak pada kesehatan.
Hal ini terangkum dari hasil survei yang dilakukan Lembaga Riset LSI Denny JA menggelar survei kualitatif mengenai kecemasan publik terhadap pandemi Covid 19.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, masyarakat kini lebih cemas pandemi Corona berdampak pada ekonomi ketimbang berdampak pada kesehatan.
• Berikut Syarat Pelaksanaan Kurban Idul Adha 1441 Hijriah Selama Pandemi Virus Corona
• Dua Tukang Cukur Positif Covid-19, Ini Nasib 140 Pelanggan Salon yang Terpapar Virus Corona
Riset tersebut menggunakan metode kualitatif dengan kajian data data sekunder yakni Gallup Poll, Voxpopuli center, dan riset eksperimental oleh Denny JA dan Eriyanto.
Menurut Rully pada awal Maret atau setelah WHO mengumumkan pandemi, masyarakat lebih cemas bila virus Corona akan menyerang kesehatan.
Saat itu 118 ribu warga di 118 negara dinyatakan terjangkit virus dengan angka kematian mencapai 4 ribu orang.
"Apalagi disebutkan bahwa penyebaran virus Corona lebih cepat menular ketimbang dua pandemi sebelumnya yakni SARS dan Mers. Itu menyebabkan masyarakat lebih khawatir dengan kesehatannya," kata Rully.
Ketika WHO sudah menyatakan Pandemi, negara -negara di dunia kemudian mengeluarkan kebijakan mulai dari yang berat yakni karantina atau lockdown, hingga pembatasan sebagian aktivitas.
• PENYEBAB Rambut Beruban Meski Masih Muda, Bisa Karena Faktor Keturunan hingga Stres
• Gara-gara Utang Rp 15 Juta, Pria di Pasuruan Disekap dan Dianiaya di Mobil hingga Dibuang
Misalnya Italia yang menerapkan Lockdown, sementara Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
"Lockdown menjadi kebijakan populis, karena didukung data berkontribusi positif dalam penurunan penyebaran, selain anjuran pakar kesehatan, juga kebijakan itu menjawab pertanyaan mengenai virus itu," katanya.
Namun, pembatasan-pembatasan membuat pertumbuhan ekonomi merosot karena perputaran roda ekonomi menurun.
Tidak semua industri bisa melakukan pekerjaan dari rumah.