Transit di Singapura? Bandara Changi Gunakan Sensor Jarak hingga Sistem Biometrik Pengenal Wajah
Beragam protokol kesehatan diberlakukan Bandara Changi di Singapura usai mengumumkan membuka kembali transit di negaranya. Berikut ini diantaranya.
TRIBUNBATAM.id, SINGAPURA - Beragam protokol kesehatan diberlakukan Bandara Changi di Singapura usai mengumumkan membuka kembali transit di negaranya.
Tentunya Bandara Changi mengutamakan kenyamanan dan keamanan para calon penumpang.
Mereka tampak mulai mengubah beberapa sistem menjelang New Normal.
Langkah-langkah ini akan diluncurkan di seluruh bagian bandara sebagai persiapan ketika perjalanan udara masuk dan keluar Singapura dibuka.
Di kios otomatis Changi, terdapat sensor jarak sehingga penumpang dapat mengendalikan layar elektronik tanpa bersentuhan ketika mereka check-in atau menurunkan tas.
Dengan demikian, penumpang dapat memilih opsi dan memasukkan detail perjalanan mereka dengan mengarahkan jari mereka ke layar tanpa menyentuhnya.
• Reaksi Novel Baswedan Ketika Diminta Kembalikan Uang Pengobatan di Singapura Rp3,5 M: Tanya Presiden
Bagi mereka yang perlu check-in di konter yang dikelola oleh agen layanan pelanggan, dipasang juga layar akrilik sebagai penghalang supaya penumpang dan staf tetap aman.
Pengalaman penumpang tanpa kontak Changi juga akan meluas ke bagian Imigrasi.
Otoritas Imigrasi & Pos Pemeriksaan menerapkan sistem biometrik baru yang menggunakan teknologi pengenalan wajah dan iris mata sebagai sarana utama untuk verifikasi identitas.
Dengan begitu, pemindaian sidik jari tidak perlu dilakukan.
Changi Airport Group (CAG) juga menggunakan banyak teknologi terbaru untuk membersihkan dan mendisinfeksi bandara.
Terdapat robot pembersih otonom di terminal yang dapat menyemprotkan kabut desinfektan ringan untuk memberikan perlindungan pada karpet dan lantai selama pembersihan.
CAG juga menguji penggunaan LED ultraviolet-C (UV-C) untuk mendisinfeksi pegangan eskalator dan travellator.
Selain itu, CAG juga menguji penggunaan teknologi inframerah tanpa kontak untuk lift penumpang, sehingga teraveler hanya perlu mendekatkan jari mereka ke tombol lift untuk mengaktifkannya.
Inovasi tanpa kontak dan pembersihan baru ini diterapkan sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19 di Bandara Changi.
Selain itu, ada berbagai protokol kesehatan yang tetap dilakukan di Bandara Changi, seperti pengecekan suhu, pemakaian masker, pembersihan menggunakan disinfektan, dan lainnya.
Tan Lye Teck, Wakil Presiden Eksekutif Grup Bandara Changi mengatakan, penumpang mengharapkan bandara untuk memberikan standar keselamatan dan kebersihan maksimal agar pikiran mereka lebih tenang.
Dengan demikian CAG menerapkan berbagai langkah baru dengan inovasi-inovasi menggunakan teknologi canggih sebagai bentuk komitmen berkelanjutan terhadap kesehatan penumpang.
Singapura Tetap Gelar Pemilu Saat Wabah Covid-19, PM Lee Hsien Loong: Keadaan Relatif Stabil
Di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19 yang melanda dunia, Singapura bersiap untuk menggelar pemilihan umum (Pemilu).
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong angkat bicara terkait hal ini pada Selasa (23/6/2020) lalu.
Ia menyebutkan jika Presiden Halimah Yacob telah bubarkan parlemen.
Kemudian hari pencalonan akan berlangsung pada 30 Juni 2020 mendatang.
Sementara itu, Departemen Pemilihan Umum Singapura mengatakan, warga akan melakukan pemungutan suara pada 10 Juli.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Lee menjelaskan keputusannya untuk menyerukan pemilu di saat seperti ini.
Ia mengatakan dirinya "puas" pemungutan suara dapat dilakukan dengan aman dan partai politik dapat berkampanye secara efektif karena situasi di Singapura "relatif stabil."
"Pemilihan sekarang, ketika keadaan relatif stabil, akan membersihkan unit, dan memberi pemerintah mandat lima tahun baru," kata perdana menteri.
"Alternatifnya adalah menunggu pandemi Covid-19."
"Tetapi kami tidak memiliki jaminan, pandemi akan berakhir sebelum masa pemerintahan ini harus berakhir April mendatang."
"Dan itu sebabnya saya memutuskan untuk mengadakan pemilihan umum sekarang," tambahnya.
Seperti yang dilansir CNBC, spekulasi akan diadakannya pemilihan umum mencuat semenjak beberapa pekan lalu.
Singapura mulai mencabut pembatasan yang diberlakukan untuk mengekang penyebaran virus Corona.
Pekan lalu, Singapura mengurangi sebagian besar lockdown parsial, memungkinkan hampir semua kegiatan ekonomi kembali berjalan.
Sementara itu, Partai Aksi Rakyat yang kini berkuasa telah memerintah Singapura sejak 1959, sebelum Singapura merdeka pada tahun 1965.
Dalam pemilihan sebelumnya pada tahun 2015, partai tersebut memenangkan 69,9 persen dari total suara.
Partai Aksi Rakyat menyapu 83 dari 89 kursi yang diperebutkan.
Jumlah kursi parlemen yang diperebutkan dalam pemilihan mendatang diperkirakan akan meningkat menjadi 93 kursi.
Hal itu sesuai yang direkomendasikan oleh Komite Peninjau Batas Pemilihan negara.
Gelontorkan Dana Rp 203 Triliun, Singapura Bersiap Pulihkan Ekonomi Jelang New Normal
Pemerintah Singapura mengambil serangkaian kebijakan untuk memulihkan berbagai sektor negara menjelang New Normal.
Salah satu yang menjadi perhatian Singapura adalah membantu pemulihan ekonominya dari dampak wabah virus Corona atau Covid-19.
Singapura menganggarkan sejumlah dana yang melampaui stimulus langsung untuk digelontorkan demi program ini.
Mereka akan melakukan investasi besar-besaran dalam inovasi kesehatan pascapandemi Covid-19.
Seperti dilansir dari Bloomberg, Minggu (21/6/2020), Wakil Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa negara itu akan mengalokasi anggaran lebih dari S$ 20 miliar atau setara Rp 203 triliun.
Hal itu untuk mendukung penelitian di bidang high impact seperti ilmu kesehatan dan biomedis, perubahan iklim, serta kecerdasan buatan.
Ia menyebut, investasi tersebut merupakan bagian dari rencana penelitian dan pengembangan (research and development/RnD) lima tahun, yang sedang difinalisasi pemerintah Singapura saat ini.
"Semua negara tengah memberikan dukungan dengan segera untuk menemukan perlindungan (terhadap Covid-19).
Tetapi kami melangkah lebih jauh, berinvestasi untuk memberikan semua orang batu loncat, sehingga kembali bangkit dan bahkan bisa lebih kuat.
Kami tidak pernah berhenti memikirkan hari esok," kata Heng, yang juga merangkap sebagai Menteri Keuangan itu.
Pada Jumat lalu, Singapura mulai memasuki fase kedua pembukaan kembali aktivitas ekonominya setelah berbulan-bulan menerapkan kebijakan lockdown untuk menekan penyebaran Covid-19.
Heng mengatakan, tugas pemerintah Singapura yang paling mendesak saat ini adalah menciptakan lapangan pekerjaan setelah ekonomi negara itu menghadapi kontraksi terbesar sejak kemerdekaan tahun 1965 dan terjadi rekor penurunan lapangan kerja pada kuartal I.
Para pejabat negara itu telah berjanji menciptakan 100.000 pekerjaan baru dan memberi peluang pelatihan untuk membantu meredam dampak pukulan pandemi itu.
Heng menambahkan, pemerintah akan berusaha keras untuk menjaga aliran bisnis tetap berjalan agar lapangan pekerjaan tetap tersedia.
Ia bilang, tahun ini merupakan yang pertama kalinya Singapura membiarkan dukungan uang tunai langsung kepada pekerja mandiri dalam skala besar.
Sebagai salah satu negara di dunia yang paling besar menggantungkan ekonominya pada ekspor, Singapura tidak punya pilihan selain mempercepat dua kali lipat agar status perdagangannya keluar dari krisis. "Kita selesai kalau kita terus tutup," tegas Heng.
Heng menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk melakukan investasi infrastruktur, termasuk pengembangan yang lebih hijau dan inisiatif ketahanan pangan.
Serangkaian kelompok industri yang dipimpin oleh pemerintah akan mengeksplorasi peluang baru di bidang-bidang seperti robotika, e-commerce dan digitalisasi rantai pasokan.
Stimulus yang diberikan Singapura dan investasi yang dijanjikan merupakan kejutan khusus dari negara itu karena selama ini mengelola pengeluaran fiskalnya secara tranditional prudent.
Heng mengakui, dirinya tidak pernah memperkirakan akan memasang empat anggaran dengan total S$ 100 miliar hanya dalam 100 hari, dimana lebih dari separuhnya berasal dari cadangan masa lalu.
“Kami sangat berterima kasih kepada generasi kami yang lalu, yang darah, keringat, dan air matanya membuat kami memiliki cadangan keuangan yang dalam ini,” kata Heng.
Ini hanya kedua kalinya Singapura menggunakan simpanan nasionalnya. Pada 2009, pemerintah menerima persetujuan untuk menggunakan cadangan sebesar S$ 4,9 miliar untuk membantu mendanai paket dukungan pemerintah selama krisis keuangan global.
Pemerintah membayar kembali jumlah yang ditarik ke cadangan pada 2011 setelah krisis berlalu.
Akibat Perang Dagang, Peringkat Daya Saing Amerika Serikat dan China Merosot, Singapura Naik
Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China membawa berbagai dampak untuk keduanya.
Salah satunya untuk urusan ekonomi yang diketahui membuat Amerika Serikat dan China kurang kompetitif.
Tentunya sebagai akibat dari perang dagang dari kedua negara tersebut.
Hingga saat ini pun belum tampak adanya resolusi jangka pendek di antara kedua negara.
Dilansir dari BBC, Kamis (18/6/2020), baik China dan AS mengalami penurunan peringkat daya saing dalam daftar World Competitiveness Rankings untuk tahun ini.
Adapun beberapa negara, termasuk Singapura, Denmark, dan Swiss mengalami kenaikan daya saing.
Survei yang dilakukan Institute for Management Development (IMD) menyatakan, penanganan pandemi virus Corona yang dilakukan ketiga negara membantu memperkuat posisi daya saing mereka.
Peringkat daya saing AS merosot 7 peringkat ke peringkat 10.
Sementara itu, peringkat daya saing China anjlok 6 poin menjadi peringkat 20.
Kedua negara raksasa ekonomi tersebut terlibat dalam perang dagang sejak tahun 2018, termasuk perang tarif impor atas banyak negara.
Perang dagang telah meningkatkan ketidakpastian untuk aktivitas bisnis, faktor yang memberatkan daya saing kedua negara.
"Perang dagang telah menghancurkan ekonomi AS dan China, membalik lajut pertumbuhan positif kedua negara," ujar IMD dalam laporannya.
Singapura menjadi negara berdaya saing tertinggi di dunia untuk dua tahun berturut-turut, diikuti oleh Denmark dan Swiss. Adapun Belanda dan Hong Kong masing-masing berada pada peringkat empat dan lima.
Pemeringkatan IMD disusun dengan melakukan asesmen terhadap 63 negara atas ratusan faktor, termasuk serapan tenaga kerja, biaya hidup, dan belanja pemerintah.
IMD juga menyertakan survei eksekutif terkait topik-topik seperti stabilitas politik dan perlindungan hak kekayaan intelektual.
Negara-negara Asia Pasifik secara umum melemah daya saingnya.
Jepang, misalnya, menurun 4 poin ke peringkat 34 dan India tetap di peringkat 43.
Adapun daya saing Indonesia menempati peringkat 40 dari 63 negara, menurun dari peringkat 32 pada tahun 2019.
(*)
• TraceTogether Mulai Diberikan ke Warga Singapura, Begini Cara Kerja Alat Pelacak Covid-19
• WN Singapura Meninggal di Lapas Batam Akibat Menenggak Cairan Pembersih, Ini Kata Polisi
• KRONOLOGI Tewasnya WN Singapura di Lapas Kelas IIA Barelang Batam Akibat Menenggak Cairan Pembersih
Artikel ini telah tayang di Tribuntravel.com dengan judul Bandara Changi Gunakan Berbagai Teknologi Canggih untuk Jamin Keamanan dan Keselamatan Traveler.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-changi-airportt.jpg)