Sabtu, 11 April 2026

HEADLINE TRIBUN BATAM

Tenang, Resesi Singapura Hanya Satu Bulan

Meskipun ekonomi Singapura diperkirakan bergerak naik pada kuartal III dan IV, namun wisata warga Singapura ke Kepri belum tentu segera dibuka.

wahyu indri yatno
halaman 01 TB 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sejak dua dasawarsa lalu, ada pameo, ‘jika Singapura batuk-batuk, maka Kota Batam akan muntah darah’. Pameo tersebut muncul akibat ketergantungan ekonomi Kota Batam yang tinggi pada Singapura.

Hal ini karena hampir seluruh denyut ekonomi di Kota Batam sangat tergantung pada Singapura, baik manufaktur, perdagangan, logistik, juga bahan baku industri. Meskipun ada bahan baku yang diimpor dari negara lain, tetapi masuknya tetap dari Singapura.

Sebaliknya, status Kota Batam yang free trade zone (FTZ) untuk menarik investasi tujuan ekspor, juga tergantung pada Singapura.

Selain Singapura adalah tujuan ekspor utama, ekspor ke negara lain pun harus lewat Singapura karena satu sektur yang luput dilakukan pemerintah adalah menjadikan Batam sebagai transhipment.

Nah, kini Singapura mengalami batuk-batuk.

BEGINI Cara Pelaku Bujuk Korban Ikut Investasi Bodong, Modal Rp 100 Juta Untung Sejuta Sehari

Apakah Kota Batam akan muntah darah?

Sepertinya pameo itu berlebihan karena resesi yang dialami Singapura hanya sementara.

Pembukaan kembali dunia usaha secara bertahap serta stimulus besar-besaran Perdana Menteri Lee Hsien Loong, hampir Rp 1.000 triliun atau sekitar 20 persen dari PDB negara itu.

Meskipun ekonomi Batam lebih lambat dibanding tahun sebelumnya, 4 persen lebih, namun Bank Indonesia memperkirakan masih positif sekitar 1,5-1,9 persen.

Hanya saja, pengamat ekonomi Unrika Batam, Dr Sri Langgeng Ratnasari SE, MM mengingatkan pemerintah agar pemerintah menggencarkan investasi masuk ke Batam dan mengurangi ketergantungan ekspor pada Singapura.

Sebab, salah satu sektor andalan Kota Batam, yakni pariwisata, mengalami kondisi yang sangat parah selama pandemi Covid-19 ini.

Meskipun ekonomi Singapura diperkirakan bergerak naik pada kuartal III dan IV, namun perjalanan wisata warga Singapura ke Kepri belum tentu dibuka dalam waktu dekat.

“Industri wisata harus mencari peluang untuk wisatawan lokal Kota Batam sendiri,” katanya kepada TRIBUNBATAM.id.

Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Kepri, Buralimar mengakui, hantaman kebijakan Singapura sangat besar bagi Kepri karena sekitar 49 persen dari jumlah kunjungan wisman berasal dari Singapura.

Ia juga mengamini bahwa pelaku wisata harus membuka peluang bagi wisatawan lokal meskipun tarif yang dikenakan jauh lebih rendah.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved