Senin, 18 Mei 2026

POSITIVE PARENTING

Pertimbangkan Risikonya, Kapankah Anak-anak Boleh Memiliki Ponsel Sendiri?

Berbagai dampak menjadi pertimbangan orangtua untuk memperbolehkan anaknya memiliki ponsel sendiri. Lantas, kapankah waktu terbaik untuk perbolehkan?

Tayang:
Tribunnews
ILUSTRASI - Kapan anak boleh memiliki ponsel sendiri? ini yang harus dipertimbangkan menurut psikolog. 

Setelah satu jam yang sangat menegangkan, akhirnya bus tersebut menemukan jalan dan memulangkan anaknya dengan selamat.

Grant-Davis memutuskan untuk memberikan putranya sebuah ponsel untuk disimpan di tasnya.

Meski demikian, Greenberg mengatakan dia tidak mendukung seorang anak berusia 6 tahun memiliki ponsel tanpa alasan khusus.

Pertimbangan risiko

Jika anak memiliki ponsel pintar, itu berarti ia memiliki akses ke situs web yang mungkin tidak pantas untuk usia anak-anak.

Akan ada risiko dia melihat konten yang kasar terkait kematian atau seks.

"Banyak anak memiliki fantasi dalam pikiran mereka tentang hal-hal yang tidak mereka pahami," kata Greenberg.

Selain itu, Greenberg juga mengungkap adanya risiko kurang tidur jika anak memiliki ponsel di usi yang terlalu dini. “

Anak-anak dengan smartphone akan tergoda untuk tetap terjaga hingga larut malam bermain game dan mengirim pesan teks dengan teman-teman.” Greenberg juga mengingatkan adanya risiko cyber bullying ketika anak memiliki ponsel sendiri.

"Sebelumnya, ketika anak berada di dalam rumah, ia akan merasa aman," kata Greenberg.

"Tapi dengan ponsel dan media sosial, tidak ada anak yang pernah aman lagi dari intimidasi."

Menurut Greeberg, anak-anak dengan ponsel juga bisa terisolasi secara sosial.

Terlalu banyak mengirim pesan dan media sosial, berarti lebih sedikit waktu berteman secara langsung di dunia nyata.

Selain beberapa alasan tersebut, ada alasan lain untuk tidak memberikan ponsel pada anak sebelum mereka siap.

“Beberapa orangtua terlalu protektif terhadap anak-anak mereka sehingga mereka ingin komunikasi terus-menerus dengan anak tanpa memikirkan bahaya potensial,” kata Mark L. Goldstein, PhD, seorang psikolog anak di Chicago.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved