HEADLINE TRIBUN BATAM
Jaringan Buruk, Kuota Mahal
Orangtua, guru dan sekolah sama-sama mengeluhkan sistem daring, mulai dari teknis, psikologis hingga tidak jelasnya sistem yang diterapkan.
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sistem belajar-mengajar daring atau online di masa new normal masih menjadi masalah besar yang dikeluhkan siswa, orangtua, hingga guru-guru. Pemerintah tidak siap menjalankan program tersebut karena hingga saat ini belum ada sistem yang jelas.
Informasi yang dihimpun Tribun Batam dari siswa, orangtua, guru dan sekolah sama-sama mengeluhkan berbagai masalah, mulai dari teknis, psikologis hingga tidak jelasnya sistem yang diterapkan secara menyeluruh.
Lihatlah anak-anak di wilayah hinterland atau pulau-pulau, mengeluhkan akses internet yang buruk.
Di Kota Batam saja, wilayah Rempang sudah mulai sulit internet hingga ke Pulau Galang.
Sinyal sangat buruk sehingga anak-anak malas belajar.
Apatah lagi pulau-pulau lain yang terisolir seperti Anambas, Bintan, Karimun, Natuna dan Lingga. Hampir semuanya mengeluhkan masalah internet.
Aqila (11), murid kelas 6 di SDN 003 Tarempa, Kecamatan Siantan, adalah contoh anak yang pusing dengan sinyal dan kuota internet orangtuanya yang juga terbatas.
Belum lagi pelajaran yang sulit dimengerti karena tatap muka dengan guru hanya sebentar.
Untungnya, Aqila belajar secara mandiri karena orangtuanya bekerja di pemerintahan.
• Besi Tak Bisa Keluar Batam, Pemulung Demo ke PT Sucofindo Batam, Ini Sejumlah Tuntutannya
• DAFTAR Harga Tiket KM Kelud Terbaru 2020, Sebulan 4 Trip dari Batam, Hanya Tersedia Kelas Ekonomi
Paulina, sang ibu, baru punya waktu malam mengajarkan anaknya. Sebab, ia sudah tahu belajar daring tidak efektif.
Namun, nasib teman-teman Aqila ada yang lebih buruk lagi karena sinyal internet di Anambas hanya di beberapa titik saja.
Untungnya Anambas termasuk zona hijau dan tidak ada kasus positif Covid-19 sehingga banyak sekolah juga yang tetap melayani muridnya meskipun hati-hati.
“Belajar daring sama sekali tak bisa di tempat kita. Adapun HP, sinyal susah. Makanya saya tetap menerima siswa di sekolah, meskipun jadwal belajar tak senormal biasa,” kata seorang guru.
Belum lagi masalah paket internet yang harganya tidak murah jika dipakai setiap hari. Kepala Sekolah SMAN 4 Tanjungpinang, Darson mengakui, banyak keluhan orangtua walimurid kepada guru terkait internet ini.
"Jangankan orangtua, guru pun juga mengeluhkan hal itu. Sebab tidak semua guru bersetatus Pegawai Negeri Sipil (PNS)," ujar Darson kepada Tribun Batam, Minggu (26/7/2020).
HP Terbatas
Keterbatasan perangkat juga menjadi masalah karena tidak semua orangtua punya uang untuk membeli HP atau laptop untuk memenuhi seluruh kebutuhan anaknya belajar.
Punya anak satu saja sulit jika orangtuanya harus bekerja. Bagaimana jika mereka punya anak dua atau tiga?
"Saat ini, hampir seluruh sekolah dan guru kelas menggunakan jam yang sama untuk belajar. Kalau jam belajarnya berbeda, okelah. Kalau sama, bagaimana coba?" ucapnya.
Riska, guru SDN 003 Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, yang terletak di Jalan Kampung Baru, mengaku banyak sekali keluhan dengan sistem daring ini, Mulai dari kemampuan anak yang berbeda dalam mencerna pelajaran hingga masalah internet.
“Hampir setiap hari kami mendapat keluhan orangtua. Karena itu, kami akan rapat untuk mencari jalan keluarnya,” kata Riska.
Salah satu keluhan keluar dari Erwin, orangtua yang mengaku pusing dengan sistem belajar daring ini. Ia punya dua anak yang sekolah di SD kelas 1 dan 2.
Mereka belajar di jam pelajaran yang sama, sementara HP cuma satu. Ia sudah mengeluhkan hal ini ke sekolah sehingga akhirnya diambil kebijakan untuk menggilir kelas dalam beberapa shift.
Wakil Kepala Sekolah Bagian Humas SMAN 1 Kundur Syafrizalman juga mengeluhkan hal yang sama. Ada keluarga siswa yang tidak memiliki smartphone.
Kalaupun ada, jumlahnya terbatas.
"Ada yang hanya punya HP jadul (jaman dulu). Ada juga keluarga yang anaknya SMA kelas tiga dan kelas dua. Lalu satu anaknya lagi SMP. Sementara HP andorid di rumah hanya satu," kata Syafrizalman.
Masih soal perangkat, aplikasi yang digunakan untuk belajar juga belum jelas. Ada yang menggunakan WhatsApp, Facebook atau YouTube.
Ada juga yang menggunakan aplikasi Google Class Room, Google MS Meeting dan ada juga yang menggunakan Zoom Meeting.
Di SMPN 3 Sekupang, Batam, misalnya menggunakan Google Classroom.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Yeri Isdhitira mengatakakan, aplikasi ini dipilih sekolah karena bisa menjangkau banyak siswa.
"Namun masalahnya, banyak yang tidak terbiasa. Terutama sekali siswa baru masih kesulitan dengan aplikasi ini. Masalah lainnya, jaringan tidak selamanya stabil,” katanya.
Masalah lain adalah, siswa tidak nyaman belajar di rumah karena banyak sekali gangguan. Yeri mengatakan, banyak siswa yang bertanya-tanya kepada para guru, kapan belajar di kelas.
"Ada 440 orang siswa baru dari PPDB 2020. Belajar langsung online. Mereka bertanya-tanya, guruku yang mana, temanku yang mana," sebut Yeri.
Namun, di sekolah tempat ia mengajar ada kelonggaran. Siswa yang fasilitasnya minim dapat mendatangi sekolah. Para siswa bisa memanfaatkan laboratorium komputer sekolah untuk membuat tugas dan belajar.
“Ada juga tugas dibuat tulis tangan dan diserahkan ke guru. Apapunlah, yang penting belajar,” katanya. (ian/dra/als/tik/hsu/ayf/blt)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/headline-27-juli-2020.jpg)