Rabu, 29 April 2026

Klaster Baru Menyebar ke 5 Provinsi, China Laporkan Kasus Infeksi Covid-19 Melonjak

China kembali melaporkan penemuan klaster baru penyebaran Covid-19. Telah menyebar ke provinsi lain dan mendorong berbagai pembatasan baru di China.

EPA/WU HONG
ILUSTRASI - Kasus virus Corona di China kembali melonjak, klaster baru menyebar ke 5 provinsi. 

Editor: Putri Larasati Anggiawan

TRIBUNBATAM.id, BEIJINGChina kembali melaporkan penemuan klaster baru penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Ternyata sebuah klaster baru virus Corona di China telah menyebar ke provinsi lain dan mendorong pembatasan baru.

China dikabarkan tengah berjuang mencegah gelombang kedua infeksi Covid-19 di negaranya.

Otoritas kesehatan China telah mengendalikan sebagian besar virus sejak pertama kali muncul pada akhir tahun 2019 lalu melalui serangkaian penguncian ketat dan pembatasan perjalanan.

Namun, dalam dua bulan terakhir muncul kembali kasus-kasus infeksi baru dalam jumlah kecil.

Pada Selasa (28/7/2020), Negeri Tirai Bambu melaporkan adanya 68 infeksi baru, jumlah infeksi harian tertinggi sejak April 2020.

Amerika Serikat dan Australia Perluas Kerja Sama Militer, Beri Sinyal Ini ke China

Di antara kasus itu, 57 berada di Provinsi Xinjiang, daerah yang telah melakukan jutaan pengujian Covid-19, seperti dilansir dari AFP, Selasa (28/7/2020).

Kota Urumqi, ibu kota Xinjiang, saat ini sedang menjalani penguncian ketat akibat laporan kasus itu.

Enam kasus lain juga dilaporkan kota industri Dalian, Provinsi Liaoning.

Di wilayah ini, wabah pertama kali muncul di pabrik pengolahan makanan laut minggu lalu.

Total angka infeksi di Dalian saat ini menjadi 44 kasus, termasuk dua belas kasus baru tanpa gejala yang dilaporkan Selasa.

Menyebar ke 9 kota dan 5 provinsi

Otoritas Kesehatan China mengatakan klaster Dalian sekarang telah menyebar ke sembilan kota di lima provinsi, termasuk Provinsi Fujian.

Pemerintah setempat mengatakan, ibu kota Fuzhou akan memasuki "mode perang" setelah menemukan seorang pasien tanpa gajala yang telah melakukan perjalan dari Dalian, 1.500 kilometer dari kota itu.

Langkah-langkah baru telah diterapkan, seperti mengawasi wisatawan yang memasuki kota.

Pejabat kesehatan Dalian mengatakan pada Minggu (26/7/2020) bahwa mereka akan melakukan tes massal terhadap enam juta penduduk dalam waktu empat hari.

Satu hari berselang, sekitar 1,68 juta orang telah diambil sampelnya pada Senin (27/7/2020).

Pihak berwenang juga telah melarang kegiatan makan malam kelompok dan memerintahkan pelanggan untuk menampilkan "kode kesehatan" lokal di ponsel mereka ketika memasuki restoran.

Sementara itu, sebuah kasus baru di Beijing dilaporkan pada Selasa juga dikaitkan dengan seorang pasien tanpa gejala yang telah melakukan perjalanan dari Dalian.

Beijing kini mulai menguji warga secara massal di perumahan pinggiran kota, tempat pasien tinggal.

Di Shenzen, otoritas kesehatan setempat mengumumkan bahwa lebih dari 3.000 penduduk setempat telah diuji pada Selasa pagi, setelah seorang sopir truk Hong Kong baru-baru ini dinyatakan positif melewati kota.

Hong Kong awalnya memiliki keberhasilan luar biasa dalam mengendalikan wabah, tetapi infeksi lokal telah melonjak selama sebulan terakhir.

Penyelidikan Terus Dilakukan, Kandidat Vaksin Covid-19 dari Inggris dan China Dinilai Paling Efektif

Kabar gembira terkait penemuan vaksin virus Corona atau Covid-19 akhirnya mencuat.

Kandidat vaksin dari Oxford University di Inggris dan China dianggap menjadi yang paling efektif.

Mulai dinilai aman hingga dapat memicu respons kekebalan tubuh manusia.

Kedua studi tersebut dilaporkan dalam The Lancet.

Kendati masih terlalu dini untuk mengatakan apakah pendekatan tersebut memenuhi persyaratan untuk vaksin yang efektif melawan Covid-19, kedua hasil uji sejauh ini paling menjanjikan.

Hingga saat ini, penyelidikan lebih lanjut terus dilakukan.

Dilansir IFL Science, Senin (20/7/2020), kedua vaksin menggunakan adenovirus yang lemah, virus flu biasa, yang dimodifikasi secara genetik untuk membawa kode genetik protein lonjakan pada kulit terluar SARS-CoV-2, virus yang bertanggung jawab untuk Covid-19.

Hasil uji vaksin corona dari Oxford, Inggris

Untuk studi Oxford, virus flu diambil dari simpanse dan diberikan kepada 543 dari 1.077 orang dewasa sehat.

Sementara 534 sisanya merupakan kelompok kontrol dan diberi vaksin meningitis.

Hasil sejauh ini telah menemukan bahwa vaksin Covid-19 yang dikembangkan menginduksi antibodi yang kuat dan respon imun sel T hingga hari ke-56 dari percobaan yang sedang berlangsung.

"Sistem kekebalan tubuh memiliki dua cara untuk menemukan dan menyerang patogen - antibodi dan respons sel," kata ketua tim Profesor Andrew Pollard dari Universitas Oxford, dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email.

"Vaksin ini dimaksudkan untuk menginduksi keduanya, sehingga dapat menyerang virus ketika beredar di dalam tubuh, serta menyerang sel-sel yang terinfeksi. Kami berharap ini berarti sistem kekebalan tubuh akan mengingat virus, sehingga vaksin kami akan melindungi manusia untuk suatu jangka waktu yang panjang," umbuhnya.

"Namun, kami perlu penelitian lebih lanjut sebelum kami memastikan vaksin tersebut efektif melindungi tubuh terhadap infeksi SARS-CoV-2, dan untuk berapa lama perlindungan berlangsung."

Vaksin yang dikembangkan Oxford terbukti dapat memicu respons sel T dalam waktu 14 hari, yang berarti sistem kekebalan dapat menemukan dan membuang sel yang terinfeksi virus.

Dalam 28 hari, ada juga respon antibodi, yang berarti sistem kekebalan mengirim antibodi untuk menyerang virus jika ditemukan ada dalam darah atau dalam sistem limfatik.

Efek samping ringan seperti kelelahan dan sakit kepala dilaporkan oleh sekitar 70 persen peserta, tetapi kurang intens pada peserta yang diizinkan minum parasetamol.

Mengonsumsi parasetamol sebelum dan sesudah vaksinasi tidak berdampak negatif pada hasilnya.

Hasil uji vaksin corona dari China

Sementara studi dari China telah melihat 508 peserta yang ambil bagian dalam uji coba fase II.

Dari total peserta yang ada, 253 menerima dosis tinggi vaksin, 129 menerima dosis rendah, dan 126 menerima plasebo.

Sembilan puluh lima persen dari kelompok dosis tinggi dan 91 persen dari kelompok dosis rendah menunjukkan respon sel T atau antibodi pada hari ke 28 pasca vaksinasi.

Para pasien tidak diamati lebih dari 28 hari, sehingga kekebalan jangka panjang tidak diselidiki.

Mencari vaksin yang ideal

Vaksin yang ideal seharusnya memiliki efek samping minimal dan efektif setelah satu atau dua dosis.

Sementara pada populasi sasaran (terutama yang paling terkena dampak seperti orang tua lanjut usia dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya), vaksin harus memberikan perlindungan setidaknya selama setengah tahun, dan mengurangi penyebaran virus.

Kedua vaksin ini belum mengkonfirmasi bahwa mereka memiliki kemampuan di atas.

Namun keduanya melaporkan, kandidat vaksin yang dikembangkan menghasilkan antibodi terhadap Covid-19. Ini adalah kandidat yang paling menjanjikan sejauh ini.

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kami dapat mengkonfirmasi apakah vaksin kami akan membantu mengelola pandemi Covid-19, tetapi hasil awal ini menjanjikan," tambah rekan penulis Profesor Sarah Gilbert, juga dari University of Oxford.

"Selain terus menguji vaksin kami dalam uji coba fase 3, kita perlu belajar lebih banyak tentang virus - misalnya, kita masih belum tahu seberapa kuat tanggapan kekebalan yang kita butuhkan. memprovokasi untuk secara efektif melindungi terhadap infeksi SARS-CoV-2,” katanya.

"Jika vaksin kami efektif, itu adalah pilihan yang menjanjikan karena jenis vaksin ini dapat diproduksi dalam skala besar. Vaksin yang berhasil melawan SARS-CoV-2 dapat digunakan untuk mencegah infeksi, penyakit, dan kematian pada seluruh populasi, dengan populasi berisiko tinggi seperti pekerja rumah sakit dan orang dewasa yang lebih tua diprioritaskan untuk menerima vaksinasi.”

Menurut angka terakhir pada Rabu (22/7/2020), lebih dari 15 juta orang telah terinfeksi penyakit ini di seluruh dunia.

(*)

Viral Kisah Monika Gadis Cantik Asal Pontianak yang Disiksa di China karena Tolak Lakukan Ini

Khawatir Gelombang Infeksi Baru, China Catat Lonjakan Kasus Covid-19 Tertinggi Sejak April

Sempat Jadi Sarang Corona Bersama Italia dan China, Iran Sebut Obat Virus Dijual 3 Pekan Lagi

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kasus virus Corona di China Kembali Melonjak, Klaster Baru Menyebar ke 5 Provinsi...".

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved