Rabu, 6 Mei 2026

TRIBUN WIKI

Tempat Suci Pusat Ibadah Haji, Inilah Sejarah Masjidil Haram, Terbesar di Dunia

Masjidil Haram adalah sebuah masjid di pusat kota Mekkah yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam.

Tayang:
Tribunnews Wiki
Kegiatan Thawaf di Masjidil Haram 

Hal ini membuat Raja Abrahah di Yaman geram, dan membuat tandingan Ka’bah, berupa gereja “Al Qullais”.

Karena jemaah haji tidak mau berkunjung ke Al Qullais tersebut, Abrahah pun semakin geram, dan memutuskan bersama pasukan gajahnya menyerbu Ka’bah.

Warga Mekkah yang tidak siap dan minim persenjataan, hanya bertawakal pada Allah dengan melihat penyerangan tersebut dari bukit-bukit di sekitar Ka’bah.

Sesampainya di depan Ka’bah, pasukan gajah Raja Abrahah itu dihujani bebatuan yang sangat panas, sehingga membuat badannya terluka dan mati.

Bebatuan tersebut dibawa sekelompok burung ababil atas perintah Allah ta’ala. 

Sekelompok burung Ababil tersebut, masing-masing membawa tiga batu kecil, satu di paruhnya, dan dua lagi di kakinya.

Allah telah menyebutkan kejadian tersebut dalam Al Qur’an, pada surat Al Fiil ayat 1-5. 

Fase Pembangunan

Ulama sekaligus ahli sejarah Arab Saudi, Wahab bin Munabbih berkata: “Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, kemudian ‘Amaliqah, kemudian Jurhum, kemudian Qushai bin Kilab dari kabilah Quraiys.

Mereka orang-orang Quraisy membangun Ka’bah dari bebatuan yang berasal dari lembah yang mereka pikul dipundak mereka, tinggi bangunan mencapai 20 hasta.

Jarak antara bangunan Ka’bah dan perintah membangunnya selama 5 tahun, dan antara pintu keluar dan bangunannya selama 15 tahun.

Ada kisah yang terkenal ketika kaum Qurays tersebut membangun Ka’bah, ketika sampai di pojok (tempat hajar aswad) mereka berselisih siapa yang lebih berhak untuk mengembalikannya?

Sampai satu sama lain dari mereka beradu argumen lalu salah satunya berkata: “Kami sepakat untuk memberikannya kepada seseorang yang pertama kali mendatangi jalan ini.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali mendatanginya, ia pada saat itu masih seorang pemuda, mereka sudah menjadikannya hakim (penentu) untuk memutuskan peletakan hajar aswad.

Maka Rasulullah meletakkan kainnya, dan meyuruh ketua setiap kabilah untuk memegang tiap ujung kain tersebut.

Sumber: TribunnewsWiki
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved