Kabur Dari Negaranya, Ribuan Warga Korut Jadi Wanita Penghibur di China, Ada yang Masih 12 Tahun
Dalam hal politik kenegaraan, antara Kerea Utara dan Korea Selatan sempat terjadi perang dan permusuhan yang cukup panjang.
TRIBUNBATAM.id - Bagi warga Korea Utara keluar dari negaranya ternyata merupakan sesuatu yang sangat diinginkan. Namun Banyak mereka yang keluar dari negara tersebut bekerja di tempat Pelacuran.
Dalam hal politik kenegaraan, antara Kerea Utara dan Korea Selatan sempat terjadi perang dan permusuhan yang cukup panjang.
Namun, dalam hal wanita, ternyata wanita Korea Utara disukai oleh pria dari Korea Selatan.
• PILKADA ANAMBAS - Aturan PKPU, 500 Pemilih Bakal Gunakan Hak Pilih Dalam Satu TPS
• RUPIAH HARI INI - Ditutup Melemah 0,17%, Rupiah di Level Rp 14.765 per Dolar AS
• Bupati Bintan Klaim Sektor Pertanian & Peternakan Meningkat Selama 5 Tahun, ada Petani Millenial
Hai ini terungkap dari perdagangan wanita Korea Utara menjadi budak seks di China yang pelanggannya banyak dari Korea Selatan.
Hal itu tak lain karena idealisme yang diusung kedua negara ini sama.
Korea Utara dan China merupakan negara Komunis, maka tak heran jika keduanya memiliki banyak hubungan.
Tapi tahukah kamu selain hubungan politik ada fakta memilukan di mana anak-anak perempuan di Korea Utara terjebak dalam pebudakan.

Ribuan perempuan dewasa dan anak-anak Korea Utara diperdagangkan dalam perbudakan seks di China, yang termuda tercatat berusia 9 tahun.
Perbudakan itu terjadi ketika mereka berusaha melarikan diri dari kemiskinan dan penindasan di tanah air mereka.
Reuters pada Senin (20/5/2019) mengutip laporan lembaga nirlaba Korea Future Initiative menyebutkan, eksploitasi seksual warga Korea Utara itu setidaknya menghasilkan laba tahunan 105 juta dollar AS atau Rp 1,5 triliun di China.
Para korban dibayar dengan 30 yuan (Rp 60.000), dijual sebagai istri senilai 1.000 yuan (Rp 2juta), dan diperdagangkan ke sarang cybersex untuk dieksploitasi oleh pelanggan dari seluruh dunia secara online.
"Banyak yang dijual lebih dari satu kali dan dipaksa menjadi menjadi budak seks dalam setahun setelah meninggalkan tanah air mereka," ujar penulis laporan itu, Yoon Hee-soon.
Laporan yang akan diluncurkan pada acara di parlemen Inggris tersebut memperkirakan, 60 persen perempuan dewasa dan anak-anak Korea Utara di China terjebak dalam perdagangan seks.
Hampir setengahnya dipaksa menjadi pelacur, sementara sekitar sepertiga dari angka itu dijual sebagai istri, dan sebagian besar masuk dalam pornografi online.

Laporan itu juga menyebutkan, banyak warga Korut yang diperbudak di rumah-rumah bordil di distrik timur laut China dengan populasi pekerja migran yang besar.