Breaking News:

Hubungan China-AS kian Mengeras, China: 'Berhenti Ikut Campur Urusan Negara Lain'

Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi, memberi peringatan kepada Amerika Serikat (AS). Dikatakan Wang, AS sebaiknya ...

Penulis: Lia Sisvita Dinatri
Editor: Lia Sisvita Dinatri
Thinkstock.com/andriano_cz
Ilustrasi perang dagang antara China-As 

Editor: Lia Sisvita Dinatri

TRIBUNBATAM.id, BEIJING - Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi, memberi peringatan kepada Amerika Serikat (AS).

Dikatakan Wang, AS sebaiknya berhenti ikut campur urusan negara lain dan AS telah bertindak terlalu jauh. 

"Sekarang adalah waktunya bagi China untuk meminta Amerika Serikat agar tidak mencampuri urusan dalam negeri China," kata Wang, selama konferensi pers bersama yang diadakan hari Jumat, (11/9/2020), di Moskow bersama mitranya dari Rusia, Sergey Lavrov. 

Wang juga menyatakan bahwa Kongres AS terlampau sering memperkenalkan berbagai RUU tentang urusan dalam negeri China, sesuatu yang tidak pernah dibahas oleh Kongres Rakyat Nasional. 

Selama konferensi pers bersama itu, Wang memperingatkan bahwa AS telah bertindak terlalu jauh dan mengulurkan tangannya terlalu lama. 

"Kami menyarankan beberapa orang di AS lebih baik mengelola urusan mereka sendiri terlebih dahulu, mematuhi prinsip-prinsip hubungan internasional dan berhenti mencampuri urusan dalam negeri negara lain," terangnya menurut transkrip yang dirilis oleh kementerian luar negeri di Beijing, Minggu (13/9/2020), seperti dilansir New York Post

Komentar Wang muncul setelah Microsoft mengumumkan bahwa peretas China, Rusia, dan Iran telah melancarkan serangan siber terhadap orang-orang yang terlibat dalam kampanye Presiden Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden

Perusahaan yang berbasis di AS, yang menjual produk pendeteksi peretasan semacam itu, menuduh bahwa peretas China secara khusus menargetkan orang-orang dalam kampanye Biden. 

Sementara, Microsoft mengatakan, perangkat lunaknya mendeteksi dan memblokir sebagian besar serangan ini, perusahaan teknologi tersebut menunjukkan fakta bahwa kelompok peretas asing telah meningkatkan upaya mereka untuk menargetkan pemilu 2020. 

Microsoft mendeteksi ribuan serangan dari Zirkonium, kelompok peretas yang beroperasi dari China, antara Maret dan September.

Serangan itu menghasilkan hampir 150 compromise. 

"Tetapi secara tidak langsung dan tidak berhasil menargetkan Joe Biden untuk kampanye Presiden," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Serangan dunia maya itu mengingatkan pada serangan yang dilakukan oleh kelompok peretas Rusia yang mengganggu pemilihan presiden 2016 dan membocorkan dokumen rahasia Partai Demokrat. 

Hubungan China-AS kian mengeras, mulai dari perdagangan dan teknologi hingga pencabutan visa jurnalis hingga penutupan konsulat. (*) 

AstraZeneca Lanjutkan Uji Coba Vaksin Covid-19 di Inggris

Mahfud MD Minta Polisi usut Tuntas Pelaku Percobaan Pembunuhan Syekh Ali Jaber

Cara Merawat Perabotan Rumah Tangga dari Bahan Kayu, Gunakan Mayones untuk Hilangkan Noda

Pemerintah Minta Kembali Subsidi Gaji Rp 600 Per Bulan yang Sudah di Terima Oleh 2 Golongan Ini

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved