Senin, 20 April 2026

TRIBUN WIKI

Profil dan Perjalanan Hidup Rahma, dari Anak Petani hingga Jadi Wali Kota Tanjungpinang

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Tanjungpinang, Rahma, dilantik menjadi Wali Kota definitif, Senin (21/9/2020).

TribunBatam.id/Endra Kaputra
PELANTIKAN WALI KOTA TANJUNGPINANG - Walikota Tanjungpinang, Rahma menangis ingat almarhum Syahrul saat pelantikan Wali kota Tanjungpinang, Senin (21/9/2020). 

“Saya tidak pernah terpikirkan sama sekali untuk menjadi Wakil Walikota Tanjungpinang. Tapi waktu itu, Ayah Syahrul sudah bertekad untuk maju menjadi calon Walikota. Sementara, siapa nama yang akan menjadi pendampingnya sebagai wakil belum jelas. Waktu terus berjalan dan akhirnya seseorang mengajukan nama saya kepada Ayah Syahrul untuk maju sebagai wakil, yang akhirnya beliau setuju,” kenang Rahma dengan mata berkaca-kaca.

Setelah resmi menjadi Wakil Wali Kota, Rahma bersama Syahrul mulai menahkodai jalannya Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Anak Petani dari Kampung dan Sales Susu yang Tangguh

Rahma bisa dibilang sudah terbiasa dengan pekerjaan berat dan penuh tantangan.

Tekadnya membaja untuk ikut membantu memperbaiki nasib keluarga, yang sang ayah adalah petani.

“Saya menyadari betul kondisi dan keadaan kedua orangtua saya. Ayah sebagai petani dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Dengan demikian maka saya selaku anak mesti dapat berbuat sebisa mungkin membantu orangtua bekerja, di samping tetap bersekolah,” kata Rahma dengan suara menggambarkan ketegarannya.

Setelah lulus MAN, Rahma yang beranjak dewasa hendak meraih pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Cita-cita itu membuncah di dalam hatinya, dengan tujuan hendak memperbaiki nasib hidup keluarga.

Dia pun meberanikan diri merantau di Pekanbaru, sekitar tahun 1995.

Tujuan utamanya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di Institut Agama Islam Negeri Sultan Syarif Qasim (IAIN SUSQA) Pekanbaru (kini jadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim).

Namun hanya dapat dikikutinya dalam masa setahun saja.

Pendidikannya di Perguruan Tinggi itu putus di tengah jalan, bukan perkara tidak patut, melainkan disebabkan faktor kekurangan biaya.

Sang dara balik kampung, ke pangkuan kedua orangtuanya.

Pada akhirnya Rahma berada lagi di Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, untuk kuliah sembari bekerja.

Tapi nasib berkata lain, dia tidak dapat melanjutkan kuliahnya, yang sekali lagi karena keterbatasan biaya.

Maka di Kota Bertuah itu, Rahma beralih haluan, yakni mengabil kursus Sekolah Taman Kanak-kanak yang bernama Adika.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved