Jemaah Umrah Hanya Boleh Ibadah Selama Tiga Jam, Dilarang Sentuh Kabah dan Hajar Aswad
Pada tahap pertama ini umrah lokal hanya akan diikuti 6 ribu jemaah dengan penerapan protokol kesehatan ketat.
TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Pemerintah Arab Saudi membuka umrah secara bertahap. Tahap pertama nanti atau pada tanggal 4 Oktober diprioritaskan untuk warga lokal di Arab Saudi.
Melansir dari Arab News, Senin (28/9) , jemaah di saat pandemi Covid-19 ini hanya diberikan waktu 3 jam untuk menyelesaikan semua prosesi umrah.
Padahal di waktu normal, pelaksanaan umrah berlangsung 6 sampai 8 jam. Selama 3 jam itu jemaah akan melakukan prosesi seperti mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, maupun berjalan di antara Bukit Safa dan Marwah tujuh kali (Sa'i) serta mencukur atau memperpendek rambut.
Pada tahap pertama ini umrah lokal hanya akan diikuti 6 ribu jemaah dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Para jemaah akan dibagi menjadi kelompok berisi 1.000 orang dengan pelaksanaan umrah di waktu yang berbeda-beda.
Setiap harinya akan ada enam jadwal yang berbeda-beda. Per kelompok pun akan diberi waktu tiga jam untuk melaksanakan umrah. Dalam sebuah wawancara televisi, Menteri Haji dan Umrah Dr. Mohammad Saleh bin Taher Benten dalam mengungkapkan ketentuan umrah saat pandemi ini.
Seperti umrah hanya berlaku untuk kelompok usia18-65 tahun. Dilarang untuk anak-anak dan lanjut usia. Pendaftaran dilakukan melalui aplikasi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, yang bertautan dengan Kementerian terkait termasuk Kemenkes. Syarat kemudian, jemaah harus bebas sehat dan bebas Covid-19.
Pembukaan ibadah umrah akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama pada 4 Oktober 2020 dengan kuota sebanyak 6.000 orang. Tahap kedua pada 16 Oktober 2020 dengan kuota sebanyak 15 ribu jemaah.Kemudian, fase ketiga dibuka pada 1 November 2020 dengan kuota sebanyak 20.000 orang.
Nantinya, sebagaimana haji di masa pandemi, jemaah umrah tidak bisa menyentuh atau mencium Ka’bah dan Hajar Aswad. Protokol umrah yang dilansir pemerintah Arab Saudi menegaskan, tawaf akan dilaksanakan di luar pagar pembatas (barrier) yang saat ini mengelilingi Ka’bah.
Dengan demikian, jemaah umrah tidak memiliki akses mendekati Ka’bah dan Hajar Aswad. Barrier di sekiling Ka’bah didirikan sekitar bulan Maret 2020 saat ibadah umrah disetop bagi warga asing maupun lokal.
Mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Setiap orang tawaf biasanya berebutan mencium batu hitam itu. Namun, sejak pandemi corona, hal itu tidak bisa dilakukan.
Presiden Jokowi diminta terus melobi ke Raja Salman terkait izin pemberangkatan jemaah umrah asal Indonesia di masa Pandemi.
Ketua Umum HUW (Pengawas Haji dan Umrah) Mahfud Djaelani berpandangan bahwa peluang jemaah Indonesia masuk daftar yang diperbolehkan umrah kecil, lantaran banyak negara yang melarang WNI masuk karena penularan Covid-19 tak terkendali.
"Saya lihat kecil ya kita masuk daftar yang diperbolehkan, apalagi 59 negara masih melarang warga kita masuk karena Covid-19. Lobi harus terus dilakukan Presiden Jokowi ke Raja Salman," ujar dia.
Menurutnya, semakin lama jemaah berangkat maka ada kekhawatiran uang yang
telah disetor ke Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) terpakai. Bahkan, dirinya sempat dimintai keterangan dari pihak kepolisian untuk mencegah uang jemaah digunakan oleh oknum tertentu.
"Seperti sekarang ini banyak perusahaan travel enam bulan tidak ada pemasukan. Dikhawatirkan itu (uang jemaah) terpakai untuk operasional," terangnya.
Ia pun mengimbau kepada PPIU agar tidak memberikan janji-janji keberangkatan umrah pada calon jemaah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kerajaan-arab-saudi-buka-kembali-kegiatan-ibadah-umrah-4-oktober-2020.jpg)