Konsesi Berakhir, Warga Kampung Air Batam Minta Pemerintah Jamin Ketersediaan Air Bersih
Warga Kampung Air Batam meminta pemerintah tetap memberikan air kepada warga lewat kios air, pasca konsesi ATB dan BP Batam berakhir
Editor: Dewi Haryati
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Akhir konsesi pengelolaan air baku di Batam tinggal hitungan hari.
Menjelang pengakhiran 14 November 2020 nanti, banyak pihak meminta jaminan kepada pemerintah agar ketersediaan air bersih di Batam tak terganggu.
Tidak terkecuali warga di Kampung Air, Kelurahan Belian, Kecamatan Batamkota, Kota Batam.
"Kami ingin agar pemerintah tetap memberikan air kepada warga sesuai awal mula perjanjian kami dengan ATB," tegas Ketua RW 11 Kampung Air, Jumadi Bria kepada Tribun Batam saat ditemui, Rabu (11/11/2020).
Selama ini, lanjut Jumadi, suplai air bersih di sana sangat bergantung kios air yang ada.
Baca juga: Konsesi Berakhir, Pelayanan Water Tanker Turut Berhenti
Baca juga: Empat Hari Lagi Konsesi ATB Berakhir, Warga Batam Diminta Tak Telat Bayar Tagihan Air
Karena itu, pihaknya menginginkan jika pengelola kios di sana tetap diberikan ruang oleh pemerintah ke depannya.
"Air tidak boleh diputus. Ini kebutuhan hidup orang banyak," tambah dia lagi.
Jumadi menjelaskan, untuk mendapatkan air bersih, warga harus merogoh kocek sebesar Rp 16 ribu per kubiknya atau sebanyak seribu liter.
Biasanya, warga dengan jumlah anggota keluarga cukup banyak akan mengeluarkan biaya lebih besar.
"Tergantung kebutuhan. Ada yang mengeluarkan Rp 200 ribu karena ada 4 sampai 5 orang dalam satu KK. Di sini ada 1000 KK lebih," katanya lagi.
Dengan kondisi ini, pihaknya pun berharap agar pemerintah atau operator air baku di Batam nantinya juga dapat menambah jumlah debit air di sana.
Pasalnya, jumlah warga terus bertambah dari waktu ke waktu. "Kalau bisa debit air ditambah, dari ukuran 1 inch ke meteran induk menjadi 2 inch," paparnya.
Walau terdapat kios air di sana, Jumadi pun tak membantah jika beberapa warganya juga masih menggantungkan kebutuhan air bersih dari sumur yang digali secara perseorangan.
Rata-rata, sebanyak 6 sampai 7 orang masih bergantung terhadap pemakaian sumur.
"Itu tak banyak. Ada juga sumur umum kok. Ya kalau air mati, sumur itu jadi harapan kami," pungkasnya.
Sementara itu, pemilik kios air bernama Dominus juga berharap pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan air bagi warga di sana.
Dia tak memungkiri jika kebutuhan air di Kampung Air cukup banyak. "Kalau saya pribadi inginnya semua masyarakat mendapat air. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak," kata dia kepada Tribun Batam.
(tribunbatam.id/ichwannurfadillah)
Simak berita terbaru lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1111kios-air.jpg)