TRIBUN PODCAST
Tribun Podcast Batam: Berawal Dari Hobi, Asep dan Joni Kini Jadi Pembudidaya Ikan Cupang
Asep dan Joni mengaku, mereka kerap memasarkan ikan Cupang melalui pameran dan bazar. Harganya beragam tergantung body, warna, ekor, keindahan, dll
Editor: Dewi Haryati
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Memelihara ikan Cupang kini jadi tren di tengah masyarakat Batam.
Siapa sangka, berawal dari hobi dapat mendatangkan rezeki bagi mereka yang menekuni hobi ini.
Tren tersebut mampu mendatangkan cuan yang besar dan menjadi prospek baru di tengah buramnya masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.
Peluang tersebut ditangkap baik oleh warga Batam yang tergabung di dalam Cahaya Cupang. Di dalamnya melibatkan masyarakat Kampung Seni Bida Kharisma sebagai pembudidaya.
"Saya sendiri hobi, namun di tengah pandemi ini mulai jadi prospek yang dinilai cukup baik dan terpikirlah untuk mencari penghasilan untuk masyarakat setempat.
Nantinya ikan-ikan yang dibudidayakan bisa dijual oleh masyarakat," ujar Penggagas Budidaya Cahaya Cupang, Asep dalam program Tribun Podcast Batam, Rabu (11/11/2020) malam.
Baca juga: Disebut juga Ikan Laga, Ini Sebab Ikan Cupang Jantan Suka Bertarung, Bagaimana dengan Betina?
Baca juga: Deretan Jenis Ikan Cupang yang Paling Banyak Diminati, Dijual dengan Harga Fantastis
Berawal dari mengawinkan sepasang induk Ikan Cupang, kini ia telah memiliki ribuan ekor Cupang dengan jenis dan harga yang beragam.
"Untuk harga bermacam-macam mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 600 ribu. Tergantung body, warna, ekor, keindahan dan lain-lain. Karena keindahannya, dipercaya mampu menghilangkan rasa stres.
Sejauh ini yang paling mahal Blue Rim. Seluruh badannya berwarna putih namun dikelilingi dengan sedikit warna biru," ucap Penggagas Budidaya Cahaya Cupang lainnya, Joni.
Asep dan Joni mengaku, mereka kerap memasarkan ikan-ikan tersebut melalui pameran dan bazar. Tak hanya itu, bagi pembeli yang berminat, dapat mengunjungi langsung ke rumah budidaya Cahaya Cupang di Bida Kharisma.
"Kalau ada pameran biasanya bisa meraup omzet sekitar Rp 2 jutaan dalam satu hari," ucap Joni.
Menurut Asep, meski ikan ini tergolong mudah untuk dipelihara namun perlu ada ketelatenan untuk menghasilkan ikan-ikan yang berkualitas.
"Harus ekstra telaten sebab 1 tempat atau toples hanya boleh di isi 1 ikan. Setiap 3 sampai 4 hari sekali airnya harus diganti. Jadi kalau punya ribuan ekor, semuanya harus diganti.
Selain itu, airnya harus diendapkan satu malam dan diberikan daun ketapang kering yang nantinya air tersebut akan menguning. Fungsi daun ketapang tersebut untuk mengatur ph air. Ikan cupang juga diberi makanan hidup yakni kutu air, jentik nyamuk dan cacing sutra," jelas Asep.
Tak hanya Asep dan Joni, Dhika Yudhistira, Asisten Staf Khusus Ekonomi dan Keuangan Wakil Presiden RI turut memiliki hobi serupa. Siapa sangka, berkat hobinya tersebut, ia mampu memiliki 10.000 ekor ikan cupang dengan beranekaragam jenis serta warna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1211budidaya-ikan-cupang.jpg)