Siapa Sebenarnya Jalaluddin Rumi, Waktu Bocah Pernah Diramal Kelak Terkenal Sebagai Mistikus Cinta
Jalaluddin Rumi adalah penyair besar Persia yang hidup pada abad ketiga belas. Siapa sebenarnya dia?
Diwan-e Syams-e Tabrizi berisi koleksi ghazal untuk menghormati darwis Syamsuddin yang menginspirasinya
Buku ini juga berisi bermacam-macam puisi yang disusun dengan skema berima.
Diwan-e Syams-e Tabrizi ditulis menggunakan dialek Dari dan disebut-sebut satu di antara karya sastra Persia terbesar.
Matsnawi adalah kompilasi enam jilid puisi yang ditulis dalam gaya didaktis.
Puisi-puisi di dalamnya ditujukan untuk menginformasi, menginstruksi, serta menghibur pembacanya.
Rumi dipercaya memulai menulis Matsnawi karena dorongan dari Hussam-e Chalabi.
Matsnawi berusaha menjelaskan berbagai aspek spiritual hidup.
Kematian dan warisan
Rumi meninggal pada 17 Desember 1273 di Konya, Kesultanan Seljuk, pada suatu sore di saat langit berwarna merah tembaga
Dia dikubur di samping kuburan ayahnya di Konya.
Sebuah mausoleum bernama Maulana didirikan di Konya untuk memeringati penyair besar sufi tersebut.
Di dalamnya ada masjid, tempat tinggal para darwis, dan tempat mementaskan tarian.
Karya-karya Rumi sangat populer, tidak hanya di Iran atau Turki.
Popularitas karyanya menginspirasi banyak seniman, termasuk Mohammad Reza Shajarian (Iran), Shahram Nazeri (Iran), Davood Azad (Iran) dan Ustaz Mohammad Hashem Cheshti (Afghanistan), untuk menginterpretasi karya-karyanya.
Karya-karya Rumi telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Kutipan-kutipan yang terkenal
"Jangan berduka. Apapun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain."
"Jauh melampaui tindakan yang salah dan tindakan yang benar terdapat sebuah tempat. Aku akan menemuimu disana. Taktala jiwa berbaring di atas rerumputan, maka dunia terlalu penuh untuk dibicarakan."
"Sepasang kekasih tidak pada akhirnya bertemu di suatu tempat. Mereka sebenarnya telah ada dalam diri satu sama lain selama ini."
"Anda dilahirkan dengan sayap, mengapa lebih suka merangkak menjalani hidup?"
"Meskipun aku diam tenang bagai ikan, Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan."
(TRIBUNNEWSWIKI:Febri/Tribunmanado/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/27-12-2020-jalaluddin-rumi.jpg)