Breaking News:

HUMAN INTEREST

Kisah Wahidin, Penakluk Buaya Anak Sungai Toca, Berjuang Hidup dari Budidaya Ikan

Penakluk buaya anak Sungai Toca, Wahidin pertama datang dan memnbuka lahan dan bercocok tanam sejak usia 19 tahun.

TribunBatam.id/Momentum Jalinan Simanjuntak
Penakluk buaya anak Sungai Toca sekaligus pelaku usaha budidaya ikan tawar, Wahidin saat bercerita kepada Tribunbatam.id, di Tambak ikan, jalan Kepodang, Kampung Bangun Sari, Tanjungpinang, Sabtu, (19/12). 

TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Nama Kampung Bangun sari, Jalan Kepodang, Kelurahan Batu IX, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri mendadak tenar.

Itu setelah aksi heroik Wahidin menjinakkan buaya sepanjang dua meter, Kamis (17/12) sekira pukul 01.00 WIB dini hari.

Wahidin tinggal di pondok sederhana tepat di area sepanjang anak Sungai Toca.

Akses menuju bangunan kecil permanen itu masih tanah merah. Kondisinya licin dan becek jika turun hujan.

Walau suasana ditempat itu terasa sepi karena jauhnya jarak rumah antar warga, namun pemandangan yang ada terkesan asri karena banyaknya tanaman yang menghiasi berupa tanaman muda maupun tua milik si empunya lahan.

Di sekitar lahan tersebut juga terdapat tiga kolam ikan galian, berbentuk persegi dengan ukuran kira-kira 9x12 meter tepat menghadap anak Sungai Toca.

Penakluk buaya anak Sungai Toca sekaligus pelaku usaha budidaya ikan tawar, Wahidin saat bercerita kepada Tribunbatam.id, di Tambak ikan, jalan Kepodang, Kampung Bangun Sari, Tanjungpinang, Sabtu, (19/12).
Penakluk buaya anak Sungai Toca sekaligus pelaku usaha budidaya ikan tawar, Wahidin saat bercerita kepada Tribunbatam.id, di Tambak ikan, jalan Kepodang, Kampung Bangun Sari, Tanjungpinang, Sabtu, (19/12). (TribunBatam.id/Momentum Jalinan Simanjuntak)

Wahidin yang tak lagi muda, kini berusia 69 tahun, kulitnya tampak keriput dan gerakannya mulai melambat.

Tak seperti awal pertama kali Ia datang membuka lahan di Kampung Bangun Sari namun akibat tuntutan hidup Ia mesti menjalani pilihan tersebut.

"Kami transmigran dari Jawa, ibu saya seorang janda dan kami hanya hidup berdua saat masuk ke Tembeling, Bintan Tahun 1963.

Sehari-hari Saya bekerja mencari kayu bakar dan membantu ibu menoreh getah pohon karet, di samping itu ibu juga menjadi pembantu di rumah orang," kata Wahidin kepada TribunBatam.id, Sabtu (19/12).

Halaman
1234
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved