Akibat Kebijakan WhatsApp yang Baru, Telegram Capai 500 Juta Pengguna Aktif
Dampak aturan dari WhatsApp yang baru, banyak yang kini beralih ke Telegram, buktinya sudah mencapai 500 juta pengguna.
Sejumlah pengguna memilih meninggalkan aplikasi tersebut kemudian beralih kepada aplikasi pesan instan lain yang dianggap lebih "aman" digunakan, seperti Telegram.
Hal ini dapat dilihat dari laporan beberapa firma riset aplikas. Seperti Sensor Tower yang mengatakan WhatsApp mengalami penurunan jumlah unduhan yang signifikan, yakni hingga 11 persen pada minggu awal Januari 2021, dibandingkan periode sebelumnya.
Firma riset aplikasi App Annie juga melaporkan terjadi penurunan peringkat WhatsApp di daftar aplikasi terpopuler, baik di Android dan iOS.
App Annie menyebut jumlah unduhan WhatsApp pada Selasa (12/1/2021) menempati peringkat ke-38 di Amerika Serikat dan peringkat ke-10 di Inggris.
Peringkat ini tercatat lebih rendah dari periode sebelumnya. WhatsApp pun sejatinya telah mengklarifikasi bahwa perubahan aturan tersebut tidak memengaruhi privasi pesan pengguna.
"Itu tidak memengaruhi cara orang berkomunikasi secara pribadi dengan teman atau keluarga di mana pun mereka berada di dunia," kata CEO WhatsApp, Will Cathcart sebagaimana dikutip KompasTekno dari Business Insider, Rabu (13/1/2021).
Baca juga: Bangun Imunitas Tubuh dengan Mengonsumsi 5 Kandungan Makanan Berikut Ini
Telegram bersiap pajang iklan Setelah memiliki 500 juta pengguna aktif, Telegram akhirnya bersiap mencari keuntungan melalui beberapa skenario.
Rencana ini sudah diumbar Durov pada akhir tahun 2020 lalu. Selama ini, Telegram memang diketahui menyediakan layanan perpesanan instan gratis.
Menurut Durov, untuk mendukung proyek sebesar Telegram dibutuhkan setidaknya beberapa ratus juta dolar per tahun agar aplikasi ini dapat terus berjalan.
Oleh karena itu, Telegram membuat beberapa skema monetitasi agar Telegram bisa terus bertumbuh.
Adapun skenario mencari profit ala Telegram yakni dengan menambah fitur baru untuk pengguna premium.
Lalu, Telegram juga akan memperkenalkan platform iklannya sendiri yang ditujukan untuk channel, bukan chat one-to-one.
Durov juga menegaskan bahwa pengguna non-premium akan tetap bisa menikmati layanan Telegram seperti biasanya secara gratis.
"Semua fitur yang saat ini gratis, akan tetap gratis," lanjut Durov.
Stretagi monetisasi di atas disebut Durov sebagai "Telegram Way" untuk tetap independen dan setia pada value mereka. Langkah monetitasi ini rencananya akan dilakukan mulai tahun ini. Namun, Durov juga belum memberikan detail tambahan terkait langkah ini.
Selain itu, Durov juga mengatakan tidak akan menjual Telegram kepada pihak mana pun. (*)
Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul akibat-kebijakan-baru-whatsapp-pengguna-telegram-tembus-500-juta
Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Dampak Kebijakan Whatsapp, Peminat Aplikasi Telegram Melonjak
Baca berita lainnya di GOOGLE
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/whatsapp-dan-telegram.jpg)