Sabtu, 2 Mei 2026

HUMAN INTEREST

Kisah Evie Sulap Kerang Jadi Cendera Mata Bernilai Ekonomis hingga Dilirik Negeri Jiran

Evie bilang untuk membuat satu cendera mata dari bahan kerang membutuhkan waktu yang berbeda-beda dan tergantung tingkat kerumitannya

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Roma Uly Sianturi
Kisah Evie sulap kerang jadi cendera mata bernilai ekonomis hingga dilirik negeri jiran. Foto perajin kerang Evie dan barang kerajinan tangannya 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Bukan hanya dikenal sebagai kota industri, Batam terdiri dari banyak pulau dan memiliki kekayaan laut yang diolah menjadi barang berharga.

Seperti yang dilakukan Elviana R Anie Bs, seorang perajin kerang yang tinggal di Kelurahan Tiban, Kecamatan Sekupang, Batam.

Di tangannya, ia mampu mengubah limbah menjadi rupiah.

Wanita yang akrab disapa Bunda Evie ini bekerja sama dengan nelayan pesisir mengumpulkan ribuan kerang.

Selanjutnya disulap menjadi kerajinan tangan bernilai jual tinggi.

Baca juga: Program Kerang Mutiara di Anambas, DP3 Cari Investor, Ini Tujuannya

Baca juga: Wow, Program Kerang Mutiara di Anambas sudah Menghasilkan 400 Butir Mutiara

Begitu kaki melangkah masuk ke galeri milik Evie, pengunjung langsung disambut ratusan kerajinan kerang yang siap dijual.

Kerajinan tangan itu dipajang di sepanjang dinding galeri, tertata rapi dan menggoda setiap pengunjung untuk memilikinya.

Sementara di pojok galeri, tampak Evie tengah duduk santai bersama sang suami.

Ia bangkit dari kursi dan menyambut hangat penulis yang tengah melihat hasil karyanya.

Evie bercerita, sebelum bisnis buat kerajinan tangan dari kerang, ia pernah mencoba beberapa kerajinan lain.

Seperti melukis sepatu, sarung bantal hingga sofa. Namun karena dianggap tidak memiliki ciri khas, ia berhenti dan mencoba mengeksplorasi kekayaan alam yang ada di Pulau Batam.

Hingga kemudian lahirlah ide Rumah Kreatif Evie yang sekarang memproduksi kerajinan tangan berbahan kerang.

"Batam merupakan daerah kepulauan, sudah pasti kaya akan hasil lautnya. Selain itu Batam memiliki ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain yaitu gonggong.

Gonggong ini sejenis kerang yang hanya bisa ditemui di Batam dan Kepulauan Riau. Hal inilah yang menjadi awal berdirinya bisnis ini," ujar perempuan asal Payakumbuh, Sumatera Barat ini.

Untuk mendapatkan limbah kerang berkualitas ternyata cukup sulit. Evie bahkan harus turun tangan sendiri, mengunjungi beberapa pantai dan bertemu dengan nelayan setempat.

"Saat itu saya pergi ke pantai yang tidak jauh dari Jembatan Barelang, Kecamatan Galang. Di sana saya melihat istri-istri nelayan tengah menunggu suami mereka balik dari melalut.

Saya datang menghampiri dan meminta kepada mereka untuk mengumpulkan kerang dan menjualnya kepada saya," ujarnya.

Ia meminta nelayan untuk mengumpulkan kerang lala, dara, tiger, siput sedot, koleksi, waji, jagung (corn), kima, melo, tritip, dan masih banyak lagi.

Kerang-kerang ini selanjutnya dibersihkan dan dipotong sesuai kebutuhan untuk membuat satu produk kerajinan.

"Saya menggunakan alat potong yang sekarang mulai dimodifikasi dan diproduksi sendiri. Tapi selama proses itu, banyak yang gagal, karena ukuran kerang yang kecil," ungkap perempuan kelahiran 25 Juli 1959 ini.

Evie mengakui untuk membuat satu produk kerajinan tangan membutuhkan waktu yang berbeda-beda dan tergantung tingkat kerumitannya.

Misalnya untuk cendera mata seperti pensil hanya butuh waktu 15-30 menit. Sementara untuk lukisan dinding bisa memakan waktu hingga tiga bulan.

Tak hanya itu, cangkang kerang juga diolah menjadi produk lain. Mulai dari gantungan kunci, tas, dompet, lampu hias, asbak, bingkai foto, kotak tisu, bros, hiasan dinding, bunga hingga konektor masker yang belakangan ini cukup viral di kalangan hijabers sebagai pengikat masker.

"Karena pandemi mewajibkan kita memakai masker, jadi saya mencoba membuat masker menggunakan hiasan kerang. Hitung-hitung agar usaha tetap produktif. Sebab selama pandemi ini pesanan cukup menurun," tuturnya sembari tersenyum.

Ibu satu anak ini mengaku, kerajinan tangan ini mengharuskan untuk tetap produktif. Mengingat roda perekonomian nelayan juga karyawan harus tetap berputar.

"Meskipun saya merumahkan karyawan, tapi tetap mencoba memberikan insentif meskipun tidak sebesar hari biasanya," katanya.

Untuk harga cendera mata tersebut, Evie menyebutkan beragam dan tergantung kerajinan tangannya. Misalnya untuk gantungan kunci atau cendera mata berupa pensil atau pulpen, dipatok mulai Rp 15 ribu.

Sedangkan untuk hiasan dinding dijual antara Rp 300 ribu hingga Rp 12,5 juta. Biasanya harga tersebut mengikuti bentuk karya.

Semakin lama pengerjaan dan tingkat kerumitan sebuah produk, maka harga pun semakin mahal.

Sementara ditanya soal omzet, Evie cukup tertutup. Namun menurutnya jika permintaan banyak pasti akan berdampak pada pendapatan.

"Tidak etis menyebutkan nominal. Alhamdulillah cukup untuk membayar gaji karyawan, membeli bahan baku dan biaya-biaya lainnya," katanya.

Evie menambahkan selama produksi karyanya, ia tidak pernah memiliki konsep atau desain. Semua produk dikerjakan sesuai ide yang muncul begitu saja.

"Seringnya, saya harus bongkar pasang karena tidak sesuai yang diinginkan. Detail produk juga harus rapi, sehingga itu bisa menjadi daya tarik bagi pembeli, dan bisa menambah nilai dari produk yang dihasilkan," tuturnya.

Sampai saat ini, ia sudah memproduksi ribuan kerajinan hasil belajarnya secara autodidak. Awalnya ia mengaku kesulitan memasarkan kerajinan khas Batam ini.

Namun karena memiliki detail produk dan yang tidak dimiliki perajin lain, perlahan hasil tangannya mulai dilirik. Bahkan, perlahan ia mulai mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepri, pusat hingga negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Walau begitu, Evie tak pelit ilmu. Ia kerap membagikan ilmunya kepada pelaku UKM lain. Dengan harapan mereka bisa memiliki karya dari hasil kekayaaan yang dimiliki daerah sendiri.

"Sebelum pandemi covid-19, sudah ada beberapa negara yang mengkonfirmasi untuk datang dan belajar membuat kerajinan bersama saya. Namun kunjungan mereka dibatalkan karena pandemi," katanya.

Beberapa daerah yang merupakan penggiat UKM juga tidak bisa datang karena adanya pembatasan perjalanan. Meskipun sudah dibuka kembali, namun sepertinya tidak memungkinkan mereka berkunjung dan belajar di sini.

Untuk memasarkan hasil karyanya, Evie menggunakan media sosial. Dunia maya menjadi tempat untuk memperkenalkan produknya hingga ke luar.

Sehingga mempermudah pengenalan dan promosi produk yang menjadi salah satu kebanggaan Batam tersebut. Aneka kerajinan tangan dari bahan kerang ini bisa dilihat di instagram rumah kreatif bunda Evie.

"Biasanya setiap kunjungan itu saya tanya juga dari mana tahu soal galeri ini. Mereka pada jawab dari postingan rekan, sahabat dan teman-teman.

Media sosial sangat membantu untuk pemasaran dan pengenalan produk kerajinan kerang ini lebih luas," tuturnya.

Bahkan, hasil kerajinan ini juga sering dipesan designer terkenal Indonesia. Seperti produk tas dengan balutan batik ikan marlin dan ditambah hiasan kerang, menjadi salah satu produk yang dipesan untuk mendukung pagelaran busana.

"Sudah langganan juga, biasanya mereka telepon minta dibuatkan produk dari kerang. Nanti desain mereka yang kirim. Untuk proses menjahit bisanya saya upah lagi ke tukang jahit, untuk kerang baru dikerjakan sendiri," katanya.

(tribunbatam.id / Roma Uly Sianturi)

Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved