Breaking News:

SELASA SEHAT

Gejala Penyakit Jantung Koroner yang Bisa Intai Anak Muda, Pria Lebih Berisiko

Inilah Gejala Penyakit Jantung Koroner yang Bisa Intai Anak Muda, Pria Lebih Berisiko.

Penulis: Widi Wahyuning Tyas | Editor: Widi Wahyuning Tyas

Proses ini dikenal dengan aterosklerosis.

Baca juga: Sederet Manfaat Daun Salam, Bisa Jaga Jantung Tetap Fit Hingga Ampuh Basmi Ketombe

Baca juga: Gejala dan Ciri-ciri Mirip Serangan Jantung, Apa Itu Angin Duduk? Waspada Bahayanya!

Jika permukaan plak pecah, sel darah secara alami akan menggumpal di area tersebut untuk memperbaiki arteri.

Sayangnya, gumpalan darah ini dapat menyumbat arteri dan menyebabkan serangan jantung.

Selain penyebab jantung koroner di atas, risiko seseorang mengidap penyakit ini juga bisa meningkat karena:

- Pertambahan usia

- Berasal dari keluarga penderita penyakit jantung koroner

- Obesitas

- Stres tinggi

- Terbiasa dengan pola makan tinggi lemak jenuh dan trans, garam, dan gula

- Peluang seseorang menderita jantung koroner menjadi lebih besar apabila punya beberapa faktor risiko sekaligus.

Misalkan, punya riwayat diabetes, kolesterol tinggi, dan darah tinggi sekaligus.

Di beberapa kasus, penyebab jantung koroner juga bisa dipicu kondisi medis tertentu, antara lain:

Baca juga: Manfaat Luar Biasa Tidur Cukup di Malam Hari, Diantaranya Jantung Jadi Sehat

Baca juga: AWAS! Anak Muda Bisa Kena, Begini Cara Ampuh Cegah Serangan Jantung

- Gangguan tidur apnea

- Protein C-reaktif sensitif (hs-CRP) tinggi

- Kadar trigliserida tinggi

- Kadar homosistein tinggi

- Preeklamsia

- Kebiasaan minum alkohol berlebihan

- Penyakit autoimun

Perubahan gaya hidup jadi lebih sehat bisa menurunkan risiko jantung koroner.

Baca juga: Bisa Menyerang Siapa Saja, Kenali Beragam Jenis Penyakit Jantung, Apa Penyebabnya?

Baca juga: 4 Komplikasi Serangan Jantung Paling Berbahaya yang Harus Diwaspadai, Ini Ciri-cirinya

Gejala jantung koroner

Gejala jantung koroner yang paling umum adalah angina.

Angina adalah nyeri dada atau rasa tidak nyaman.

Penderita bisa merasakan dadanya berat, sesak, tertekan, nyeri, seperti terbakar, sampai mati rasa.

"Kalau rasa nyerinya tumpul, tidak tajam, dan tidak bisa ditunjuk dengan satu spesifik, maka itu tanda-tanda angina sebagai gejala jantung koroner" Kata dr. Alya.

Gejala jantung koroner ini kerap disalahartikan sebagai nyeri dada pada gangguan pencernaan (heartburn).

Angina biasanya terasa di dada.

Tapi, penderita juga bisa merasakannya di bahu kiri, lengan, leher, punggung, atau rahang.

Selain nyeri dada, gejala jantung koroner lainnya yakni:

Baca juga: Jarang Disadari, Inilah Gejala Penyakit Jantung pada Wanita, Waspada Bila Kulit Berubah Warna

Baca juga: 5 Cara Cegah Jantung Bengkak, Sebabkan Komplikasi Serius hingga Kematian

Baca juga: Tanda-tanda Katup Jantung Bocor yang Harus Diwaspadai, Perut dan Kaki Bengkak

- Sesak napas

- Detak jantung tidak teratur

- Jantung berdebar

- Pusing

- Mual

- Lemah

- Berkeringat

Ketika muncul gejala jantung koroner di atas, jangan tunda untuk segera mencari pertolongan medis.

Gejala jantung koroner tersebut tidak semuanya dirasakan wanita.

Beberapa ciri-ciri jantung koroner pada wanita antara lain:

- Nyeri atau rasa tak nyaman terasa di dada, lengan kiri, atau punggung

- Detak jantung sangat cepat

- Sesak napas

- Mual atau kelelahan

Jika muncul ciri-ciri jantung koroner di atas, segera dapatkan pertolongan medis.

Pentingnya kontrol dan obat

dr. Alya mengatakan, pasien yang telah didiagnosis menderita penyakit jantung koroner harus rutin kontrol sesuai anjuran dokter.

Hal ini untuk memantau kondisi kesehatan jantung dan tentu saja menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Seringnya, pasien merasa sudah membaik dalam sekali berobat. Padahal kondisi itu sembuh terkontrol, artinya memang harus rutin dikontrol karena bisa kambuh sewaktu-waktu." ujar dr. Alya.

Menurutnya, orang yang sudah terkena penyakit jantung koroner harus mengonsumsi obat setiap hari demi mengontrol kesehatan jantung itu sendiri.

Bila tidak dijaga, maka berisiko menyebabkan sudden death atau kematian mendadak.

"Kadang baru periksa sekali lalu nggak periksa lagi, kemudian waktu dicek, ternyata sumbatannya makin banyak dan parah. Itu bisa berisiko kematian mendadak" pungkas dr Alya.

(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved