HUMAN INTEREST

Kisah Nurhayati Bertahan Hidup Seorang Diri di Batam, Tanpa Suami, Anak dan Keluarga

Di usianya yang menginjak 50 tahun, Nurhayati harus banting tulang demi bertahan hidup di Batam. Ia tinggal seorang diri semenjak suaminya meninggal

Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Ronnye Lodo Laleng
Kisah Nurhayati bertahan hidup seorang diri di Batam, tanpa suami, anak dan keluarga. Foto Nurhayati 

"Kadang pas beli koran ada yang kasih lebih, tapi tidak tiap hari," ujar Nurhayati.

Beberapa orang pasar di tempatnya biasa berjualan, juga suka memberinya makan.

Tak hanya di Batam, Nurhayati mengaku, ia juga sudah tak memiliki saudara lagi di kampung halamannya di Pacitan.

"Ayah saya sudah meninggal sejak saya masih dalam kandungan ibu. Selang dua bulan, ibu saya juga ikut meninggal setelah melahirkan saya," kata Nurhayati dengan mata berkaca-kaca.

Semasa kecil hingga dewasa, ia diasuh tetangganya yang kini sudah meninggal dunia.

Sebenarnya Nurhayati pernah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki.

Namun anaknya itu sudah meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya.

Sedangkan suaminya, meninggal dunia sekitar 2 tahun lalu.

Jadilah ia hidup seorang diri saat ini di Batam.

Nurhayati merantau ke Batam sejak 1998 lalu.

Sebelum jualan koran di pasar, Nurhayati sempat bekerja di warung makan di Batam.

Namun karena usianya sudah tua, ia memilih menjadi penjual koran sejak 2012 lalu.

Kini, Nurhayati bingung harus kepada siapa ia mengadu.

Ia hanya berharap bisa tetap sehat dan terus berjualan koran demi bertahan hidup di Batam.

(TRIBUNBATAM.id/Ronnye Lodo Laleng)

Baca juga berita Tribun Batam lainnya di Google
Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved