Selasa, 5 Mei 2026

Bos EIGER Minta Maaf ke YouTuber, Ada Apa? Dian Widiyanarko Sebut Tak akan Beli Produk Lagi

Bos besar brand Eiger menyampaikan permintaan maaf setelah mengirimkan surat keberatan kepada YouTuber Dian Widiyanarko yang melakukan review produk

Tayang: | Diperbarui:
kompas.com
Bos EIGER Minta Maaf ke YouTuber, Ada Apa? Dian Widiyanarko Sebut Tak akan Beli Produk Lagi. Foto ilustrasi toko Eiger Bandung 

Dengan kejadian ini, ia menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada pelanggan setia Eiger atau Eigerian.

Baca juga: Eiger Trending Topik di Twitter, Surat Keberatan untuk Youtuber Ini Disorot: Beli, Bukan Gratis

Baca juga: Perlengkapan Naik Gunung Komplit di Toko Eiger Tanjungpinang

Baca juga: VIRAL Foto Langka Mertua Jenderal Andika & Prabowo Semasih Prajurit Muda, Ini Kisah di Baliknya

Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Dian Widiyanarko, mengatakan,

konten tersebut diunggahnya di Youtube pribadinya pada Agustus 2020.

Akan tetapi, surat keberatan itu baru diterima Dian pada Kamis siang.

"Iya, itu suratnya tertanggal 23 Desember 2020,

tapi kop nomor 2021 rancu emang.

Sementara tanggal kirimnya hari ini, Kamis (28/1/2021) jam 14.03 WIB," ujar Dian saat dihubungi, Kamis (28/1/2021).

Baca juga: Tubuhnya Lumpuh Akibat Kecelakaan Lalu Ditinggal Istri & Anak, Pria Ini Jadi YouTuber Buat Bertahan

Baca juga: Ada Apa? Dayana Gadis Kazakhstan yang Dilamar Youtuber Pekanbaru Dipanggil Kedutaan RI

Baca juga: Deretan Prestasi Jerome Polin Youtuber Cara Belajar Bahasa Jepang, Dikabarkan Pacar Jessica Jane

"Tadi siang Eiger kirim surat itu ke email saya, karena email saya yang dijadikan kontak YouTube saya," lanjut dia.

Dalam Surat Keberatan itu, disebutkan ada tiga poin yang menjadi keberatan Eigerindo MPI terhadap video "Review kacamata EIGER Kerato".

Berikut 3 keberatan itu, dikutip dari isi surat Eiger:

1. Kualitas video review produk yang kurang bagus dari segi pengambilan video yang dapat menyebabkan produk kami terlihat berbeda baik dari segi warna,

bahan dan detail aksesoris menjadi terlihat kurang jelas.

2. Adanya suara di luar video utama yang dapat mengganggu (noise),

sehingga informasi tidak jelas bagi konsumen.

3. Setting lokasi yang kurang proper bagi pengambilan video.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved