TRIBUN WIKI
Cerita Friedrich Silaban, Arsitek Kristiani Pakai Nama Samaran Rancang Masjid Istiqlal
Inilah cerita Friedrich Silaban, arsitek kristiani pakai nama samaran rancang Masjid Istiqlal.
TRIBUNBATAM.id - Inilah cerita Friedrich Silaban, arsitek kristiani pakai nama samaran rancang Masjid Istiqlal.
Gedung Masjid Istiqlal yang gagah perkasa tak lepas dari peran Friedrich Silaban.
Dia adalah arsitek yang merancang desain arsitektur Masjid Istiqlal.
Menariknya, sang arsitek yang membangun tempat ibadah umat Islam ini justru seorang umat Kristiani.
Situs Jakarta Tourism menjelaskan, Friedrich adalah seorang Kristen Prostestan yang dipilih oleh Presiden Soekarno untuk merancang Masjid Istiqlal.
Pemilihan tersebut terjadi lewat sayembara oleh Soekarno pada 1955.
Putra Friedrich, Panogu Silaban, mengisahkan awal mula sang ayah memutuskan untuk ikut sayembara tersebut.
Dia menjelaskan bahwa Friedrich, yang memiliki kedekatan ke Soekarno, meminta izin sang Presiden untuk turut berpartisipasi pada sayembara.
"Dia (Friedrich) pernah bertanya kepada Soekarno langsung: 'Ini mau ngadain sayembara Istiqlal loh? Saya ikut enggak ya?' Mereka memang dekat ya. Lalu (Soekarno jawab): 'Tapi kalau ikut harus pakai nama samaran. Kalau enggak, enggak ada yang mau milih'," kata Panogu dalam wawancara dengan tayangan SINGKAP Kompas TV pada akhir Februari 2018.
Dijelaskan Panogu, ayahnya memang kerap mengikuti sayembara dengan nama samaran berupa moto.
"Setiap kali sayembara itu pakai nama-nama samaran, motto istilahnya. Pernah ada satu sayembara, (Friedrich) pakai (nama) 'Bhinneka Tunggal Ika' motonya. Juga pernah pakai 'Kemakmuran'. Lalu, untuk Istiqlal ini motonya 'Ketuhanan'," paparnya.
Baca juga: Dibangun Selama 23 Tahun, Inilah Sejarah Masjid Istiqlal, Terbesar di Asia Tenggara
Baca juga: Pernah Raih Penghargaan, Inilah Sejarah dan Keunikan Arsitektur Masjid Agung Karimun
Baca juga: Mengintip Sejarah dan Arsitektur Masjid Raja Haji Abdul Ghani, Tertua di Karimun
Sosok pekerja keras
Friedrich lahir di Bonan Dolok, Sumatera Utara, pada 16 Desember 1912 dari keluarga petani yang sederhana.
Dia merupakan lulusan Koningin Wilhermina School, sebuah sekolah setingkat Sekolah Teknik Menengah (STM) di Jakarta pada 1931.
Friedrich kemudian melanjutkan studinya ke Belanda pada 1949 hingga 1950.
Menurut Panogu, ayahnya adalah seorang pekerja keras dengan kecerdasan yang tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/dvfsdfsfsf.jpg)