Sabtu, 2 Mei 2026

Dibekap Kemiskinan, Warga Afghanistan Ramai-ramai Jual Ginjal dengan Harga Murah

Warga Afghanistan ramai-ramai menjual ginjal mereka dengan murah karena himpitan ekonomi.

Tayang:
AFP /Gohar Abbas
Warga Afghanistan ramai-ramai menjual ginjal mereka dengan murah karena himpitan ekonomi. Foto: Warga di Koridor Wakhan, Afghanistan. 

TRIBUNBATAM.id - Warga Afghanistan ramai-ramai menjual ginjal mereka dengan murah karena himpitan ekonomi.

Di pinggiran kota miskin Herat di Afghanistan barat, setidaknya 32 orang dari 150 keluarga memiliki bekas luka operasi ginjal, kata Ebrahim Hakimi tetua setempat.

Hakimi melanjutkan, pria-pria itu terpaksa melakukannya karena faktor kemiskinan dan ada pasar gelap yang menjual organ ilegal di kota itu.

"Semua orang ini bisa saja jadi perampok atau menodongkan senjata untuk mendapat uang, tetapi mereka tidak melakukannya. Yang mereka punya adalah ginjal dan mereka menjualnya demi keluarga," ujar Hakimi.

Laporan dari The Telegraph pada Selasa (23/2/2021) mengungkap sekelompok pria memperlihatkan bekas luka sepanjang sekitar 30 cm di samping perut mereka.

Warga Afghanista ramai-ramai menjual ginjal dengan harga murah.

The Telegraph pekan lalu bertemu dengan puluhan pria dan wanita, yang mengaku telah menjual ginjalnya meski melanggar hukum.

Najbullah (32) misalnya, pria asal Faryab yang tinggal di kamp pengungsian ini menjual ginjalnya seharga 300.000 Afghani (Rp 55,26 juta) untuk membayar utang pernikahannya.

Dalam adat setempat ia wajib membayar mahar untuk istrinya, dan jika tak bisa melunasi akan menimbulkan risiko pembunuhan.

"Ini akan berakhir dengan perselisihan di mana 8 orang akan dibunuh, jadi lebih baik saya kehilangan ginjal dan jadi setengah hidup," terangnya.

Ia menjual ginjalnya di rumah sakit setempat yang sering melakukan transplantasi.

Orang yang mendapatkan ginjalnya adalah pria dari Kabul, ibu kota Afghanistan.

Mereka menyetujui persyaratan bersama.

Sejak operasi Najbullah tak bisa bekerja dan masih punya utang.

" Ginjal saya yang satunya sakit sekarang," keluhnya.

Seorang wanita bernama Khori Gul di kamp yang sama bercerita, tahun lalu dia menjual ginjal untuk menyelamatkan suaminya, Amiruddin, dari debt collector Taliban.

Baca juga: 160 Juta Orang Terancam Masuk Jurang Kemiskinan, Asia Hadapi Resesi Pertama Kalinya dalam 60 Tahun

Baca juga: Timor Leste Diambang Kemiskinan, Ladang Minyak Dikuras Australia, Kini Dihantui Hutang ke China

Ginjal Khori Gul laku 290.000 Afghani (Rp 53,42 juta) yang berhasil membebaskan suaminya, tetapi belum sepenuhnya melunasi utang.

"Saya sangat miskin dan suami sudah melakukan segalanya selama 10 tahun terakhir. Kalau saya tidak berbuat sesuatu, lalu siapa?"

Semua orang yang mengaku menjual ginjalnya berkata, operasinya dilakukan di Rumah Sakit swasta Loqman Hakim kota Herat.

RS itu adalah yang pertama berhasil melakukan transplantasi ginjal di Afghanistan pada 2016, dan selanjutnya dikabarkan sudah melakukan lebih dari 1.000 tindakan serupa.

Para donor berkata, RS itu terkenal sebagai tempat mencari pembeli ginjal yang terkadang lewat perantara.

Namun, RS tersebut dengan tegas membantahnya.

Masjid yang hancur serta korban ditutupi karpet masjid setelah bom meledak saat warga Salat Jumat di dekat Jalalabad, Aghanistan (18/10/2019)
Masjid yang hancur serta korban ditutupi karpet masjid setelah bom meledak saat warga Salat Jumat di dekat Jalalabad, Aghanistan (18/10/2019) (TV9 Telugu)

Para staf juga enggan berkomentar sampai penyelidikan pemprov selesai.

Mereka berkata ke The Telegraph, orang-orang berbohong agar bisa mendapat bantuan pemerintah, atau rumor itu disebarkan oleh rumah sakit kompetitor.

Sebenarnya isu menjual ginjal ini sudah beredar luas di kota dekat perbatasan Iran itu selama bertahun-tahun, tetapi pengungkapan ke media awal bulan ini mengejutkan banyak orang.

Himpitan ekonomi menyebabkan warga menjual ginjal.

Warga di Koridor Wakhan, Afghanistan.
Warga di Koridor Wakhan, Afghanistan. (AFP /Gohar Abbas)

Garis yang merupakan bekas pembedahan itu hanya contoh kecil dari banyaknya warga Afghanistan yang rela menjual ginjalnya.

Namun, menjual ginjal terkadang tak sebanding dengan risiko yang mereka tanggung.

Kesehatan menjadi taruhannya dan peluang kerja mengecil, demi uang instan puluhan juta rupiah.

Salah satunya adalah klinik transplantasi yang diduga turut membantu praktik ilegal itu, tetapi dibantah mereka dengan balik menuding orang-orang berbohong telah menjual ginjal.

Kebanyakan orang-orang yang menjual ginjal adalah korban perang yang mengungsi ke Herat dan bekerja sebagai buruh harian.

(*)

Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Kontan.co.id

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved