Insiden Berdarah di Myanmar, Pasukan Militer Tembak Mati 13 Demonstran Anti Kudeta
Aparat keamanan Myanmar menembaki massa aksi protes terhadap pemerintahan militer pada Rabu (3/3/2021) dan menewaskan sedikitnya 13 orang.
'LANJUTKAN PERJUANGAN INI'
Gambar seorang wanita berusia 19 tahun, salah satu dari dua korban tewas yang ditembak mati di Mandalay, menunjukkan dia mengenakan kaos bertuliskan "Semuanya akan baik-baik saja".
Polisi di Yangon memerintahkan tiga petugas medis keluar dari ambulans, menembaki kaca depan dan kemudian menendang serta memukuli para pekerja dengan senjata dan tongkat, demikian video yang disiarkan oleh Radio Free Asia yang didanai AS menunjukkan.
Reuters tidak dapat memverifikasi video secara independen.
Aktivis demokrasi Esther Ze Naw mengatakan kepada Reuters bahwa pengorbanan mereka yang meninggal tidak akan sia-sia.
"Kami akan melanjutkan perjuangan ini dan menang. Kami akan mengatasi ini dan menang," tegasnya.
Pada hari Selasa, Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) gagal membuat terobosan dalam pertemuan virtual para menteri luar negeri membahas tentang Myanmar.
Sementara bersatu dalam seruan untuk menahan diri, hanya empat anggota - Indonesia, Malaysia, Filipina dan Singapura - menyerukan pembebasan Suu Kyi dan tahanan lainnya.
"Kami menyatakan kesiapan ASEAN untuk membantu Myanmar dengan cara yang positif, damai dan konstruktif," kata ketua ASEAN, Brunei, dalam sebuah pernyataan.
Media pemerintah Myanmar melaporkan menteri luar negeri yang ditunjuk junta militer menghadiri pertemuan ASEAN yang "bertukar pandangan tentang isu-isu regional dan internasional", tetapi tidak menyebutkan fokus pada masalah Myanmar.(Reuters/AFP)
Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS
Sumber: Tribunnews.com