Senin, 8 Juni 2026

NEWS WEBILOG TRIBUN BATAM

Refleksi Setahun Covid-19 Ala Surjadi Penyintas Covid di Kepri hingga Pesan ke Masyarakat

Surjadi penyintas covid-19 di Kepri menilai, ada beberapa persepsi masyarakat yang harus diluruskan dalam menanggapi covid-19. Apa itu?

Tayang:
Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/istimewa
Foto Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Tanjungpinang, Surjadi. Refleksi Setahun Covid-19 Ala Surjadi Penyintas Covid di Kepri hingga Pesan ke Masyarakat 

"Jadi memang tiap orang itu gejala Covid identik tidak sama. Ada yang kehilangan rasa, ada yang tanpa demam, ada yang demam dan batuk, ada yang tanpa batuk. Jadi masing-masing beda dan saya hanya demam sebentar dan terus agak sedikit diare dan setiap malam sering berkeringat," jelasnya.

Menurut Surjadi, faktor yang membuat penyintas Covid-19 ini tertekan akibat psikologisnya yang berat namun jika dibawa gembira, optimis cepat pulih meskipun tetap bergantung ada komorbid atau tidaknya pada pasien.

"Kalau perawatan khusus saya saat itu, ditambah pembawaan rasa gembira jadi faktor psikologis itu penting. Jangan sampai kita stres, tertekan ataupun depresi yang nantinya justru memperburuk kondisi kita,".

"Karena gejala saya tidak terlalu berat, untuk mengurangi batuknya saya minum obat yang lagi ngetrend dari Cina itu bagus untuk batuk dan demam. Selain itu dokter juga memantau aktivitas di dalam rumah dengan memberikan vitamin dan obat lainnya ditambah perawat juga mengontrol dari grup WhatsApp untuk menanyakan perkembangannya," katanya.

Sepuluh hari setelah dinyatakan positif atas hasil swab PCR, ia berinisiatif untuk test PCR mandiri guna mengetahui hasilnya telah negatif. Sebab saat itu ia mengaku tubuhnya telah merasa fit kembali.

"Meskipun di peraturan penanganan Covid-19 yang sekarang setelah masa karantina ataupun perawatan selama 14 hari sudah boleh beraktivitas, saya tidak mau seperti itu dan 10 hari lebih kurang saya menjalani isolasi mandiri yang intensif," jelasnya.

Pada refleksi satu tahun Covid-19, Surjadi berpesan kepada seluruh masyarakat agar jangan menimbulkan stigma terhadap orang yang dinyatakan positif ataupun bergejala.

"Semuanya sudah ada prosedur penanganannya, karena khawatir itu akan memperburuk kondisi si penyintas stigma itu bisa lewat medsos ataupun perilaku sehari-hari itu yang harus dihindari," terangnya.

Selain itu, ia berharap setiap rumah tangga yang mampu secara ekonomi dapat mempersiapkan peralatan serta obat-obatan penanganan virus Covid-19.

"Kan tidak mahal-mahal lah ya, kayak oximeter pengukur oksigen kalau orang normal saturasi oksigen nya 95 kalau turun, harus cepat dirawat ke Rumah Sakit. Ada juga vitamin-vitamin dan yang pasti protokol kesehatan 3M itu dimana pun dan kapan pun harus tetap dijalankan.

Termasuk bagi yang sudah sembuh ataupun yang sudah divaksin," tambahnya.

Terakhir, Surjadi meminta kepada masyarakat yang merasa sudah bergejala dan kontak erat dengan penderita agar jangan gengsi, jangan malu dan takut untuk melakukan swab test.

"Saya punya teman tapi terpaut jauh usianya di bawah. Dia merasa bahwa dia itu bergejala Covid sehingga dia melakukan isolasi mandiri tanpa melakukan test untuk mengetahui apakah positif atau tidak dan ternyata demamnya itu bukan karena Covid melainkan DBD sampai akhirnya beliau meninggal dunia dan ini kan fatal tentunya," ujar Surjadi.

(Tribunbatam.id/Noven Simanjuntak)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved