NEWS WEBILOG TRIBUN BATAM
Refleksi Setahun Covid-19 Ala Surjadi Penyintas Covid di Kepri hingga Pesan ke Masyarakat
Surjadi penyintas covid-19 di Kepri menilai, ada beberapa persepsi masyarakat yang harus diluruskan dalam menanggapi covid-19. Apa itu?
Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Dewi Haryati
TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama setahun di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya Kepulauan Riau.
Banyak hal yang sudah terjadi selama pandemi Covid-19. Pasalnya tidak sedikit orang yang meninggal dunia karena positif covid-19, para pekerja dirumahkan bahkan diberhentikan dengan atau tanpa pesangon, aktivitas masyarakat juga harus dibatasi dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah di Indonesia, serta hal-hal lainnya.
Dengan fenomena ini tentu banyak catatan dan pengalaman penting yang harus dan terus dikaji serta dievaluasi oleh pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau.
Menanggapi itu, Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Tanjungpinang, Surjadi yang juga penyintas Covid-19 mengatakan, ada beberapa persepsi masyarakat yang harus diluruskan dalam menanggapi Covid-19.
"Sebagai penyintas, saya pikir ada banyak hal yang harus kita berikan pemahaman kepada khalayak. Ada persepsi yang mungkin oleh masyarakat keliru dalam menanggapi Covid-19," ujarnya saat diundang sebagai narasumber News Webilog edisi Senin (8/3/2021) dengan tema '1 Tahun Covid-19 di Kepri : Kenangan dan Harapan'.
Baca juga: CERITA dr Tafsil di RSBP Batam Tangani Pasien Corona, Rutin Bawa Baju Ganti Sebelum Pulang
Baca juga: Corona di Bintan, Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 di Bintan Diklaim Capai 92,52 Persen
Surjadi menceritakan, ia mengetahui terpapar gejala covid-19 sampai akhirnya dinyatakan positif covid-19 pada pertengahan Januari, tepatnya pada tanggal 7. Ia menilai situasi yang dihadapi para penyintas saat ini berbeda dengan situasi di awal-awal Covid-19 muncul di tahun 2020.
"Mungkin situasi Covid Januari 2021 sudah beda dengan situasi Covid yang dihadapi di bulan Maret ataupun April di tahun 2020. Dimana, kondisi psikologis masyarakat juga telah berubah. Itu yang saya pikir apa yang saya alami tidak seberat para pionir yang di awal-awal masa pandemi berlangsung," ucapnya.
Ia mengaku mengalami sedikit ketakutan dan kecemasan pasca mengetahui dirinya positif Covid-19. Namun karena situasinya yang telah berbeda di tahun sebelumnya, ia merasa lebih baik dalam menjalaninya.
"Jangankan positif, kalau dulu ada istilahnya PDP dan ODP saja stigma ketakutan masyarakat sudah luar biasa sekali kan. Nah kalau sekarang skalanya tidak seseram di awal-awal Covid muncul dan stigma di masyarakat juga tidak seperti di awal-awal. Hanya tingkat kewaspadaan harus kita dorong," terangnya.
Ia melanjutkan, di beberapa kelompok masyarakat yang telah bergejala dan berkontak erat dengan para penderita masih ada saja yang menghindar dan tidak mau test swab.
"Seharusnya dikurangi prinsip-prinsip seperti itu. Karena kita pikir bahwa kondisi Covid-19 itu sudah ada di sekeliling kita. Tinggal bergantung soal imunitas kita lagi, apalagi sekarang sudah ada vaksin. Alhamdulillah, tapi peluang kita untuk kena itu sekarang mungkin tinggal bagaimana kondisi fisik kita pada saat kita bergejala atau kontak erat kita harus cepat melakukan testing," paparnya.
Surjadi menyebutkan, ia bergejala sampai akhirnya dinyatakan positif covid-19 akibat kontak erat dengan abangnya yang juga telah terpapar Covid-19 terlebih dahulu.
"Saya awalnya dari abang saya, karena rumah kami juga saling berdekatan. Ia bergejala cukup berat, sehingga agak sesak napas. Karena namanya abang adik dan tidak lagi berpikir rasional di tengah kecemasan begitu, kebetulan di rumah saya itu ada perlengkapan oksigen, tabung oksigen, selang oksigen yang sudah saya siapkan sebelum bapak mertua saya meninggal.
Karena di rumah sakit perawatan terhadap pasien Covid agak rumit, refleks saya siapkan peralatan itu supaya dipakai oleh abang saya sampai akhirnya juga dirawat isolasi di Rumah Sakit," bebernya.
Surjadi sendiri menjalani isolasi mandiri di rumah bersama istrinya yang juga positif Covid-19 namun tidak bergejala. Karena memang kondisi tidak terlalu parah sampai kehilangan penciuman dan rasa ataupun demam yang disertai batuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0903surjadi-kepala-bappelitbang-tanjungpinang.jpg)