TRIBUN WIKI
Berkaca dari Aprilia Manganang, Begini Cara Cegah Hipospadia pada Bayi saat Hamil
Berkaca dari kasus Aprilia Manganang yang berganti jenis kelamin, begini cara cegah hipospadia pada bayi saat hamil.
TRIBUNBATAM.id - Berkaca dari kasus Aprilia Manganang yang berganti jenis kelamin, begini cara cegah hipospadia pada bayi saat hamil.
Mantan atlet voli putri, Aprilia Manganang mengalami perubahan jenis kelamin menjadi pria.
Hal ini karena dirinya mengalami kelainan reproduksi hipospadia yang sejak lahir.
Lantas, apa itu hipospadia?
Apa saja gejala dan bagaimana cara mencegahnya?
Sekilas hipospadia

Merangkum Alodokter, hipospadia adalah suatu kelainan di mana letak lubang kencing pada bayi laki-laki tidak normal.
Kondisi ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir.
Pada kondisi normal, uretra terletak tepat di ujung penis.
Tetapi pada bayi dengan hipospadia, uretra berada di bagian bawah penis.
Jika tidak ditangani, penderita hipospadia bisa kesulitan buang air kecil atau berhubungan seksual saat dewasa.
Jika dibiarkan sampai beranjak dewasa, hipospadia bisa menyebabkan gangguan ejakulasi.
Akibatnya, penderita akan sulit memiliki anak.
Gejala hipospadia
Kondisi hipospadia pada setiap penderita bisa berbeda-beda.
Pada sebagian besar kasus, lubang kencing terletak di bagian bawah kepala penis, dan sebagian lain memiliki lubang kencing di bagian bawah batang penis.
Posisi lubang kencing juga bisa berada di area skrotum (buah zakar), tetapi kondisi ini jarang terjadi.
Akibat letak letak lubang kencing yang tidak normal, anak dengan hipospadia akan mengalami gejala seperti di bawah ini:
- Percikan urine tidak normal saat buang air kecil.
- Kulup hanya menutupi bagian atas kepala penis.
- Bentuk penis melengkung ke bawah.
Penyebab dan Faktor Risiko hipospadia
Hipospadia terjadi ketika perkembangan saluran lubang kencing (uretra) dan kulup penis terganggu, waktu di dalam kandungan.
Belum diketahui apa penyebab pastinya.
Namun, ada sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang anak mengalami hipospadia, misalnya karena sang ibu:
- Mengandung pada saat berusia 35 tahun ke atas.
- Menderita obesitas dan diabetes saat hamil.
- Menjalani terapi hormon untuk merangsang kehamilan.
- Terpapar asap rokok atau pestisida saat hamil.
Selain karena faktor di atas, memiliki keluarga yang pernah mengalami hipospadia, dan anak yang terlahir secara prematur, juga diduga dapat membuat anak mengalami hipospadia.
Diagnosis Hipospadia
Hipospadia dapat diketahui melalui pemeriksaan fisik setelah bayi dilahirkan, tanpa harus dilakukan pemeriksaan penunjang.
Tetapi pada hipospadia yang parah, pemeriksaan lanjutan dibutuhkan untuk mengetahui kelainan lain yang terjadi pada kelamin bayi.
Bila dokter menduga terdapat kelainan lain pada kelamin bayi, dokter akan menjalankan uji pencitraan dan melakukan pemeriksaan genetik.
Penanganan Hipospadia
Jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi yang seharusnya, dan bentuk penis tidak melengkung, penanganan tidak diperlukan.
Namun bila letak lubang kencing jauh dari posisi normalnya, operasi perlu dilakukan.
Operasi bertujuan untuk menempatkan lubang kencing ke posisi yang seharusnya, dan untuk memperbaiki kelengkungan penis.
Operasi dapat dilakukan dua kali, tergantung pada tingkat keparahannya.
Pada banyak kasus, fungsi penis anak akan kembali normal setelah operasi.
Idealnya, operasi dilakukan ketika bayi berusia 6 sampai 12 bulan.
Penting untuk diingat, jangan menyunat anak sebelum operasi dilakukan.
Dokter bedah memerlukan cangkok dari kulup, untuk membuat lubang kencing baru.
Baca juga: Apa Itu Parosmia? Termasuk Gejala Covid-19, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Baca juga: Gejala dan Ciri-ciri Pneumonia yang Harus Diwaspadai, Infeksi Paru-paru Mudah Menular
Baca juga: Gejala dan Ciri-ciri Liposarkoma, Kanker Langka yang Bisa Berujung Amputasi
Cara cegah hipospadia
Sebelum terlambat, ibu hamil harus memahami cara mencegah kondisi ini lebih dini.
Hingga saat ini, peneliti masih melakukan riset lebih lanjut mengenai penyebab sekaligus tindakan untuk mencegah hipospadia.
Sementara ini, tindakan pencegahan dilakukan dengan konsultasi rencana kehamilan, pemenuhan kebutuhan nutrisi pada ibu hamil, dan cek kesehatan rutin ke dokter kandungan.
Ibu hamil sebaiknya berhati-hati dalam menggunakan obat atau bahan-bahan tertentu yang kemungkinan mengganggu kinerja dan kestabilan hormon.
Untuk itu, selalu konsultasikan ke dokter sebelum ibu hamil menggunakan bahan atau produk tertentu.
Selain itu, Anda bisa mengurangi risiko anak Anda terkena hipospadia dengan melakukan upaya pencegahan di bawah ini saat hamil, seperti:
- Jangan merokok atau minum alkohol.
- Pertahankan berat badan ideal.
- Konsumsi 400 hingga 800 mikrogram (mcg) asam folat per hari.
- Rutin memeriksakan kandungan ke dokter.
Komplikasi Hipospadia
Bila tidak ditangani, hipospadia dapat menimbulkan masalah berkemih pada anak, serta dapat mengganggu aktivitas seksualnya saat ia dewasa.
Anak dengan hipospadia yang tidak ditangani dapat mengalami komplikasi berupa:
- Kesulitan belajar berkemih
- Kelainan bentuk penis
- Gangguan ejakulasi
- Kelainan bentuk penis dan gangguan ejakulasi ini akan membuat penderita hipospadia kesulitan untuk memiliki anak.
Baca berita terbaru lainnya di Google!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/asfaf.jpg)