Senin, 11 Mei 2026

HUMAN INTEREST

KISAH Sukses Perantau di Batam Lewat Batik, Indra Sugiyono Serukan Produk Dalam Negeri

Kisah sukses Indra Sugiyono lewat batik tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia sempat banting setir dari pilihan hatinya itu.

Tayang:
TribunBatam.id/Hening Sekar Utami
KISAH Sukses Perantau di Batam Lewat Batik, Indra Sugiyono Serukan Produk Dalam Negeri. Foto Indra Sugiyono (43) pembatik Batam asal Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (24/3/2021). 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Membatik boleh dibilang menjadi jalan hidup bagi Indra Sugiyono.

Pria 43 tahun asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini lahir dan besar di lingkungan yang terkenal akan seni batik.

Lingkungan kampung halamannya, Pekalongan, pada masa Indra kecil banyak diisi oleh para pengrajin batik.

Dirinya pun belajar membatik dan sempat membuka usaha kain batik di daerahnya.

Kala itu, mencari pekerjaan di Pekalongan amatlah susah.

Kebanyakan warga kampungnya kala itu lebih memilih mata pencaharian dengan berjualan batik.

"Katakanlah waktu itu, demi sesuap nasi kami memilih membatik," kenang Indra sambil tersenyum saat ditemui TribunBatam.id, Rabu (24/3/2021).

Menparekraf Sandiaga Uno ke Batam, Pakai Batik Khas Batam, Puji Hasil Karya Anak Daerah. Foto Menparekraf Sandiaga Uno saat berbincang dengan Wali kota Batam dan istri Marlin Agustina di Gedung Dekranasda Batam, Jumat (22/1/2021).
Menparekraf Sandiaga Uno ke Batam, Pakai Batik Khas Batam, Puji Hasil Karya Anak Daerah. Foto Menparekraf Sandiaga Uno saat berbincang dengan Wali kota Batam dan istri Marlin Agustina di Gedung Dekranasda Batam, Jumat (22/1/2021). (TribunBatam.id/Hening Sekar Utami)

Pilihan Indra mencari uang dengan membatik kala itu masih dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Ia bahkan bertemu dan menikah dengan sang istri yang juga seorang pembatik di kampung halamannya.

Roda nasib pun berputar. Krisis moneter sekitar tahun 1998 mengakibatkan kondisi ekonomi rumah tangga rakyat memburuk.

Satu per satu pengrajin batik Pekalongan pun memilih mencari peruntungan dengan merantau ke kota lain, termasuk Indra.

Sebelas tahun yang lalu, Indra menginjakkan kaki di Batam setelah sempat berpindah-pindah kota mencicipi berbagai pekerjaan.

Dua tahun di Batam, ia bekerja sebagai juru las (welder) di sebuah perusahaan.

"Waktu itu saya pikir ingin coba pekerjaan lain selain membatik, maka saya ikut pelatihan welder," ujar Indra.

Namun, sepertinya hasrat membatik masih tertanam dalam diri Indra.

Baca juga: Ketua Dekranasda Lingga Maratusholiha Nizar Ingin Hidupkan Pengrajin UKM Batik

Baca juga: ISI Waktu Luang, Sejumlah IRT di Batam Jalankan Usaha Batik Lewat KUB Batik Mekar Berseri 

MOTIF BATIK KHAS BATAM - Ada total 10 motif batik khas Batam yang telah dipatenkan. FOTO: ILUSTRASI.
MOTIF BATIK KHAS BATAM - Ada total 10 motif batik khas Batam yang telah dipatenkan. FOTO: ILUSTRASI. (freepik.com)

Seolah ditakdirkan, Indra pun bertemu dengan seseorang yang bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan atau Disperindag Batam.

Oleh OPD Pemko Batam itu, ia diminta untuk mengembangkan kerajinan batik di Batam.

Mulanya, Indra menilai batik buatan Batam masih memiliki peluang besar untuk lebih ditingkatkan dari segi kualitasnya.

Apalagi, sebelumnya, masyarakat Kota Batam masih belum familiar dengan corak batik khas Batam.

Dengan kualitas yang belum mumpuni itu, harga batik yang ditawarkan dinilai masih cukup tinggi.

Indra pun mulai sering menciptakan karya-karya corak batik yang sesuai dengan ciri khas Kota Batam.

Selain bermotif gonggong, batik Batam kini memiliki corak ikan Marlin yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

"Sebenarnya proses membatik di setiap daerah sama saja, pada dasarnya pengerjaannya menggunakan lilin (malam).

Tetapi yang membedakan batik Batam adalah dari coraknya," jelas Indra.

Tahun ke tahun berlalu, sejak 2009, Indra pun bergabung dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Batam sebagai pembatik maupun pengajar.

Karya-karya batiknya banyak diminati oleh wisatawan mancanegara, nusantara maupun lokal.

Sebagai seorang instruktur, Indra juga sudah punya banyak pengalaman mengajar.

KISAH Sukses Perantau di Batam Lewat Batik, Indra Sugiyono Serukan Produk Dalam Negeri. Foto Indra Sugiyono (43) pembatik Batam asal Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (24/3/2021).
KISAH Sukses Perantau di Batam Lewat Batik, Indra Sugiyono Serukan Produk Dalam Negeri. Foto Indra Sugiyono (43) pembatik Batam asal Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (24/3/2021). (TribunBatam.id/Hening Sekar Utami)

Berbagai peserta pelatihan yang pernah diajarnya berasal dari latar belakang profesi dan usia yang berbeda-beda.

Salah satu pengalaman berkesan bagi Indra adalah ketika ia mengajari peserta pelatihan yang merupakan seorang lansia.

Dengan keterbatasan usianya, peserta pelatihan itu tetap semangat membatik meskipun jari-jarinya lemah dan gemetar.

"Saya pernah mengajari ibu-ibu lansia yang tangannya gemetar ketika memegang canting. Itu sangat berkesan bagi saya, karena semangat beliau," ujar Indra.

Hingga ini, sekitar 25 lebih pembatik binaan Dekranasda yang pernah dilatihnya sudah memiliki mata pencaharian secara mandiri dari membatik.

Sebagian besar pembatik tersebut berlatar belakang sebagai ibu rumah tangga.

Indra berharap ada lebih banyak lagi masyarakat Kota Batam yang mengenal dan mau belajar membatik.

Selain dapat menghasilkan secara ekonomi, kegiatan ini juga sekaligus berupaya melestarikan budaya khas yang telah ada.

Dengan segudang pengalamannya kini, Indra pun telah memiliki sertifikat sebagai seorang asesor kerajinan batik.

Sebagai asesor, ia berperan menilai dan menguji kelayakan kompetensi seorang pembatik.

Mulanya ia sempat ragu ketika akan mengikuti uji sertifikasi sebagai asesor kerajinan batik.

Pasalnya, Indra hanya seorang lulusan SMA, sementara peserta uji sertifikasi lainnya berasal dari lulusan peruguran tinggi dengan profesi akademis.

"Awalnya ragu, lulusan SMA apa bisa lolos jadi asesor, tapi waktu itu pengujinya bilang, pengalaman mengajar saya sudah cukup banyak, sehingga saya lolos sertifikasi," ujar Indra.

Kini, Indra merupakan satu-satunya asesor batik bersertifikasi di Kepri.

Selain mengajar batik, ia juga masih menjajakan karya-karyanya yang beragam corak kontemporer, mulai dari bentuk kain, hingga pakaian bermotif batik.

Dalam sebulan, Indra dapat memperoleh penghasilan cukup besar dari membatik.

Omset hasil berjualan kain batik setiap bulannya sebelum pandemi dapat mencapai Rp 20 juta.

Indra bersyukur, dengan membatik, kondisi perekonomian keluarganya yang dikaruniai tiga orang anak terbilang lebih dari cukup.

"Alhamdulillah, batik tidak hanya membantu perekonomian keluarga saya, tetapi juga para pembatik lainnya yang kebanyakan adalah pelaku UMKM," ujar Indra.

Ia berpesan kepada seluruh Warga Batam, agar lebih mencintai produk-produk dalam negeri, dan membantu UMKM yang digerakkan oleh sesama masyarakat Kota Batam.

Apabila tertarik melihat atau membeli karya-karya pembatik Batam, dapat mengunjungi galeri di Gedung Dekranasda Batam Center.(TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Human Interest Story

Berita Tentang Perantau di Batam

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved