Breaking News:

Waspadai Cuci Otak Paham Radikal ke Generasi Milenial, Boleh Ambil Harta Orang Lain

Dua peristiwa teror yakni bom di Gereja Katedral Makassar dan ke Mabes Polri melibatkan perempuan. Ken Setiawan membagikan cara merekrut milenial

Tribunnews/Gita Irawan
Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan 

Ken menyontohkan, perempuan di NII memiliki tugas khusus sebagai garda terdepan untuk melakukan perampokan. Misalnya, menyamar jadi pembantu di perumahan.

"Perampokan itu kita pernah sehari bisa mencapai Rp 1 miliar. Modusnya ketika saya bergabung, itu kita menggunakan perempuan," imbuh Ken.

Ken mengatakan, mereka dibuatkan KTP, ijazah, dan Kartu Keluarga palsu untuk meyakinkan si pengguna jasa mereka bekerja.

"Kita pilih Pondok Indah, Kalibata, jadi pembantu. Tunggu majikan pergi, anak sekolah. Panggil kita kasih tahu rumah kosong, kalau perlu kita bawa mobil atau truk, itu harta orang kita ambil," tuturnya.

Sementara para kelompok NII lainnya bergerak ke rumah tersebut, setelah mendapat informasi rumah ditinggalkan oleh para majikan. Dengan begitu leluasa untuk mengambil barang-barang berharga.

"Jadi kayak orang pindahan. Kita di rumah kayak toko emas, yang asli sebelah kiri, palsu sebelah kanan. Saya baru tahu di rumah elite itu juga banyak emas palsunya," cerita Ken.

"Satu hari lima orang di tempat yang berbeda itu pernah di atas Rp 1 miliar. Karena kita menganggap harta di luar kelompok boleh diambil. Harta musuh kita ambil untuk perjuangan," ujar Ken.

Ancaman bagi Generasi Milenial

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan membagikan beragam cara generasi milenial yang terpapar paham radikal membohongi orang tua mereka.

Ken Setiawan mengatakan, bagi mereka yang menganut paham radikal mengambil harta orang tua adalah halal hukumnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved