Jumat, 8 Mei 2026

Frustasi dengan Covid-19 India, Dokter Muda Bunuh Diri, Tinggalkan Istri Hamil 2 Bulan

Frustasi dengan Covid-19 India, Dokter Muda Bunuh Diri, Tinggalkan Istri Hamil 2 Bulan.

Tayang:
ISTIMEWA
COVID-19 INDIA - Frustasi dengan Covid-19 India, Dokter Muda Bunuh Diri, Tinggalkan Istri Hamil 2 Bulan. FOTO: dr. Rai 

TRIBUNBATAM.id - Keganasan Covid-19 di India membuat masyarakat frustasi, termasuk para dokter dan tenaga kesehatan (nakes).

Bagaimana tidak, para dokter dan nakes itu harus menangani banyak pasien sepanjang hari.

Mereka bahkan bekerja non stop dan tak kenal istirahat.

Belum lagi kondisi pasien yang berbeda-beda.

Kondisi ini pun membuat mereka merasa frustasi.

Bahkan, seorang dokter di Delhi, India memilih bunuh diri.

Dia adalah dr. Vivek Rai, seorang dokter residen di salah satu rumah sakit di Delhi India.

Dia telah merawat pasien Covid-19 di ICU rumah sakit itu selama hampir sebulan penuh.

dr. Vivek Rai

Melansir artikel Tribunnews.com dengan judul Dokter Muda India Bunuh Diri Karena Frustrasi Tangani Pasien Covid-19 yang Terus Bertambah, ia berasal dari Gorakhpur di Uttar Pradesh.

Seorang sumber yang adalah salah satu rekan Dr Rai mengatakan dia sedang bertugas merawat pasien Covid-19 selama satu bulan terakhir dan menangani pasien ICU.

"Dia akan memberikan perawatan kepada sekitar tujuh hingga delapan pasien kritis setiap hari. Meskipun ada upaya, tidak banyak yang akan bertahan," katanya.

Sumber itu juga menambahkan Dr Rai "frustrasi" dengan situasi yang terjadi dan kondisi terus bertambahnya pasien Covid-19.

Rekan-rekan Dr Rai mengatakan sebagai pejuang Covid di garis depan, ia menyelamatkan ratusan nyawa selama pandemi.

Dia menikah November lalu dan istrinya sedang hamil dua bulan.

Jenazah Dr Rai dibawa ke AIIMS New Delhi untuk pemeriksaan postmortem.

"Ini kembali membawa ke fokus ketegangan emosional yang luar biasa yang dialami dokter dan petugas kesehatan saat menangani krisis Covid-19. Karena situasi yang menbuat frustasi, seorang dokter muda mengakhiri hidupnya ketimbang hidup dalam penderitaan hidup dan emosional orang-orang yang meninggak dalam perawatan," jelas Dr Ravi Wankhedkar, mantan presiden nasional Asosiasi Medis India.

Dalam sebuah pernyataan, polisi mengatakan Dr Vivek Rai meninggal karena bunuh diri di kediamannya di Malviya Nagar.

Baca juga: Pasien Covid-19 India 4 Hari Tergeletak di Lantai RS, Meninggal Tanpa Sempat Ditangani

Baca juga: Kondisi Rumah Sakit di India Mengerikan, Pasien Tersiksa Ingin Keluar meski Masih Sakit

Pasien terlantar

Kapasitas rumah sakit di India yang membludak membuat banyak pasien terlantar tanpa perawatan.

Bahkan tak sedikit pasien yang tergeletak di lantai berhari-hari tanpa sempat ditangani.

Pasien berjejal di berbagai sudut rumah sakit, di atas tandu, meja, hingga lantai.

Kapasitas yang membludak itu membuat kondisi seluruh rumah sakit begitu mengerikan.

Pasien yang meninggal begitu saja adalah pemandangan yang biasa.

Salah satunya yang terjadi di Lala Lajpat Rai Memorial Medical College (LLRM), sebuah rumah sakit di kota Meerut, di negara bagian tetangga Uttar Pradesh.

Melansir Kompas.com dengan judul "Pasien Covid-19 India Empat Hari Dibiarkan di Lantai Rumah Sakit Tanpa Perawatan", pasien tergeletak di mana saja dengan kondisi kritis dan membutuhkan oksigen.

Menurut staf rumah sakit, ada sekitar 55 tempat tidur untuk 100 pasien Covid-19 India.

Tapi hanya ada lima dokter.

COVID-19 - Kondisi Rumah Sakit di India Mengerikan, Pasien Tersiksa Ingin Keluar meski Masih Sakit. FOTO: Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) merawat pasien positif Covid-19 di dalam ruang pertemuan yang sementara diubah menjadi pusat perawatan covid di New Delhi pada 28/4/2021.
COVID-19 - Kondisi Rumah Sakit di India Mengerikan, Pasien Tersiksa Ingin Keluar meski Masih Sakit. FOTO: Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) merawat pasien positif Covid-19 di dalam ruang pertemuan yang sementara diubah menjadi pusat perawatan covid di New Delhi pada 28/4/2021. (AFP via Kompas)

Beberapa pasien berbaring di lantai.

Salah satunya adalah ibu dua anak Kavita, 32 tahun, berada di lantai rumah sakit selama empat hari, berjuang untuk bernapas.

Dia mengaku belum menerima oksigen, dan telah melihat 20 orang meninggal.

"Aku jadi cemas. Saya takut saya akan berhenti bernapas," katanya melansir CNN pada Senin (3/5/2021).

Oksigen adalah komoditas langka di India, yang telah melaporkan lebih dari 2,5 juta kasus dalam seminggu terakhir.

Negara-negara lain telah mengirimkan tabung oksigen dan konsentrator ke India, yang dapat membantu memproduksi oksigen.

Pemerintah mengirimkan pasokan ke seluruh negeri menggunakan jaringan kereta.

Dr Harsh Vardhan, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India, Kamis (27/4/2021) mengatakan bahwa ada cukup oksigen di negara itu dan tidak perlu panik.

"Oksigen sebelumnya tersedia dalam jumlah yang cukup dan sekarang bahkan lebih banyak," katanya kepada wartawan di luar rumah sakit.

"Kami memiliki lebih banyak sumber oksigen yang tersedia di negara ini ... Siapa pun yang membutuhkan oksigen harus mendapatkannya."

Tapi realita di lapangan, rumah sakit masih berjuang.

Mencari oksigen sendiri

Beberapa rumah sakit telah berkicau di Twitter menyuarakan pesan #SOS.

Mereka juga menyebut sejumlah akun resmi, saat meminta lebih banyak oksigen untuk membantu pasien terengah-engah.

Anggota keluarga pasien mengantre berjam-jam di luar pusat pengisian oksigen, memegang tabung oksigen kosong.

Dua belas orang, termasuk seorang dokter, meninggal di satu rumah sakit New Delhi Sabtu (1/5/2021), setelah fasilitas itu kehabisan oksigen, menurut Dr SCL Gupta, direktur medis Rumah Sakit Batra.

Beberapa rumah sakit telah memperingatkan pasien bahwa jika ingin dirawat di rumah sakit, mereka harus mencari oksigen sendiri.

"Kami sekarang telah memberitahu pasien sebelum menerima mereka, bahwa keluarga mungkin harus mendapatkan pasokan oksigen sendiri dalam keadaan darurat jika mereka dirawat di sini," kata Poonam Goyal, seorang dokter senior di Rumah Sakit Panchsheel di utara Delhi, Sabtu (1/5/2021) kepada CNN.

Di luar LLRM, kerabat pasien mondar-mandir menunggu kabar.

Di dalam, administrator LLRM Dr Gyanendra Kumar mengatakan rumah sakit memiliki cukup oksigen, tetapi mereka kekurangan staf.

"Kami tidak menolak siapa pun. Sebelum virus corona, saya belum pernah melihat krisis seperti ini, tapi krisis ini menurut saya kami kelola dengan baik," klaimnya.

(*)

Berita lain tentang Covid-19 India

Baca berita terbaru lainnya di Google

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved