Kamis, 16 April 2026

BERITA MALAYSIA

PM Muhyiddin Yassin Ungkap Alasan Tak Lakukan Full Lockdown di Malaysia: Ekonomi Bisa Runtuh

PM Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan mereka telah belajar dari kebijakan full lockdown tahun lalu, meski jumlah kasus saat itu tidak banyak

Penulis: Mairi Nandarson | Editor: Mairi Nandarson
AFP
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin bicara soal alasan tidak memberlakukan full lockdown di Malaysia 

KUALA LUMPUR, TRIBUNBATAM.id - Pemerintah tidak memberlakukan full lockdown atau penguncian penuh seperti yang pernah mereka lakukan pada Maret hingga Mei 2020 lalu. 

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan mereka telah belajar dari pemberlakukan full lockdown tahun lalu, meski jumlah kasus saat itu tidak sebanyak saat ini.

Muhyiddin Yassin mengakui penguncian penuh memang menjamin keselamatan banyak orang, tapi resikonya terhadap perekonomian sangat besar dan butuh biaya sangat besar untuk memulihkannya. 

"Penguncian penuh COVID-19 dengan semua sektor ditutup seperti yang diberlakukan tahun lalu akan menjamin keselamatan orang, tetapi ada risiko ekonomi bisa runtuh," kata Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin seperti dikutip dari channel news asia.

Berbicara dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh RTM dan Bernama TV Minggu (23/5/2021), Muhyiddin mengatakan ada seruan untuk pembatasan yang lebih ketat saat Perintah Kontrol Gerakan (MCO).

Baca juga: Tekan Lonjakan Covid-19, Malaysia Batasi Jam Operasional Mall dan Restoran, Tutup Pukul 20.00 WIB

Baca juga: Malaysia Kembali Catatkan Rekor Covid-19, Bertambah 6.806 Kasus Dalam Sehari

Seruan disampaikan ke pemerintah agar MCO diberlakukan seperti pertama kali diterapkan pada Maret dan Mei 2020.

“Kami (bisa) menutup semuanya dan duduk diam, pabrik tutup dan semua orang tetap di rumah dan itu menjamin keamanan."

"Mudah bagi pemerintah dan Kementerian Kesehatan untuk mengatur hidup kita, ”ujarnya.

“Saat itu, kami melihat kasusnya meningkat, jadi saya membuat keputusan untuk menutup semuanya."

"Saat itu kasusnya masih sedikit, mudah dikelola - hanya beberapa cluster, tapi tidak tersebar luas di komunitas kami, namun ternyata dampaknya terhadap perekonomian sangat besar,” kenangnya.

Muhyiddin Yassin mencatat bahwa ekonomi hampir runtuh saat itu, dengan negara kehilangan RM2,4 miliar (US $ 579 juta) per hari.

Pemerintah memberikan bantuan ekonomi senilai RM340 miliar.

Mr Muhyiddin mengatakan bahwa segalanya berbeda sekarang, dengan mayoritas kasus di masyarakat.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Malaysia Tambah Lagi 6.806, Mahathir: Warga Malaysia Harus Dikurung dalam Rumah

Baca juga: Malaysia Catat Rekor Baru Kasus Baru Covid-19, 6.075 Kasus per Hari, Sebagian Besar di Selangor

“Jika kami perlu melakukannya lagi (dan memberikan bantuan ekonomi), kami membutuhkan lebih banyak uang."

"RM340 miliar tidak akan cukup karena dampaknya lebih buruk. Saya perlu menyisihkan setengah triliun. Tapi apakah kita punya setengah triliun?" katanya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved