Kamis, 23 April 2026

Istri Memohon, 4 RS Tolak Rawat Suaminya Tak Sadarkan Diri Positif Corona

Istri yang bersuamikan pasien Covid-19 menceritakan bagaimana sulitnya mendapatkan ruang rawat rumah sakit yang bisa menampung suaminya yang positif

Channel News Asia
Ilustrasi seorang pekerja medis merawat pasien Covid-19 di unit perawatan intensif Rumah Sakit Yatharth di Noida, di pinggiran New Delhi, India. 

TRIBUNBATAM.id - Istri yang bersuamikan pasien Covid-19 menceritakan bagaimana sulitnya ia mendapatkan rumah sakit yang bisa menampung suaminya.

SH menceritakan, terpaksa bolak balik rumah sakit satu ke rumah sakit lain dan memohon agar suaminya, F bisa dirawat.

Ia mengatakan suaminya ditolak empat rumah sakit, hingga diterima rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta, yakni di RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Sulitnya mendapat ruang perawatan untuk suaminya diceritakan dengan detail oleh F.

Empat rumah sakit yang menolak suaminya seluruhnya berada di wilayah Depok.

"Padahal saya sampai mohon agar dibantu," lanjut SH.

Baca juga: Antisipasi Efek Samping Vaksinasi Corona, Kadinkes Kepri: Kita Siapkan Rumah Sakit Rujukan

Bermula pada Selasa (15/6/2021) lalu, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan itu memiliki gejala Covid-19.

"Dia demam gitu. Pahit mulutnya sama sempat hilang penciuman," tutur SH dilansir Kompas.com berjudul Cerita Istri Datangi 5 RS Bawa Suaminya yang Tak Sadarkan Diri Setelah Positif Covid-19.

F kemudian memutuskan melakukan tes usap PCR.

Empat hari berselang, F dinyatakan positif Covid-19.

"Saya minta pertolongan pertama dulu, karena kan F hilang kesadaran," ujar SH.

SH kemudian mencari RS rujukan untuk F.

Ilustrasi petugas mengangkut tabung oksigen untuk kebutuhan pasien Covid-19 ke dalam ruangan di Hotel Grand Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang 45, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (28/6/2021)
Ilustrasi petugas mengangkut tabung oksigen untuk kebutuhan pasien Covid-19 ke dalam ruangan di Hotel Grand Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang 45, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (28/6/2021) (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Namun, tidak semudah yang dikira.

F ditolak oleh empat RS.

"Dari siang saya ke IGD ke IGD, bawa F.

Sampai malam, pukul 12.00 WIB, baru RSUD Pasar Rebo yang bisa tangani," kata SH.

Kini, F masih dalam perawatan di RSUD Pasar Rebo.

"Masih di IGD, sudah ada tindakan nunggu ruang ICU-nya, lagi disterilkan dulu," ujar SH.

"Terus F ada infeksi di saluran gitu.

Makanya sekarang lagi dicek semua," lanjut SH.

SH menuturkan, F kini sudah dalam kondisi sadar, tetapi masih linglung.

Baca juga: Dua Rumah Sakit Rujukan di Batam Dapat Bantuan Alat Portable PCR Test dari Pemprov Kepri

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi sebelumnya mengatakan, pemerintah daerah (pemda) bila perlu membuka rumah sakit lapangan untuk mengatasi penumpukan pasien Covid-19 di sejumlah rumah sakit di Jabodetabek.

Nadia mengatakan, hingga saat ini belum ada pemda yang mengaktifkan rumah sakit lapangan.

Oleh karenanya, ia mengatakan, semua RS rujukan Covid-19 harus mengurai penumpukan pasien dengan menambah jumlah tempat tidur sebanyak 40 persen dari kapasitas yang ada dengan sistem konversi.

"RSUD bila perlu didedikasikan full untuk Covid-19 sementara dan RS sekitarnya dapat menangani kondisi ini terlebih dahulu," ujarnya.

Nadia juga mengatakan, pemda juga dapat menambah ruang isolasi agar pasien yang mendapat perawatan di rumah sakit adalah pasien dengan gejala sedang, berat, dan kritis.

"Kalau kita lihat Bekasi itu stadion olahraganya dilakukan juga di sana (isolasi), kemudian potensi seperti asrama haji itu juga bisa dilakukan, tapi ini tetap harus ada penambahan untuk ruang isolasi dan penambahan tempat tidur perawatan kasus berat atau ini dengan mengonversi 40 persen," tuturnya.

Ilustrasi tenaga kesehatan dan keluarga, membawa jenazah penderita covid untuk dikremasi. Akibat lonjakan Covid-19 di India, Perdana Menteri dituntut mundur
Ilustrasi tenaga kesehatan dan keluarga, membawa jenazah penderita covid untuk dikremasi. Akibat lonjakan Covid-19 di India, Perdana Menteri dituntut mundur (Channi Anand/AP via Nytimes)

Lebih lanjut, Nadia mengatakan, saat ini penanganan Covid-19 tidak hanya di hilir, tetapi diperlukan pengetatan protokol kesehatan di hulu.

"Pakailah masker yang benar, bahkan bila perlu dua lapis, masker kain dan masker medis, tidak dulu keluar rumah dan batasi mobilitas," pungkasnya.

Baca juga: Ada 42 Kasus Baru Covid-19 di Natuna, Bupati Ajak Warga Disiplin Prokes

Baca juga: Begini Cara Kepri Tingkatkan Penelusuran Covid-19

Baca juga: Kapasitas RSKI Galang Masih Aman untuk Pasien Covid-19, Total Rawat 129 Orang

.

.

.

Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google

(*/ TRIBUNBATAM.id)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved