Rabu, 8 April 2026

Dekat Soeharto tapi Desak Soeharto Mundur 1998, Ini Sosok Harmoko

Harmoko, memiliki sepak terjang luar biasa selama orde baru, dari jurnalis hingga menteri

ISTIMEWA
FOTO: HARMOKO SEMASA HIDUP 

TRIBUNBATAM.id - Loyalis Soeharto, orang kepercayaan Presiden Soeharto, demikian gambaran ketika membicarakan sosok Harmoko yang meninggal dunia pada hari Minggu (4/7/2021) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Di era 1980 hingga 19990-an, wajah Harmoko hampir selalu muncul di televisi terutama staisun milik negara, TVRI.

Maklum, Harmoko pernah menjadi Menteri Penerangan (Menpen) yang bidang kerjanya banyak berhubungan dengan media.

Selain tugasnya sebagai menteri penerangan, sosok Harmoko lebih sering muncul dalam pemberitaan media jika ada berita mengenai partai Golongan Karya (Golkar) dan kegiatan kampanye pemilihan umum (pemilu).

Harmoko dikenal sangat agresif mengundang wartawan pada setiap acara yang dilaksanakan Golkar.

Sepaj terjang Harmoko selama era Orde Baru cukup luar biasa. Berbagai jabatan mentereng diembannya.

Ia adalah mantan Ketua DPR/MPR RI di pengujung rezim Soeharto selama 32 tahun.

Terkait dengan Soeharto, Harmoko dikenal sebagai sosok Orang Dekat namun juga tokoh yang meminta Soeharto agar mundur dari jabatan presiden pada masa krisis moneter 1998.

Ia juga pernah berkarir sebagai jurnalis.

Jejak pergulatannya di dunia wartawan selama 23 tahun mengantarkannya menjadi menteri penerangan zaman Presiden Soeharto.

Bukan hanya itu, ia juga menjadi politikus dan Ketua MPR RI yang sekaligus meminta Soeharto mundur dari jabatan presiden karena desakan rakyat Indonesia kala krisis ekonomi moneter.

Harmoko menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia pada era Orde Baru selama 3 periode berturut-turut dari tahun 1983 hingga tahun 1997.

Selain itu, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 7 Februari 1939 itu juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar dari tahun 1993 selama 5 tahun.

Karirnya sebelum terjun di dunia politik, pada awalnya Harmoko merupakan seorang wartawan dan kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka setelah lulus dari sekolah menengah.

Kemudian pada tahun 1964 mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat ini juga pernah menjadi wartawan di Harian Angkatan Bersenjata.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved