Selasa, 19 Mei 2026

Wartawan Kriminal Ternama di Belanda Ditembak, Berikut Reaksi Kerajaan

Raja Belanda Willem-Alexander pada Rabu (7/7/2021) mengutuk penembakan reporter kriminal Peter R de Vries.

Tayang:
AP PHOTO/PETER DEJONG via kompas.com
Reporter kriminal paling terkenal di Belanda Peter R de Vries ditembak Selasa malam 6 Juli 2021, dan dibawa ke rumah sakit dengan luka serius. 

AMSTERDAM, TRIBUNBATAM.id - Seorang reporter kriminal ternama di Belanda bernama Peter R de Vries, ditembak oleh orang tak dikenal ( OTK) Selasa (6/7/2021) malam.

Kendati demikian, Raja Belanda Willem-Alexander pada Rabu (7/7/2021) mengutuk penembakan reporter kriminal Peter R de Vries tersebut.

Willem-Alexander menilai, tindakan itu sebagai serangan terhadap demokrasi yang sangat mengejutkannya.

Dia pun menyampaikan memberikan penghormatan kepada reporter kriminal paling terkenal di negara itu.

De Vries, adalah jurnalis pemenang penghargaan Emmy internasional untuk karyanya menyelidiki hilangnya remaja AS Natalee Holloway di Aruba pada 2005.

“Dia dibawa ke rumah sakit, di mana dia berjuang untuk hidupnya,” kata walikota Amsterdam Femke Halsema sebagaimana dilansir kompas.com dari Reuters.

Baca juga: Eks Bakal Calon Wali Kota Sewa Oknum TNI Habisi Wartawan Online Minta Uang Bulanan dan Ekstasi

"Ini adalah serangan terhadap jurnalisme, landasan aturan hukum kami", kata Raja Willem-Alexander kepada wartawan selama kunjungan kenegaraan ke Berlin.

"Dan karena itu merupakan serangan terhadap tatanan konstitusional kita."

Keluarga Kerajaan Belanda umumnya tidak mengomentari insiden individu.

Jadi pernyataan Raja Belanda ini mendapat sorotan, dan menjadi tanda bagaimana de Vries merupakan sosok yang sangat populer yang telah tampil di televisi selama beberapa dekade.

Kekerasan senjata jarang terjadi di Belanda. Tetapi pembunuhan dan kekerasan yang terkait dengan perdagangan narkoba telah menjadi hal yang biasa dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Wartawan Abal-abal Ditangkap Polisi, Peras Warga Hingga Rp 50 Juta

Hal itu diduga karena tokoh-tokoh “dunia bawah” bersaing memperebutkan wilayah.

Untuk diketahui juga sebelumnya pada 2019, seorang pengacara dalam kasus narkoba tingkat tinggi ditembak mati di depan rumahnya di Amsterdam.

Para simpatisan meletakkan bunga dan menyalakan lilin di lokasi serangan, tepat di luar studio televisi di pusat kota Amsterdam, tempat De Vries memberikan wawancara tentang kasus baru-baru ini.

Ibu Natalee Holloway, Beth, yang bekerja erat dengan De Vries dalam penyelidikan hilangnya putrinya, mengatakan kepada penyiar Belanda SBS bahwa dia "hancur" dengan berita serangan itu.

"Saya berusaha mati-matian untuk menghubungi keluarganya. Saya terkejut," katanya.

Serangan terhadap De Vries juga memicu kemarahan di seluruh Eropa.

"Ini adalah kejahatan terhadap jurnalisme dan serangan terhadap nilai-nilai demokrasi dan supremasi hukum kami," kicau Presiden Dewan Eropa Charles Michel di Twitter.

"Kami tanpa henti akan terus membela kebebasan pers."

Presiden Parlemen Eropa, David Sassoli, mengatakan bahwa media adalah tulang punggung demokrasi.

"Serangan terhadap jurnalis adalah serangan terhadap kita semua," katanya.

Polisi mengatakan tiga tersangka telah ditahan beberapa jam setelah serangan itu, termasuk kemungkinan penembak, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.

(*/tribunbatam.id)

BACA JUGA BERITA TERBARU TRIBUNBATAM.id di GOOGLE NEWS

Berita lain tentang KRIMINALITAS

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved