Jumat, 24 April 2026

HUMAN INTEREST

Perantau Asal Medan Terimbas PPKM Batam, Sarapan Fahmi Terpaksa Disisa Buat Siang Hari

Demi bertahan hidup, Fahmi Rajab Harahap rela kerja serabutan saat PPKM di Batam untuk menafkahi istri dan anaknya yang masih kecil.

|
TribunBatam.id/Muhammad Ilham
Perantau Asal Medan, Fahmi Rajab Harahap terpaksa kerja serabutan sejak virus corona masuk Batam. Foto diambil di tempat kerjanya kawasan Bengkong Batam, Rabu (21/7/2021). 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Lalu lalang kendaraan bermotor tak di kawasan Bengkong, Kota Batam, Provinsi Kepri tak begitu diindahkan oleh Fahmi Rajab Harahap.

Perantau asal Medan ini hanya fokus membersihkan bagian sempit pada sepeda motor yang sedang dicucinya.

Kondisi pandemi Covid-19 benar-benar merubah hidup pria yang semula bekerja di industri galangan kapal ini.

Untuk menyambung hidup, ia tak ragu berganti pekerjaan.

Selagi itu halal, pikirnya itu tak apa demi memenuhi kebutuhan hidup.

Jika ada rezeki lebih, uang hasil jerih payahnya ia kirimkan untuk istri dan anaknya yang kini berada di rumah mertuanya di Dumai, Provinsi Riau.

Industri galangan kapal menjadi salah satu sektor yang terimbas pandemi Covid-19.

Keadaan itu membuat Fahmi Rajab Harahap ketika itu tak bisa mendapat pemasukan akibat sepinya kapal masuk ke Batam.

Keputusan bulat pun akhirnya diambilnya.

Ia memutuskan untuk naik ke darat.

Sayangnya, Fahmi kesulitan mencari pekerjaan dan susah didapatkan.

"Akhirnya kerja serabutan. Mengantar air galon, bantu orang pindahan, cat mobil orang.

Sekarang kerja di cucian motor di Bengkong sambil jualan bensin (BBM) eceran sama boneka-boneka bang," cerita Fahmi kepada TribunBatam.id, Jumat (23/7/2021).

Baca juga: PPKM Level IV Batam - Jalan Bundaran SMA Negeri 3 Disekat, Warga Tanpa Masker Dihentikan

Baca juga: PPKM Level 4 Batam, Anggota DPRD Soroti Ketersediaan Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Kondisinya kian pelik sejak Batam menerapkan PPKM Level IV.

Nama lain sekaligus perpanjangan waktu untuk PPKM Darurat yang berakhir tepat pada Idul Adha 1442 H atau 20 Juli 2021 kemarin.

Uang untuk membeli makan sehari-hari mau tak mau harus dihematnya.

Tujuannya untuk mengirimkan kepada istri yang lebih dulu ia 'ungsikan'.

Nasi bungkus Rp 5 ribu-an yang dibelinya pada pagi hari, ia makan setengah.

Sisanya ia akan makan pada siang hari.

Hampir setiap hari begitu terus Fahmi lakukan.

"Namanya tanggung jawab, tak boleh kita berdiam diri.

Yang ada di pikiran saya selalu bagaimana caranya anak dan istri di kampung bisa makan dan uang selalu terkirim ke sana," sebutnya.

Anaknya yang masih kecil juga menjadi pertimbangannya kini.

Bagaimana agar anaknya tidak putus sekolah serta makannya tetap terjaga.

Meski Fahmi harus banting tulang peras keringat jauh dari keluarga.

Di tengah keterpurukan, Fahmi tetap bersyukur karena pasangan hidupnya itu sangat pengertian dan mau menerima dirinya apa adanya.

"Alhamdulilah sekali bang, karena orangrumah saya orangnya itu penyabar dan iklas menerima keadaan saya sampai saat ini," imbuhnya.

Fahmi berharap agar usaha pemerintah menangani Pandemi Covid-19 agar segera berhasil dan ekonomi bisa bangkit kembali.

"Mudah-mudahan pandemi Covid-19 ini cepat berakhir dan tatanan ekonomi juga cepat membaik," harapnya.(Tribunbatam.id/Muhammad Ilham)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Human Interest

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved