HUMAN INTEREST
Kisah Adi Pedagang Es Bubur Sumsum Mengais Rezeki di Tengah Pandemi Covid-19
Adi pedagang es bubur sumsum di Tanjungpinang itu mengakui omzetnya menurun drastis saat pandemi covid-19. Biasa 80 kantong es terjual, kini cuma 20
Penulis: Alfandi Simamora | Editor: Dewi Haryati
Ia merantau dari Lombok bersama alm. istrinya ke Tanjungpinang untuk mengadu nasib.
Sesampainya di Tanjungpinang, ia sempat bekerja sebagai tukang bangunan bersama orang lain.
Tak lama setelah itu, Adi berniat membuka usaha sendiri, setelah belajar dari temannya yang juga pedagang es bubur sumsum.
Ia pun nekat berjualan es bubur sumsum dengan modal seadanya dari hasil kerja bangunan dulu.
"Inilah sampai sekarang pekerjaan saya, dan sudah 7 tahun lebih pekerjaan ini saya kerjakan. Kalau sudah biasa tidak sulit," ucapnya.
Adi pun menambahkan, di tengah pandemi Covid-19 ia juga terpaksa mengurangi bahan dagangannya per hari.
"Biasanya saya belanja dagangan itu Rp 200 ribu per hari. Ini hanya Rp 100 ribu per harinya. Soalnya pembeli tidak banyak, takut tidak habis," ucapnya.
Ia pun berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan kasus Covid-19 berkurang, sehingga perekonomian bisa kembali normal lagi. (tribunbatam.id/Alfandi Simamora)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Human Interest Story
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0708pedagang-es-bubur-sumsum.jpg)