Cara Mencegah Burnout di Masa Pandemi Corona, Bisa Menyerang Siapa Saja tanpa Pandang Usia

Kejenuhan yang amat dan melanda masyarakat Indonesia selama pandemi Covid-19 yang takjelas kapan usai berpotensi membuat seseorang mengalami burnout

net
Ilustrasi kelelahan secara fisik dan mental. Cara Mencegah Burnout di Masa Pandemi Corona, Bisa Menyerang Siapa Saja tanpa Pandang Usia 

TRIBUNBATAM.id - Nyaris dua tahun pandemi virus corona menjadi momok di dunia dan Indonesia.

Berawal di 2019 di Wuhan, China, kasus demi kasus akibat virus corona terus bermunculan nyaris di penjuru dunia.

Di Indonesia, wabah yang kemudian populer dengan nama Covid-19 masuk tahun 2020 dan kini belum mereda.

Beleid pun telah dikeluarkan pemerintah untuk menekan kasus Covid-19 yang kian hari kian bertambah.

Salah satunya adalah meminta masyarakat berada di rumah jika tak berkebutuhan mendesak keluar.

Lamanya pandemi berakhir dan "pantangan" keluar rumah, berkumpul memicu kejenuhan masyarakat. 

Meski demikian, suka tak suka tetap berada di rumah adalah cara terbaik agar terhidar dari Covid-19.

Baca juga: Akses vaksin.kemkes.go.id untuk Cek Ketersediaan Vaksin Covid-19 di Daerah

Kejenuhan yang amat dan melanda masyarakat berpotensi membuat seseorang mengalami burnout.

Jika tak dicegah, burnout dapat mengganggu kualitas hidup hingga menurunkan produktivitas bekerja.

Menurut Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran (Unpad) Iceu Amira DA, S.Sos., S.Kep., Ners., M.Kes., burnout adalah sindrom psikologis yang disebabkan adanya rasa kelelahan yang luar biasa, baik secara fisik, mental, maupun emosional.

ILUSTRASI - Family burnout bisa terjadi selama pandemi
ILUSTRASI - Family burnout bisa terjadi selama pandemi (freepik)

Dampaknya, seseorang dapat kehilangan minat dan motivasi.

Untuk itu, seseorang harus bisa menghindari sindrom tersebut.

"Kalau kelelahan secara fisik saja dengan istirahat bisa selesai.

Kalau kelelahan emosional, dengan istirahat saja belum tentu selesai.

Maka harus ada intervensinya," ujar Iceu dikutip dari Kompas.com.

Dikatakan, burnout dapat mengurangi produktivitas dan menguras energi, sehingga membuat seseorang merasa tidak berdaya, putus asa, lemah dan cepat marah.

"Jika mengalami dalam waktu yang lama, akan berdampak pada kehidupan sosial terutama pekerjaannya," imbuh Iceu.

Baca juga: Lonjakan Kasus Covid-19 di Batam Diduga Akibat Masyarakat Mulai Jenuh

Untuk mencegahnya atau cara mencegah burnout yakni ditekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.

Butuh pengelolaan waktu yang baik kapan harus bekerja dan mengerjakan hal lainnya.

Selain itu, kemampuan mengelola stres menjadi penting.

Tak hanya itu, seseorang juga harus bisa mengubah gaya hidup, atur olahraga, atur pola makan dan mengelola stres.

"Dengan demikian kita bisa mengurangi terjadinya burnout.

Karena jika terjadi secara berlebihan, mengembalikan ke awal itu sulit," tuturnya.

Baca juga: DUA Jam Berbincang Bareng Pasien Covid-19 di RSKI Galang Batam, Buang Jenuh dengan Goyang TikTok

Bisa terjadi ke siapa saja

Sementara dosen Unpad lain, Indra Maulana S.Kp., Ners., M.M. menuturkan, burnout biasanya terjadi akibat pekerjaan yang menumpuk dan terlalu berat.

Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, bukan hanya dari kalangan pekerja.

Menurutnya, ibu rumah tangga juga rentan mengalami burnout di masa pandemi, karena menghadapi banyak pekerjaan rumah, ditambah dengan tugas menemani anak sekolah daring.

Terlebih tenaga medis juga rentan mengalami burnout, karena harus menghadapi banyaknya pasien akibat pandemi.

Begitu juga dengan pekerja lain yang harus menghadapi banyak pekerjaan terlebih dengan situasi keterbatasan di tengah pandemi.

Ilustrasi jenuh
Ilustrasi jenuh (Kompas.com)

"Kita harus kelola waktu supaya tidak terjadi stres berkepanjangan karena pekerjaan yang menumpuk," kata Indra.

Selain terjadi gangguan psikologis, Indra mengatakan bahwa burnout dapat mengakibatkan gangguan fisik, seperti sakit pada lambung dan imunitas menurun.

Dosen Unpad lainnya, Titin Suntini, S.Kep., Ners., M.Kep mengatakan pentingnya meluangkan waktu (me time) dengan berbagai aktivitas menyegarkan otak.

Hal ini untuk menghindari kejenuhan yang dapat berujung pada kondisi burnout.

"Kalau sudah jenuh, me time.

Ambil waktu me time kita yang kayak gimana.

Setiap orang berbeda-beda," jelasnya.

Selain itu, perlunya mencari dukungan dari orang lain agar bisa terus berpikir positif.

Perilaku juga harus dijaga agar tetap positif, serta didukung oleh aktivitas spiritual.

Baca juga: Bosan di Rumah? Staycation di Hotel RedDoorz Indonesia Diskon 35 Persen, Cek Syaratnya

Baca juga: 7 RAHASIA Mengenali Wanita Selingkuh, Faktor Keturunan hingga Mudah Bosan, Apa Itu?

Baca juga: Covid-19 di Bintan Tambah 3 Kasus, Kadinkes Tak Bosan Ingatkan Protokol Kesehatan

.

.

.

(TRIBUNBATAM.id)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved