HUMAN INTEREST
Suka Duka Warga Pulau Terluar Batam, Dari Susah Sinyal hingga Akses ke Kota Jauh
Seorang warga pulau terluar Batam, Yurmalis menyebut, hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Pulau Jaloh memang melimpah. Tapi ini cerita dukanya
"Kami tak bisa jual ikan, dan berbelanja ke Batam. Jadinya ikan-ikan itu kami makan sendiri. Sampai bosan makan ikan terus dua minggu," ungkap Yurmalis sambil tertawa.
Akan tetapi, bukan hanya kebutuhan pangan yang harus dicukupi para penduduk Pulau Jaloh. Selama pandemi ini, kebutuhan akan kuota internet juga kian membengkak.
Pasalnya, selama pandemi, anak-anak yang tinggal di Pulau Jaloh, khususnya yang duduk di tingkat SMA, masih menjalankan sekolah daring. Hal ini membuat Yurmalis sebagai salah satu wali murid, harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan internet bagi proses belajar anaknya.
"Sudah ada kuota pun tak bisa langsung belajar, karena sinyal masih susah di sini, biasanya anak-anak sering pergi ramai-ramai ke lapangan dekat bendungan sana buat cari sinyal internet," jelas Yurmalis.
Minimnya pemasukan dan membengkaknya kebutuhan hidup membuat Yurmalis dan keluarga agak kesulitan mengatur kondisi keuangannya, kendati PPKM sudah dilonggarkan.
Ia berharap, pembangunan yang selama ini dijanjikan pemerintah dapat segera terealisasi di pulau-pulau terluar wilayah Kota Batam. Hingga kini, Yurmalis mengaku dirinya baru memperoleh dua kali bantuan sembako dari pemerintah yang pertama dan satu-satunya bantuan selama pandemi ini.
"Kami harap bantuan dan pembangunan dari pemerintah bisa sampai ke sini. Dan semoga tidak ada lagi PPKM yang membatasi akses kami ke luar pulau untuk berjualan atau berbelanja," tambah Yurmalis.
(TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Human Interest Story
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/3008yurmalis-warga-pulau-jaloh.jpg)