Suka Duka Warga Pulau Terluar saat PPKM, Yurmalis tak Bisa Jual Ikan Terpaksa Dimakan Sendiri
Tinggal di pulau kecil, Yurmalis kerap merasakan repotnya bepergian hanya untuk berbelanja sembako dan kebutuhan pokok lainnya.
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berdampak besar pada masyarakat, tak terkecuali masyarakat nelayan yang tinggal di pulau-pulau wilayah hinterland.
Dampak pandemi Covid-19 yang bermuara pada diterapkannya PPKM, membuat mobilitas masyarakat pulau ikut terdampak.
Kesulitan ini dirasakan warga Pulau Jaloh, Kelurahan Gelam, Kecamatan Bulang, Kota Batam.
Di pulau ini, Yurmalis menggantungkan seluruh hidupnya dan keluarga. Wanita berusia 35 tahun ini adalah istri seorang nelayan Pulau Jaloh yang sehari-hari mendulang rezeki dari mencari ikan.
"Kebanyakan warga di sini kerjanya nelayan," ujar Yurmalis ketika ditemui di Pulau Jaloh beberapa waktu lalu.
Hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Pulau Jaloh memang terbilang cukup melimpah. Biasanya dalam sehari nelayan di Pulau Jaloh bisa memperoleh puluhan kilogram ikan laut jenis kerapu, ikan dingkis dan lain sebagainya.
Ikan-ikan itu kemudian dijual kepada para pengepul. Ada beberapa nelayan yang menjual ikan kepada pengepul yang juga merupakan warga Pulau Jaloh, dan ada juga yang menjual ikan-ikan tersebut kepada pengepul ikan di kawasan OPL atau perbatasan laut antara Batam dan Singapura.
"Tidak semua ikan ada, cuma ikan laut jenis kerapu dan dingkis banyak. Sehari bisa dapat Rp 80.000," ujar Yurmalis.
Perolehan upah hasil penjualan ikan selama ini bagi Yurmalis masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.
Dengan uang itu, ia dapat membelanjakan sembako, dan barang-barang rumah tangga yang biasa dibelinya dari Batam.
Tinggal di pulau kecil, Yurmalis kerap merasakan repotnya bepergian hanya untuk berbelanja sembako dan kebutuhan pokok lainnya.
Perjalanan ke Batam setiap kali harus ditempuhnya dengan menggunakan boat pancung seharga Rp 30.000 sekali jalan.
"Lumayan jauh kalau mau ke Batam, sekitar 1 jam pakai boat," ujar Yurmalis.
Kesulitan bepergian keluar pulau semakin ditambah dengan adanya penerapan PPKM Level 4 beberapa pekan lalu.
Kala itu, selama dua minggu, Yurmalis dan warga Pulau Jaloh lainnya sempat terkungkung dalam pulau tanpa akses bepergian ke luar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/3008yurmalis-warga-pulau-jaloh.jpg)