Minggu, 3 Mei 2026

WAWANCARA EKSKLUSIF

Quo Vadis Olahraga Kepri Pasca PON Papua

Penasihat KONI Provinsi Kepri, HM Nur Syafriadi membahas program Tribun Batam Podcast (TRIPOD), Sabtu (16/10/2021).

Tayang:
Penulis: Febriyuanda |
ISTIMEWA
Penasihat KONI Provinsi Kepri, HM Nur Syafriadi membahas program Tribun Batam Podcast (TRIPOD), Sabtu (16/10/2021). 

KEPRI, TRIBUNBATAM.id - Penutupan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 di Stadion Lukas Enembe, Sentani Timur, Jayapura, Papua, Jumat (15/10/2021) masih menjadi perbincangan hangat.

Hal itu terkait perolehan medali dan peringkat masing-masing atlet provinsi yang berlaga.

Adapun yang menjadi juara umum saat itu, yakni Jawa Barat. Sementara Provinsi Kepri memegang urutan ke-27.

Untuk mengulas lebih dalam tentang atlet Kepri di PON Papua, Tribun Batam membahas itu bersama Penasihat KONI Provinsi Kepri, HM Nur Syafriadi.

Hal itu dalam program Tribun Batam Podcast (TRIPOD), pada Sabtu (16/10/2021).

Berikut wawancara eksklusifnya.

Keterangan, Tribun Batam= TB, Nur Syafriadi=NS 

TB: Selamat siang bang, salam sehat. Menurut abang sendiri, apakah capaian hasil tim PON Kepri dalam PON Papua ini sudah memuaskan atau masih jauh dari harapan?

NS: Setelah melihat tim dari PON Kepri, kita cuma bisa meraih 2 medali emas, 5 medali perak, 4 medali perunggu. Kalau melihat dari hasil medali, dari PON pertama kali kita mulai dari PON ke-16 di Palembang pada tahun 2004, saat itu kita telah meraih 2 emas sama 4 perunggu. Kemudian pada PON ke-17 pada tahun 2008, kita telah meraih 2 medali emas, 5 perak dan 1 perunggu

Melihat dari hasil tim PON Kepri di tahun 2021, jadi menyamai record di tahun 2008. Sebelumnya kita memperoleh banyak medali, artinya di tahun 2021 ini kita jauh turun prestasinya dibanding tahun sebelumnya.

Dari tahun ke tahun ke tahun kita meningkat, sekarang kita kembali drop lagi. Dulu kita pernah menjadi ranking ke-19 di Indonesia, tapi sekarang Kembali ke ranking 27. Ini tentu sangat mengecewakan, walaupun kami tetap memberikan apresiasi.

TB: Perolehan medali itu dari cabang mana saja bang di PON Papua?

NS: Kalau 2 emas itu dari cabang layar. Sementara 5 perak itu ada yang dari layar, ada yang dari tinju, ada yang dari billiard.

TB: Dari penelusuran abang sendiri dari PON pertama sampai saat ini, cabang olahraga mana yang konsisten mempertahankan medali emas?

NS: Cabang yang paling di unggulkan untuk Kepri ini adalah cabang olahraga layar. Kita tidak perlu membawakan cabang yang ramai-ramai, tapi tidak membuahkan hasil dan tidak mungkin dapat dibina dengan cepat. 

Selain layar, itu ada cabang olahraga tinju. Itu potensi emasnya juga besar, apalagi ski air. Jadi kita harus jaga dan bina terus atlet-atlet Kepri ini supaya terus jangan sampai lari ke luar 

TB: Abang menyebutkan, kita kekurangan alat olahraga untuk cabang layar. Lalu, apa solusi untuk mengatasi kendala, atas kekurangan peralatan olahraga layar sendiri?

NS: Tentu memanfaatkan peralatan yang ada seoptimal mungkin, kemudian tetap juga mengirimkan pelatihan-pelatihan dengan daerah yang terbatas.

Kemarin kita pernah berlatih dan mengirimkan ke Malasya, sekarang kita hanya kirimkan ke Manado atau di Jawa Barat latihannya. Emang anggaran tidak mendukung untuk itu, jadi apa adanya aja yang kita optimalkan.

Kemudian asupan asupan yang bergizi untuk para atlet berkurang, karena kemampuan anggaran terbatas. Itu tentu sangat berpengaruh pada kemampuan Atlet saat bertanding di PON itu.

Jadi Pemerintah harus turut hadir di dalam dunia olahraga Kepri, jangan hanyak bicara dukung saja.

TB: Bang, kita tahu bahwa Atlet layar kita dibajak oleh Jawa Timur. Itu kasus kapan sebenarnya?

NS: Pada tahun saya menjadi ketua harian KONI Kepri

Atlet kita itu sebenarnya adalah atlet layar yang kita backup di sini, sudah diangkat menjadi Angkatan Laut dan ditugaskan di kapal perang. Kemudian dia bertugas di Surabaya, di sana dia latihan minta izin sama kami, lalu kami persilahkan. Tapi dia tidak hanya latihan di sana, dia diambil oleh Jawa Timur.

Akhirnya, kami sidang di KONI pusat untuk mempertahankan atlet kit. Termasuk atlet ski kita yang meraih emas di Jawa Barat itu. Akhirnya saya berhasil mempertahankan atlet ski itu.

Tetapi atlet layar ini tidak bisa dipertahankan, karena dia sudah berpindah tugas di Surabaya. Akhirnya kita ngalah, tapi dengan catatan Jawa Timur mesti mengembalikan biaya kita melatih dia supaya bisa mendapat emas itu. Kita hanya tuntut membeli peralatan layar untuk junior-junior, dengan yang mereka mampu Rp 325 juta.

TB: Oke bang. Selain layar, kita juga memperoleh medali dalam cabang tinju. Lalu bagaimana abang melihat perkembangan cabang olahraga tinju di Kepri?

NS: Tinju di Kepri cukup baik ya. Memang tidak gampang untuk mendidik tinju itu karena dibutuhkan pelatih yang handal, tetapi pelatih kita sangat luar biasa bisa menciptakan sasana yang baik melarikan petinju-petinju yang bisa masuk ke tingkat nasional.

Tinju itu sangat potensif, tetapi dia tidak cukup hanya berlatih di daerahnya. Dia harus coba dan trial ke luar. Nah, disitulah kita kurang, karena tidak melatih atlet kita ke luar daerah. Sehingga di tahun ini tidak ada emas yang disumbangkan tinju itu, hanya perak.

TB: Kenapa dari dulu soal pembinaan KONI Kepri itu selalu soal anggarannya yang kurang. Apakah tidak ada solusi atau pendekatan kepada pemerintah?

NS: Salah satu strateginya adalah, memasukkan anggota-anggota DPRD itu menjadi pengurus KONI, dengan harapan saat dia rapat anggaran dengan pemerintah daerah bisa memperjuangkan anggaran untuk KONI.

Tapi kenyataannya, ada 7 pengurus KONI di provinsi itu yang menjadi anggota DPRD tetapi anggaran tidak bergerak juga, tetap saja 3,5 miliar. Karena Pemerintah Daerah punya skala prioritas, mungkin olahraga tidak masuk dalam prioritas pemerintah daerah.

TB: Apa potensi cabang olahraga yang ada, sehingga bisa diusahakan untuk ke depan di PON 2004 nanti bisa menyumbangkan emas?

NS: Jadi cabang prioritas utama sudah ada, yaitu tinju dan juga layar. Kemudian cabang yang memungkinkan mendukung mendapatkan medali yang akan datang yaitu cabang olahraga billiard. Jadi cabang yang memperoleh perunggu itu perlu diperhatikan untuk empat tahun ke depan.

Jadi ada layar, billiard, tarung derajat, tinju, kemudian ada juga cabang sepak takraw. Kemudian ada juga yang dimungkinkan yaitu cabang olahraga renang.

Harusnya di wilayah Kepri ini, kita harus melahirkan perenang-perenang yang handal untuk menjagoi di olahraga PON. (TRIBUNBATAM.id/Febriyuanda)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita tentang Batam

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved