LINGGA TERKINI
Bupati Lingga Minta Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem Dampak La Nina
Bupati Lingga Muhammad Nizar ingatkan masyarakat terkait kondisi alam yang sewaktu-waktu dapat berubah jadi cuaca ekstrem, termasuk dampak La Nina
Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Pemerintah Kabupaten Lingga mengimbau seluruh masyarakat Lingga untuk mewaspadai potensi hujan dengan intensitas tinggi.
Bupati Lingga, Muhammad Nizar mengingatkan, puncak intensitas hujan tinggi biasanya terjadi pada November. Karena itu warga diminta waspada.
Selain hujan dengan intensitas tinggi, Nizar juga mengingatkan potensi dampak La Nina, khususnya bagi masyarakat di pesisir pantai dan nelayan.
"Agar bisa bersama-sama untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi alam yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi cuaca ekstrem," kata Nizar dalam rilis yang diterima TribunBatam.id, Senin (1/11/2021).
Nizar menyebutkan, cuaca ekstrem tersebut bisa berpotensi gelombang tinggi, angin kencang, hujan disertai petir di wilayah areal pantai, pelabuhan atau pelantar, jembatan dan pepohonan tinggi di sekitar rumah.
"Lakukan tindakan preventif agar tidak terjadi korban jiwa atau harta. Bagi nelayan yang akan melaut selalu menggunakan life Jacket dan tidak turun melaut jika cuaca tidak memungkinkan," imbau Nizar.
Nizar juga meminta masyarakat untuk melaporkan segera kondisi wilayah kepada aparat Pemerintah, TNI/POLRI setempat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Baca juga: Kapal Roro Tujuan Lingga Bakal Dialihkan ke Pelabuhan Penarik, Ini Sebabnya
Baca juga: Ingatkan Masa Kecil, Permainan Tradisional Ini Diperlombakan di Lingga
Masyarakat bisa menghubungi pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lingga, dengan nomor telepon dan WhatsApp 081275723321 atau 081277289555.
"Mari kita saling mengingatkan satu sama lainya," ujarnya.
Dampak Fenomena La Nina
Diberitakan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat memprediksi fenomena La Nina akan terjadi di wilayah Indonesia pada November 2021 hingga Februari 2022.
Forecaster On Duty BMKG Hang Nadim Batam, Made Rony menjelaskan, La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi.
La Nina terjadi ketika Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.
Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah. Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat," sebutnya, Senin (1/11/2021).
Karena massa air hangat berpindah tempat, maka air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Hal ini disebut upwelling dan membuat SML turun.
Kondisi ini akan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia, serta membuat musim hujan terjadi lebih lama.
Sehingga, La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson.
Baca juga: Bahaya La Nina yang Diprediksi Terjang Indonesia Bulan Depan, Simak Tips Mengantisipasinya
Baca juga: BADAI La Nina Akan Terjang Indonesia Mulai November, Ini Pesan BMKG untuk Warga Batam
Dengan kata lain, Indonesia saat ini lebih hangat, di sana lebih dingin. Aehingga terjadi anomali atau perbedaan. Secara teori apabila perbedaan itu mencapai minus 0,5 maka itu dinyatakan sebagai ambang batas terbentuknya La Nina.
Lebih lanjut, hal ini akan menyebabkan terjadinya aliran massa udara basah, tetapi bukan sirkulasi yang kencang seperti terjadinya badai tropis.
Namun untuk daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) fenomena meteorologi tersebut tidak terjadi.
"Untuk Indonesia bagian barat tidak pernah terjadi. Potensi itu ada pada bagian Tengah dan Timur. Jadi untuk di Kepri tidak ada," ujarnya.
Ia menyebutkan, untuk di Kepri fenomena Dipole Mode Index (DMI). Dimana merupakan perbandingan suhu muka laut Samudera Hindia barat dengan suhu muka laut Samudera Hindia Timur Afrika dengan nilai -0,5 low pressure atau daerah tekanan rendah, yang akan membelokkan arah angin hingga membuat kecepatan angin jadi lambat.
"Pada saat suhu permukaan laut di Samudera Hindia panas atau biasa disebut Sea Surface Temperatures (SST). Dengan panasnya permukaan laut itu menyebabkan curah hujan di Kepri cukup tinggi," katanya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, membenarkan adanya fenomena La Nina dalam waktu dekat ini.
Namun, ia memprediksi, fenomena La Nina tidak terlalu berdampak di wilayah Kepulauan Riau.
"Kita berada di daerah khatulistiwa, jadi dampaknya tidak signifikan. Kalau badai La Nina cenderung basah, jadi nanti di wilayah yang lebih kering, hujannya akan meningkat," ujar Suratman, Jumat (22/10/2021).
Menurut Suratman, Batam tidak memiliki musim kemarau atau pun hujan yang signifikan.
Baik badai La Nina yang bersifat basah maupun El Nino yang bersifat kering hanya akan berdampak besar pada wilayah Indonesia Bagian Tengah.
Sementara itu, di wilayah Kota Batam, cuaca biasanya terpengaruh oleh cuaca-cuaca lokal atau regional seperti terjadinya pusaran angin di wilayah Kalimantan bagian barat atau Laut Cina Selatan.
"Batam juga biasanya terpengaruh angin utara, dampaknya hujan lebat sama angin kencang. Kalau selain itu kita nggak pengaruh, wilayah ini (Batam) termasuk enak juga," tambah Suratman.
(TribunBatam.id/Febriyuanda/Endra Kaputra/Hening Sekar Utami)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Lingga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0111perairan-desa-jagoh.jpg)