Minggu, 26 April 2026

Potensi Laut Natuna Utara, Ibarat Taman Bunga Kaya Nektar Bahan Madu

Pemerintah China melayangkan protes ke Indonesia karena melakukan pengeboran minyak dan gas (migas) di wilayah perairan Kepulauan Natuna.

ist
Skematik pola arus unik di Laut China Selatan dan Laut Natuna (Utara), yakni Viet Nam Jet Current (VJC) dan Natuna Off-Shelf Current (NOC). 

Kemudian berbalik arah ketika mendekati tebing Laut Natuna (Utara) sehingga kemudian disebut sebagai Natuna Off-Shelf Current (NOC).

Widodo menambahkan, Sungai Mekong yang bermuara di pesisir Viet Nam, memasok nutrien atau zat hara dari darat mengalir ke dasar Laut China Selatan.

Adanya Viet Nam Ject Current dan Natuna Off-Shelf Current tersebut mengangkat zat hara dari dasar perairan menuju ke atas (upwelling).

"Kemudian perairan menjadi sangat subur menyediakan khlorofil dan oksigen yang digunakan oleh ikan dan biota laut ekonomis tumbuh dan berkembang biak," ujar Widodo yang juga sebagai 3. Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).

Khlorofil dan oksigen tersebut juga tersebar dengan merata dan baik di seluruh perairan pesisir di Laut China Selatan dan Laut Natuna (Utara).

Sehingga tidak heran satelit Vessel Monitoring System yang disajikan oleh Global Fishing Watch mendeteksi sangat banyak kapal penangkap ikan di sana.

Bahkan aktivitas kapal penangkapan ikan secara terus menerus hampir sepanjang tahun.

Kapal-kapal tersebut ada yang memiliki identitas/izin penangkapan, dan banyak pula yang tidak memiliki identitas/izin penangkapan.

Pengelolaan konflik pemanfaatan sumber daya

Pemanfaatan sumberdaya di Laut China Selatan dan Laut Natuna (Utara) juga memantik konflik.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sudah 30 tahun berperan aktif dalam upaya diplomasi perdamaian di kawasan Laut China Selatan.

Diplomasi penanganan potensi konflik di Laut China Selatan yang terbaru adalah Lokakarya “The 30th Workshop on Managing Potential Conflict in the South China Sea” pada 13-14 Oktober 2021.

Lokakarya diselenggarakan Pusat Strategi Kebijakan Luar Negeri Multilateral, Kementerian Luar Negeri, yang bekerjasama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Center for South-East Asian Studies (CSEAS).

Diplomasi perdamaian yang telah dilakukan adalah dengan melakukan riset/penelitian dan pengembangan secara bersama-sama antar negara-negara di kawasan Laut China Selatan, seperti: Indonesia, Republik Rakyat China, China Taipei, Viet Nam, Filipina, Malaysia, Thailand, Laos, Kambodia, Myanmar, Singapura dan Brunei Darussalam.

Diplomasi perdamaian melalui riset telah dilakukan selama kurang lebih 16 tahun. Salah satunya dengan terbentuknya kelompok kerja studi p asang surut dan dinamika muka laut.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved