Jumat, 1 Mei 2026

China Punya Obat Covid-19, Klaim Tekan Risiko Rawat Inap hingga Kematian

Obat covid-19 hasil pengembangan China ini bahkan diikuti Inggris dan otoritas kesehatan Uni Eropa.

Tayang:
Tribun Network
Ilustrasi Covid-19 - China mengklaim memiliki obat covid-19 yang dapat mengurangi risiko rawat inap bahkan kematian, khususnya untuk pasien berisiko tinggi. 

TRIBUNBATAM.id - Pandemi covid-19 masih menjadi perhatian dunia Internasional, termasuk China.

Sejumlah penelitian terus dikembangkan guna mencari obat pasti untuk menyembuhka orang yang terkonfirmasi virus yang banyak memakan korban jiwa ini.

Belum lagi selesai dengan penanganan covid-19, dunia kembali dibuat pusing dengan virus corona varian Omicron yang terus berkembang.

Yang terbaru covid-19 varian B.1.1.529 atau varian Omicron yang telah terdeteksi pada sejumlah negara.

Singapura bahkan baru-baru ini melaporkan lagi 2 kasus covid-19 varian Omicron yang terdeteksi di negaranya.

Baca juga: Obat Covid-19 Pil Molnupiravir Gratis atau Berbayar? Ini Penjelasan Kemenkes

Baca juga: Janji China Bantu Negara di Afrika Terkait Covid-19, Vaksin hingga Investasi Fantastis

Satu bahkan diketahui merupakan petugas bandara sekaligus merupakan kasus pertama.

China yang disebut-sebut sebagai negara pertama munculnya virus corona ini pun terus mengembangkan penelitiannya.

Yang terbaru, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu mengklaim obat covid-19 yang bisa mengurangi risiko rawat inap bahkan kematian secara signifikan untuk pasien berisiko tinggi.

Penggunaan obat hasil pengembangan Universitas Tsinghua, Brii Biosciences serta Rumah Sakit Rakyat Ketiga Shenzhen ini bahkan sudah mendapat lampu hijau Badan Produk Medis Nasional pada Rabu (8/12) seperti diberitakan AFP.

Inggris pekan lalu juga mengizinkan perawatan dengan menggunakan obat covid-19 seperti yang diterapkan di China ini.

Otoritas kesehatan Uni Eropa telah menyetujui pil covid-19 untuk penggunaan darurat, yang melibatkan obat antivirus guna memperlambat penyakit dengan mengurangi kapasitas virus bereproduksi di dalam tubuh.

Pengobatan antibodi monoklonal namanya.

Antibodi monoklonal adalah sejenis protein yang menempel pada spike protein virus corona, sehingga mengurangi kemampuannya untuk memasuki sel-sel tubuh.

Perawatan tersebut melibatkan kombinasi dua obat, diberikan melalui suntikan.

Serta dan dapat digunakan untuk mengobati kasus-kasus tertentu yang berisiko berkembang menjadi lebih parah, kata Badan Produk Medis Nasional China diberitakan Kompas.com dari AFP.

Meski pil lebih mudah digunakan, pengobatan paling efektif untuk Covid saat ini melibatkan antibodi monoklonal yang diberikan melalui infus.

Baca juga: China Gak ada Lawan? Sederet Alasan Mengapa Banyak Produk Made in China

Baca juga: China Gelagapan! WHO Temukan Lab Lain di Wuhan Dipindahkan Diam-diam Otoritas Xi Jinping

China juga 'dikejar' dengan semakin banyak penelitian yang menunjukkan vaksinnya memiliki tingkat kemanjuran lebih rendah daripada banyak vaksin yang dibuat di luar negeri.

Data percobaan menunjukkan bahwa terapi kombinasi dapat mengurangi risiko rawat inap dan kematian pada pasien berisiko tinggi sekitar 80 persen, menurut keterangan Universitas Tsinghua di media sosial pada Rabu malam.

Laporan media pemerintah bulan lalu menambahkan, pengobatan tersebut juga telah digunakan pada pasien yang terinfeksi wabah lokal.

Pil Molnupiravir

Klaim obat covid-19, pil Molnupiravir sebelumnya sudah pernah disampaikan.

Perusahaan farmasi Amerika Serikat, Merck diketahui menciptakan obat tersebut.

Obat ini bahkan telah mendapat persetujuan Inggris sebagai obat Covid-19 pertama yang bisa diminum.

Persetujuan Inggris dikeluarkan pada Kamis (4/11/2021) dan menjadikannya negara pertama di dunia yang menyetujui penggunaannya.

Lalu apa itu pil molnupiravir, bagaimana cara kerjanya, dan apakah bisa menggantikan vaksin Covid-19?

Berikut serba-serbi pil Merck molnupiravir yang dirangkum Kompas.com dari AFP.

1. Inggris Negara Pertama yang Setujui Pil Covid Merck Molnupiravir

Inggris memberi lampu hijau penggunaan pil Merck molnupiravir untuk mengobati pasien Covid-19 yang menderita gejala ringan hingga sedang, kata Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA).

Baca juga: HEBOH Varian Omicron Siluman Ditemukan, Ini Fakta-faktanya Versi Ilmuan

Baca juga: Perusahaan China hingga Amerika Serikat Sahamnya Rontok Imbas Covid-19 Varian Omicron

"Hari ini adalah hari bersejarah bagi negara kita, karena Inggris sekarang menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui antivirus yang dapat dibawa pulang untuk Covid-19," kata Menteri Kesehatan Sajid Javid.

"Ini akan menjadi game-changer bagi orang-orang yang paling rentan dan imunosupresi, yang akan segera dapat menerima terobosan pengobatan," tambahnya.

2. Cara Kerja dan Pemakaian Pil Covid Molnupiravir

Pil molnupiravir bekerja dengan mengurangi kemampuan virus untuk bereplikasi, sehingga memperlambat penyakit.

MHRA mengatakan, uji coba menyimpulkan pil Covid Merck molnupiravir "aman dan efektif untuk mengurangi risiko rawat inap dan kematian, pada orang dengan Covid-19 ringan hingga sedang yang berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah".

Berdasarkan data uji klinis, pil Covid Merck ini paling efektif bila diminum saat tahap awal infeksi, dan MHRA menyarankan agar digunakan dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala.

Pil Covid Merck molnupiravir sudah diizinkan digunakan pada orang yang memiliki setidaknya satu faktor risiko untuk mengembangkan penyakit parah, termasuk obesitas, usia tua, diabetes, dan penyakit jantung.

3. Obat Covid-19 Pertama yang Bisa Diminum

Kepala eksekutif MHRA June Raine menyebut pil molnupiravir sebagai tambahan senjata untuk melawan Covid-19.

"Ini juga merupakan antivirus pertama yang disetujui di dunia untuk penyakit ini yang dapat diminum alih-alih diberikan secara intravena," tambahnya.

"Ini penting karena (obat) itu berarti dapat diberikan di luar rumah sakit."

Uji klinis menemukan, pil molnupiravir efektif mengurangi risiko masuk rumah sakit, atau kematian bagi orang dewasa yang tidak dirawat di rumah sakit yang berisiko hingga 50 persen, menurut Munir Pirmohamed, ketua Komisi Human Medicines.

Baca juga: Cadangan Migas Laut Natuna Utara yang Diklaim China, Singapura Sempat Dibuat Pusing

Baca juga: Ribuan Warga Batam Belum Dapat Vaksin Corona, Dinkes Klaim Capaian Hampir 100 Persen

Hingga saat ini, pengobatan Covid-19 seperti antibodi monoklonal dan remdesivir Gilead - yang diizinkan untuk digunakan di Uni Eropa dengan nama Veklury - diberikan secara intravena.

4. Awalnya untuk Menghambat Influenza

Molnupiravir awalnya dikembangkan sebagai penghambat influenza dan virus pernapasan oleh tim di Universitas Emory di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Merck juga melakukan uji klinis terpisah untuk penggunaan pil molnupiravir sebagai pencegahan bagi orang yang melakukan kontak dekat dengan pasien Covid-19 agar tidak terjangkit penyakit tersebut.

5. Bukan Pengganti Vaksin Covid-19

Namun para ahli memperingatkan, pil molnupiravir bukanlah obat ajaib dan Pirmohamed mengatakan, obat itu tidak dimaksudkan sebagai pengganti vaksin Covid-19.

Pemerintah Inggris mengatakan, mereka dan Layanan Kesehatan Nasional (NHS) yang dikelola negara akan mengumumkan peluncuran pil Covid Merck molnupiravir pada waktunya.

Baca juga: Timnas Malaysia Ketakutan di Ajang AFF2020, 2 Pemainnya Andalannya Terkena Covid-19

Baca juga: Singapura Waspada Omicron, 2 Pelancong Positif Varian Baru Corona Transit di Bandara Changi

6. Dipesan Ratusan Ribu hingga Jutaan Dosis

Inggris yang menjadi salah satu negara paling terpukul oleh pandemi Covid-19, pada 20 Oktober mengumumkan bahwa mereka telah memesan 480.000 dosis molnupiravir dari raksasa farmasi AS, Merck.

Regulator obat di Amerika Serikat dan Uni Eropa juga memulai evaluasi obat Covid-19 ini.

Merck telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah lain, termasuk AS, yang merencanakan pembelian 1,7 juta dosis jika pil molnupiravir disetujui oleh regulator.(TribunBatam.id) (Kompas.com/Aditya Jaya Iswara)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang China

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved