3 Hotel Berbintang di Batam Dikabarkan Bakal Gulung Tikar, Reaksi Kepala Disbudpar?
Beredar kabar ada tiga hotel berbintang di Batam akan tutup, Kadispar Batam Ardiwinata sebut, hingga kini belum ada laporan resmi ke pihaknya
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Selama pandemi Covid-19 satu per satu sektor perhotelan di Batam tutup karena tak kuat menahan hantaman pandemi covid-19.
Ditambah lagi belum stabilnya pemulihan pariwisata, turut memberikan dampak kepada pelaku wisata.
Baru-baru ini, beredar kabar tiga hotel berbintang di Batam akan tutup. Jika ini benar terjadi, tentu akan menambah daftar hotel yang tutup di Batam selama pandemi covid-19.
Dimintai tanggapannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata mengaku, sampai saat ini belum ada informasi penambahan hotel yang tutup.
Meski pun ada informasi yang menyebutkan ada tiga hotel yang tengah bersiap untuk mengakhiri masa aktif mereka.
"Secara resmi belum ada. Bahkan komunikasi via telpon atau lainnya juga belum," tuturnya.
Menurutnya, hotel yang tutup bisa karena memang tidak difungsikan lagi, atau bisa juga karena berganti manajemen. Biasanya hotel tak mampu bertahan karena tingkat okupansi yang rendah, sehingga tidak sanggup menutup biaya operasional.
"Namun sejauh ini biasanya banyak juga yang ganti manajemen. Tapi ada juga yang tutup total," kata Ardi.
Baca juga: GUBERNUR Kepri Sebut Ada 3 Hotel Berbintang di Batam Bakal Gulung Tikar, Hotel Apa Saja?
Baca juga: Dapat Kepastian, Gubernur Kepri Gesa Pembebasan Lahan untuk Jembatan Batam Bintan
Ia mengakui selama ini Batam sangat bergantung dari wisawatan mancanegara (wisman), sedangkan wisatawan nusantara (wisnus) tidak terlalu mempengaruhi.
Itu akibat belum maksimalnya pembukaan pintu masuk Batam ke Singapura, dan Malaysia yang notabene merupakan penyumbang terbesar untuk Batam.
"Memang sudah dibuka, tapi sepertinya kedua negara hati-hati terkait program travel bubble atau lainnya yang diluncurkan pusat. Sebab ini kan sudah masuk bilateral," ujarnya.
Mengenai informasi penutupan tiga hotel di Batam tersebut, menurutnya bisa disebabkan karena sepi dari pengunjung.
Sedangkan biaya operasional terus ada. Kepastian rencana penutupan hotel ini masih belum didapat pihaknya.
"Kalau sudah lapor tentu kami tahu. Tapi saya berharapnya pengelola hotel bisa bertahan. Sebab dalam waktu dekat ini suasana akan kembali normal. Sehingga hotel bisa kembali ke masa jayanya," tutur mantan Sekretaris Disbudpar ini.
Lebih lanjut, Pemerintah juga tengah melakukan percepatan pemulihan sektor pariwisata. Hampir semua program yang memudahkan masuknya wisman tengah dikerjakan.
Harapannya, tidak ada lagi hotel yang tutup operasional mereka.
Kendati demikian, Ardi menyebut saat ini total hotel mencapai 220, baik bintang dan non bintang. Pembangunan hotel juga terlihat, hal ini terbukti dengan hadirnya Marriot Hotel, dan Mercure yang dalam tahap penyelesaian.
"Ada yang tutup dan ada juga yang bangun. Jadi semua berjalan. Ini membuktikan Batam siap keluar dari jeratan pandemi ini. Seperti diketahui sektor wisata paling banyak terdampak," katanya.
Kata Gubernur Kepri
Sebelumnya diberitakan, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad, mengaku prihatin melihat kondisi pariwisata di Kepri selama pandemi Covid-19 saat ini.
Ia berharap, pemerintah pusat dapat menindaklanjuti usulan Pemerintah Provinsi Kepri terkait diskresi-diskresi dalam sektor pariwisata yang saat ini mulai diterapkan.
Pasalnya, beberapa pelaku usaha wisata dan perhotelan masih belum merasakan dampak dari dibukanya kebijakan baru Travel Bubble yang bertujuan menggaet wisatawan mancanegara (wisman) ini.
Bahkan, terbaru, Ansar mengungkapkan bahwa hingga kini sudah ada tiga hotel berbintang yang menyampaikan rencana menghentikan kegiatan operasionalnya akibat tidak kuat menahan hantaman pandemi Covid-19.
"Tiga hotel ini semuanya di Batam, jika benar terjadi, tentu akan menyusul Hotel Harmoni One Nagoya yang sudah tutup sebelumnya," ujar Ansar, Rabu (16/3/2022).
Terkait hal ini, Ansar menilai ini dapat terdampak pada angka pengangguran yang akan terjadi.
Meski, ia mengakui saat ini tingkat pengangguran di Kepri sebenarnya telah menunjukkan angka positif, dengan penurunan sebesar 1 persen.
"Tapi ini akan buyar apabila dalam bulan ini kita tidak bisa menerapkan skema VTL. Saya sudah minta manajemen ke tiga hotel itu untuk tetap bertahan selama sebulan," jelas Ansar.
Guna meningkatkan akses terhadap pariwisata Kepri, khususnya bagi wisman, pihaknya sudah mengirimkan surat kepada Kemenkumham RI agar Visa on Arrival (VOA) bagi wisman dari negara lain bisa mulai diterapkan.
"Dalam dua hari ini kita harap ada kabar baik dari Kemenkumham. Kalau belum, saya terpaksa kembali ke Jakarta," tambah Ansar.
(tribunbatam.id / Roma Uly Sianturi)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kadisbudpar-batam-soal-rencana-kapal-pertama-travel-bubble.jpg)