TADARUS RAMADAN
Ceramah Ramadan, Puasa Membentuk Pribadi yang Unggul
Menurut Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak.
Ketiga, lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif dan efisien. Ketiga nilai puasa tersebut menjadi pedoman dalam implementasi pendidikan karakter.
Dalam paper lainnya disebutkan bahwa puasa sebagai pendidikan karakter, bisa dilihat juga dari enam pilar pelaksanaannya, yaitu dipercaya, jujur, saling menghormati, peduli sesama, bertanggung jawab, dan kewargaan secara sosial agama.
Nilai-nilai positif di atas tentu sejalan dengan tujuan diwajibkanya ibadah puasa, yakni menciptakan insan yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”(QS. Al-Baqarah: 183).
Taqwa dalam pengertian yang umum yakni menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Namun dalam konteks yang lebih luas, Yusuf al-Qaradhawi, menyatakan keharusan adanya kaitan antara amal ritual dan amal sosial dalam beragama.
Pada bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas ibadahnya dengan memperbanyak membaca Al Quran, shalat qiyamul lail, dzikir dan berdoa serta ibadah lainnya dalam rangka hablum minallah.
Namun pada saat yang sama, juga dianjurkan untuk memperbanyak shadaqah, membantu fakir miskin serta menyantuni anak yatim sebagai bentuk hablum minannas.
Dengan kata lain, puasa juga memiliki dimensi garis horisontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma, menyantuni orang dhuafa, sabar dalam menerima cobaan.
Karena barometer kebajikan bagi Allah juga bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial.
Melalui ibadah di Bulan Ramadan, pesan dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang shaleh namun juga membentuk pembangunan karakter (character building) sebuah umat, masyarakat, dan bangsa yang saleh dan kokoh.
Dari uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa ibadah puasa, sebagaimana ibadah yang lainnya, memiliki pesan yang double dimensi yakni tidak hanya memperkuat hubungan vertikal namun juga hubungan horisontal.
Sebagaimana diuraikan di atas, ibadah puasa juga sarat dengan pesan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi, seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong-menolong.
Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial.
Hal ini adalah sejalan dengan esensi pendidikan karakter yang merangkai berbagai platform, yakni sikap (attitudes), perilaku (behavior), motivasi (motivation) dan keterampilan (skills) yang pada akhirnya bermuara pada pembentukan karakter manusia yang mulia dan bermoral.
Substansi yang sama dengan tujuan ibadah puasa, yakni membentuk pribadi yang bertaqwa. Semoga bermanfaat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0404_muhammad-zaenuddin.jpg)