Sering Disamakan Dengan Maag, Kenali Bahaya Penyakit GERD dan Cara Mengatasinya
Gastroesophageal reflux disease atau lebih dikenal dengan Gerd, seringkali disamakan dengan penyakit maag karena gejalanya sekilas mirip, yaitu nyeri
TRIBUNBATAM.id - Gastroesophageal reflux disease atau lebih dikenal dengan Gerd, seringkali disamakan dengan penyakit maag karena gejalanya sekilas mirip, yaitu nyeri dan asam lambung.
Padahal, Gerd dan penyakit maag memiliki perbedaan, mulai dari kondisi hingga gejala yang dialami penderitanya.
Dr Hasan Maulahela, SpPD-KGEH, yang berpraktik di RS Pondok Indah Jakarta, menjelaskan perbedaan antara kedua penyakit tersebut.
"Secara umum Gerd adalah penyakit yang diakibatkan refluks asam lambung di kerongkongan. Sedangkan, sakit maag itu adalah kondisi peradangan yang terjadi di bagian lambung," kata Hasan, dalam program talkshow 'Perbedaan Gerd dan maag' yang ditayangkan live di akun Facebook Kompas.com.
Gejala yang paling menonjol dari Gerd biasanya ada rasa panas di dada, atau yang dikenal dengan sebutan heartburn, serta rasa ingin muntah atau makanan berbalik.
"Gejala lain yang tidak spesifik adalah sesak napas mirip asma, batuk kronis, perubahan suara, dan radang tenggorokan," papar Hasan.
Sedangkan untuk penyakit maag, gejala yang paling utama adalah rasa nyeri di ulu hati dan kiri atas.
Baca juga: Tips Aman Berpuasa Bagi Penderita GERD, Mulailah dengan Tidak Melewatkan Makan Sahur
Baca juga: Jangan Sampai Telat Menangani, Kenali Bedanya Penyakit Asam Lambung Biasa dengan Gejala GERD
Penyebab Gerd, perubahan gaya hidup yang serba cepat dan praktis, serta pola makan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, berkontribusi pada peningkatan kasus Gerd.
"Kami melakukan penelitian di Jakarta, dan tren kasus Gerd meningkat, terutama pada orang di usia produktif," ujarnya.
Gerd juga dipicu oleh pola makan yang berlebihan, konsumsi makanan yang mengandung lemak, kebiasaan merokok, dan obesitas.
"Makan makanan yang langsung banyak porsinya, bisa memicu Gerd. Pencetus lain dari Gerd adalah minuman berkafein seperti kopi, dan stres psikologis karena pekerjaan," kata Hasan.
Umumnya, penyakit Gerd tidak berakibat fatal.
Namun pada pasien yang memiliki penyakit jantung, Gerd harus diwaspadai.
"Gerd bisa memicu detak jantung yang terlalu cepat jika terjadi terus menerus," sebutnya.
Pengobatan Gerd Dalam beberapa kasus, diperlukan tindakan endoskopi atau pemeriksaan rongga tubuh guna mengetahui kondisi pasien.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ghckghj.jpg)