Mengenal Virus Hendra yang Menular dari Hewan ke Manusia
Setelah Covid-19 yang tak jelas kapan selesai dan Flu Singapura dan Cacar Monyet baru-baru ini kembali jadi pembahasan kini muncul lagi virus hendra
TRIBUNBATAM.id -Dunia sepertinya tak henti-henti "diserang" virus-virus aneh yang datang siih berganti.
Setelah Covid-19 yang tak jelas kapan selesai, Flu Singapura dan Cacar Monyet yang baru-baru ini kembali jadi pembahasan, kini muncul lagi virus hendra.
Dilaporkan, bahwa seseorang yang sudah terinfeksi virus hendra dapat menunjukkan beberapa gejala, yakni:
- Demam
- Batuk
- Nyeri tenggorokan
- Nyeri kepala
- Meningitis atau radang selaput otak
Baca juga: Mirip Sakit Cacar, Ini FAKTA Lengkap Virus Cacar Monyet atau Monkeypox
Baca juga: 7 Pria di RSKI Covid-19 Galang Batam Masih Berjuang Sembuh dari Virus Corona
Peneliti dari Griffith University Australia mengatakan, virus hendra (HeV) dapat menular pada kuda dan manusia.
Mengutip laman Griffith University, Selasa (10/6/2022) virus tersebut terdeteksi pada urine kelelawar berkepala hitam dan abu-abu, yang menyebar di New South Wales hingga Queensland.
"Hasil studi kami dengan meneliti spesies kelelawar tertentu, membantu mengidentifikasi bagaimana varian virus ini menular ke kuda dan manusia," ujar pemimpin studi dari Centre for Planetary Health and Food Security, dr Alison Peel.
Dia menjelaskan, infeksi virus hendra adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Virus hendra umumnya ditemukan pada akhir bulan Mei sampai akhir Agustus.
Akan tetapi, penularannya diyakini bisa terjadi di semua musim.
"Perkembangan kelelawar berkepala abu-abu di wilayah NSW (New South Wales), Victoria dan Australia Selatan, biasanya tidak dianggap berisiko tinggi untuk menularkan virus hendra. Tetapi bukti terbaru menunjukkan ada risiko penularan virus hendra pada kuda dan pemiliknya (manusia)," kata Peel.
Sementara itu, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menuturkan bahwa virus hendra sebenarnya sudah lama ditemukan, dan merupakan penyakit endemi di beberapa wilayah.
Virus ini, lanjut dia, berasal dari flying fox-semacam kelelawar yang memakan buah-buahan.
Baca juga: Bintan Bebas Pasien Covid-19 Baru Meski Sehari, Jumlah Aktif Virus Corona Masih 12 Kasus
Baca juga: Virus Corona Serang PMI di Batam Lagi, 94 Pahlawan Devisa Dipindah ke RSKI Covid-19 Galang
"Yang menjadi kenapa manusia sering kali terpapar hendra virus ini, karena kelelawar buah sering akhirnya menginfeksi kuda. Ketika menginfeksi kuda, kotorannya flying fox ini mencemari makanan yang dimakan kuda, itu menginfeksi kuda dan mematikan," papar Dicky, Senin (16/5/2022).
Sejak dilaporkan pada 1994 lalu, infeksi virus hendra tercatat menyebabkan 80 persen kematian pada kuda.
Risiko kematian ini juga terjadi pada manusia yang terpapar virus.
"Tujuh dari 10 manusia yang terkena hendra virus meninggal. Makanya ini suatu penyakit yang sumbernya dari binatang atau zoonotik virus yang mematikan dan berbahaya," imbuhnya.
Meski begitu, ia menyebut penularan virus hendra ke manusia jarang relatif jarang terjadi.
Total, hanya tujuh pasien yang dilaporkan terinfeksi virus ini di beberapa negara maju sampai tahun 2013.
Dicky berkata, virus hendra termasuk kelompok virus lyssa yang menyebabkan rabies.
Diketahui bahwa virus hendra bisa menular dari hewan ke manusia, namun penularan antarmanusia sejauh ini belum ditemukan.
Adapun proses penularannya dapat terjadi ketika seseorang menyentuh kotoran kuda yang sudah terinfeksi.
Ia juga menekankan pentingnya sanitasi atau kebersihan diri, terutama bagi masyarakat yang berada di lingkungan peternakan kuda.
Baca juga: Vaksin Booster Jadi Syarat Mudik, Ini 4 Manfaatnya untuk Menangkal Virus Covid-19
Baca juga: 5 Gejala dan Cara Mencegah Tertular Covid-19 Omicron, 2 Masker Ini Efektif Halau Virus Omicron
"Ketika satu kuda terpapar, virus di kotorannya ini bisa bertahan empat hari dan itu menyebabkan kenapa pentingnya pembersihan peternakan dilakuan setiap hari," terang Dicky, dikutip dari kompas.com.
Kabar baiknya, virus hendra dapat dicegah dengan pemberian vaksin pada hewan.
Sehingga hewan yang rentan seperti kuda, dapat divaksinasi untuk mencegah maupun mengurangi jumlah virus dalam tubuhnya.
"Tentunya sebagai tindakan pencegahan, harus meningkatkan surveillance terutama flying fox ini kan bisa bermigrasi dan melihat bagaimana pola migrasinya. Itu yang saya kira Indonesia masih harus meningkatkan itu (surveillance) karena masih banyak penyakit hewan yang berpotensi mewabah di manusia," jelasnya.
.
.
.
(TRIBUNBATAM.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/hiv_20170728_105457.jpg)